**/ Cerita Ida : Bocah Malang Itu

blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

18 Jun 2012

Bocah Malang Itu

Cimahi, 7 Maret 2012

Bismillah,

Hari masih pagi, semburat cahaya sang mentari membuat suasana menjadi ceria dan hangat. Kesibukan di laundry Cekas sudah mulai, terasa begitu ramai.  Satu demi satu pegawai berdatangan. Aku bolak balik menyiapkan uang kecil untuk kembalian. Samar-samar terdengar suara anak kecil menangis minta digendong. Aku tak terlalu memperdulikan, sibuk mencari uang recehan. 

Semakin lama tangisan semakin terdengar, membuntuti. Tersadar, akhirnya aku berbalik arah. Kulihat sesosok batita usia setahunan menangis menjulurkan tangan ingin kugendong. Aku berjongkok, "Mau digendong Umi?" Kataku sambil segera menggendongnya. Ajaib si anak langsung terdiam. Dipipinya masih mengalir sisa air mata tangisannya. Segera aku ke depan mencari tahu anak siapa gerangan ini. Tampak seorang ibu, masih tetangga jauhku, pernah ngobrol sewaktu sama-sama belanja di warung.

"Ibu, ini putranya?" Tanyaku
"Bukan, anak tetangga, saya yang bawa" Katanya sambil tersenyum
"Sini De..." Katanya

Si anak menjauh, enggan digendongnya. Kami tertawa. Ya sudah, kubawa anak itu hilir mudik mempersiapkan segala sesuatu. Sementara si Ibu masih di depan menanti karpet laundriannya di packing.

Aku kedepan lagi. Karena sudah akan pulang, si ibu bermaksud mengambil anak itu kembali. Kembali ia menolak.
"Anak siapa ini Bu ?" tanyaku penasaran
"Anak bu Erni Salon" Katanya menyebut tetanggaku pemilik salon di ujung jalan.
"Anak angkat, anak yatim  Bu, dulu waktu bayi  di telantarkan, tak ada yang mau mengurusi. Akhirnya Bu Erni mengangkatnya menjadi anak, sekarang  Bu Erninya lagi istirahat, lemes katanya. Habis di operasi kanker payudara, karena kasihan makanya aku asuh dulu." Katanya panjang lebar. 

Aku menatapnya, kagum juga. Aku tahu ibu itu hampir setahun yang lalu melahirkan anak yang kelimanya. Anaknya masih kecil-kecil, tapi mau direpotin mengurus anak yatim ini. Perasaan kasihan ke anak ini tiba-tiba menjalari relungku, terutama mendengar bahwa anak kecil ini sudah yatim.

"Yo pulang..." katanya lagi.
Anak itu makin enggan, malah terus memelukku. Aku tertawa.
"Ya sudah, main disini aja dulu dedenya ya, ibu bawa pulang karpetnya dulu, repot nanti bawanya" kataku.
"Engga ah... sudah biasa kok" katanya
Tiba-tiba Maghfira bungsuku yang sudah berusia empat tahun, menangis. Ingin kugendong juga. Rupanya ia merasa cemburu, uminya menggendong anak lain. Aku bingung. 
"Wah... tuuh kakaknya nangis..., udah ya nanti main sama umi lagi" kataku. Si anak tetap tak mau. Tangisan Maghfira makin keras. Pegawaiku berusaha mengambil si anak itu dari gendonganku. Tetep anak itu tidak mau. Akhirnya aku ke dalam, dibuntuti Maghfira yang terus menangis. Kuberikan anak itu sama abinya yang sedang duduk di depan komputer, alhamdulillah mau. Maghfira pun terdiam.

Beberapa saat kemudian kembali aku ambil anak itu, Maghfira diambil abinya. Aku menuju si ibu tadi lagi di depan. Si Anak tetap tak mau. Bingung, dipaksa malah nangis. Bu Nani pegawaiku berinisiatif memberinya kue onde, kebetulan di depan ada si Mbok penjaja kue keliling. Bu Nani mengambil anak itu, alhamdulillah tidak menolak. Diberikannya anak itu pada ibu tetanggaku tadi. Si anak kembali nangis, dan menjulurkan tangannya kearahku.... Mi...Mi....katanya. Akhirnya si anak dibawa ibu itu dalam tangisan.

Aku kemudian menceritakan kisah bocah malang itu pada abinya. 
"Umi mau mengasuh anak itu gitu?" Tanya si Abi.
Aku terdiam. Ragu. Anakku pun sudah cukup banyak, masih kecil-kecil, masih suka berebut perhatian. "Mending bikin lagi" canda si abi. Wew.... aku tertawa kecil.
"Maghfira mau punya Dede..?" tanyaku
Maghfira yang ada disampingku menggeleng. Tidak setuju rupanya...hihi

Hari pun beranjak siang. Aku kembali sibuk mempersiapkan keberangkatanku ke sebuah bank di Bandung. Sosok anak itu pun perlahan lenyap dari bayanganku ditelan kesibukanku.

Semoga engkau mendapat hak mu ya Nak, dirawat dan dididik dengan baik, oleh orang-orang yang menyayangimu...... Semoga saja. Aamiin Allohumma Aamiin.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^