15 Nov 2012

Mengutamakan Pelanggan


“Tinggal disentuh aja De…” Ujar perempuan muda itu sambil tersenyum ramah.  Aku hanya tersenyum, senang sekali melihat keramahan pegawai kasir itu.  Penasaran apa yang tinggal disentuh itu, aku pun memperhatikan layar monitor yang diset menghadap ke konsumen, anakku sedang asyik memperhatikan layar itu.  Ternyata di layar tertulis dua pilihan, ada kata  "Puas"  sebelahnya lagi ada kata  "Tidak Puas".  Ternyata Alfamart menyediakan opsi itu untuk mengetahui kepuasan para pelanggannya.  “Wah keren juga ni Alfamart, begitu memperhatikan pelanggannya”  pikirku saat itu.

Memang kalau aku perhatikan pelayanan Alfamart semakin hari semakin baik.  Aku sudah lama menjadi pelanggan Alfamart lebih dari sepuluh tahun kukira, dan menjadi menjadi member Alfamart dari tahun 2007 an kalau ga salah.  Mengapa selalu belanja di Alfamart ? Tentu saja karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki Alfamart.  Terlebih setelah menjadi member dan memiliki kartu Aku semakin banyaklah manfaat yang kuperoleh misalnya saja dengan menjadi member aku memperoleh discount khusus member untuk produk – produk tertentu, selain itu dengan menjadi member aku bisa sering berkesempatan memenangkan berbagai undian yang memang sangat sering diadakan oleh Alfamart. 

Bukan ingin dihormati, tapi semua orang senang pasti kalau dilayani dengan ramah.  Keramahan itulah yang aku dapatkan di Alfamart.  Setiap kita masuk pegawainya langsung menyapa kita dengan kata – kata sambutan “Selamat datang.  Selamat belanja di Alfamart".  Hmmm asyikkan ? Bukan itu saja, belanja di Alfamart terasa nyaman sekali, selain tempat yang adem dan penataan barang yang teratur sehingga tidak menyulitkan pelanggan untuk mencari barang yang diperlukan juga kita bebas bergerak tanpa terusik pegawai yang menguntit atau tatapan curiga para pegawainya.

Ada lagi yang membuatku tidak bisa berpaling ke lain hati. Sebagai ibu yang memiliki lima anak, tiap bulan keluargaku memerlukan banyak sekali susu baik untukku atau pun untuk anak-anak.  Itu membuatku harus sering bolak balik belanja  karena persediaan susu habis.  Untuk belanja langsung banyak, agak sungkan juga selain terasa agak berat, aku kan bukan karyawan yang mendapat gaji bulanan tetap tiap awal bulan.  Dengan belanja di Alfamart selain lokasi yang dekat aku dapat menghemat lumayan besar karena harga produk susu di Alfamart lebih murah ternyata.


Beberapa bulan yang lalu aku bisa mendapatkan beberapa liontin Hello Kitty lho, semua itu kudapatkan dengan mengumpulkan poin yang diberikan saat belanja di Alfamart. Wah anak-anakku senang sekali, terutama anak-anak yang perempuan karena mereka senang sekali dengan pernak pernik Hello Kitty yang memang lucu. Jadinya mereka sering merengek, "Ayo dong belanja lagi... biar Hello Kitty nya tambah banyak..." Hal-hal seperti ini sering aku dapatkan di Alfamart yang tidak dapat kutemui di minimarket lain. Selain itu aku sering mendapatkan produk-produk gratis ketika ada promo di Alfamart misalnya dapat susu gratis ketika beli susu, mendapat sebotol besar air mineral saat beli roti, dapat cemilan ketika beli produk tertentu, hanya di Alfamart dan menjadi membernya lah aku mendapatkan semua itu.


Banyak sekali kan kelebihan dan manfaat yang aku peroleh dengan menjadi member di Alfamart?  Makanya aku enggak heran kalau member Alfamart mencapai 3,5 juta di tahun 2011 kemarin. Aku merasakan sendiri kok enaknya jadi member, tentu kelebihan – kelebihan Alfamart inilah yang membuat begitu banyak orang yang tertarik menjadi member Alfamart. O ya, aku mendapat informasi juga kalau ternyata Alfamart itu terpilih lima kali berturut-turut sebagai minimarket terbaik versi Indonesia Best Brand Award (IBBA)-Majalah SWA sembada. Survey IBBA mencatat Alfamart di urutan teratas katagori minimarket.


Menjadi member Alfamart pun sangat mudah, aku tinggal mengisi formulir yang mereka berikan dan mengisinya dengan lengkap dan benar, kalau ga salah sih waktu itu aku harus mengisi Nomor Identitas bisa KTP/SIM/Kartu pelajar, No Telp/Hp, Tanggal Lahir dan Jenis Kelamin.  Waktu aku mendaftar dulu  biayanya sepuluh ribu rupiah dan waktu itu karena sedang promo ulang tahun Alfamart aku juga mendapat hadiah mug , kalau sekarang biayanya lima belas ribu rupiah, jumlah yang tidak seberapa dibanding manfaat yang bisa kuperoleh setelah menjadi member.


Informasi program khusus member sering kudapatkan dari brosur yang dikirim langsung ke rumah-rumah oleh pegawai Alfamart, hal ini memudahkanku untuk memperoleh informasi terkini tentang kesempatan-kesempatan yang bisa diraih karena menjadi member, seperti produk-produk yang sedang discount, kalender belanja, hadiah-hadiah dan lainnya.

Segala sesuatu terkait tentang Alfamart  bisa juga aku peroleh dengan mudah. Misalnya saja tentang promo, layanan, member, waralaba dan lain sebagainya
 
Keren ya Alfamart itu ..!! Aku sudahmenjadi member dan mendapat banyak manfaat karenanya, bagaimana dengan dirimu teman ?

12 Nov 2012

Tak Seindah Harapan


“Ida, kenapa pipimu terluka?”  Tanya ibuku dengan nada khawatir.  Aku terkejut karena tidak merasa sakit sedikit pun. Segera aku bercermin, olala.. pantas saja ibuku bertanya seperti itu.  Di dekat daguku ada garis merah memanjang.  Ingatanku langsung tertuju pada pengalaman tadi pagi di sekolah, saat guruku memeriksa tulisanku.  Begitu melihat tulisanku langsung saja umpatan panjang lebar keluar dari mulutnya, terlihat kesal, kemudian bu guru mencoretkan pena  bertinta merah  yang sedang dipegangnya di pipi bawahku.  Aku tahu tulisanku memang kotor bekas menghapus tulisanku yang salah, tapi aku sudah berusaha semampuku.

Itulah pengalaman hari-hari pertama aku duduk di kelas satu sekolah  dasar.  Pengalaman yang terekam terus hingga aku dewasa hingga memiliki anak lima sekarang ini.  Ah bu guru itu tentu bermaksud baik, ia ingin tulisanku rapi dan bersih.Tapi aku kecil tidak memahami itu, yang aku kecil pahami ibu guru marah, dan menorehkan tinta merah di pipiku sekaligus menorehkan kenangan tak manis tentang sekolah dalam ingatanku.

Dan kini, ketika aku ingin membuat tulisan bertema guruku pahlawanku,aku merasa agak kesulitan.  Saat-saat sekolahku dulu memang tidak terlalu menyenangkan. Tidak ada jejak yang terpatri sosok guru yang menjadi pahlawanku.  Hanya saat SMA aku memang tergila-gila kepada seorang guru tapi bukan karena ia menjadi pahlawanku dan memberi inspirasi  dalam kehidupanku, tapi lebih karena ia tampan dan penuh perhatian, hingga aku pun jatuh hati padanya… hahaha… atau mungkin saat taman kanak-kanak, kenanganku selalu manis tentang kebaikan dan kepedulian guru-guru TK ku.

Bukan berarti aku tidak mensyukuri jasa guru-guruku dari semenjak SD sampai kuliah, pasti banyak dan tak terbayarkan dengan pembayaran SPP tiap bulan orang tuaku. Hingga aku bisa lulus kuliah, disana banyak peran guru-guruku, tapi kenangan negatif yang menyertainya seolah menghapus segala jasanya, seperti kata pepatah nila setitik rusak susu sebelanga. 

Pengabdian yang tidak sepenuh hati mungkin itu salah satu sebabnya.  Aku kecil, yang sekolah di sebuah sekolah dasar favorit merasakan sedikit ketidak adilan dan kecemburuan sosial yang berdampak hingga aku dewasa. 

Teman-temanku hampir semua berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Hampir setiap usai liburan teman-temanku bercerita tentang pengalamannya jalan-jalan ke luar negeri, ada yang ke Belanda, Hongkong , Singapura dan sebagainya. Sedangkan aku bisa masuk ke sekolah mahal itu karena kebetulan ibuku bekerja disana sebagai tenaga administrasi.

Ketika kenaikan kelas teman-temanku beramai-ramai memberikan kado yang bagus untuk guru-guru di sekolah.  Guru – guru memang tidak meminta tetapi pemberian itu berdampak pada rangking di sekolah. Aku yang tidak pernah memberi sesuatu akhirnya terkena imbasnya. Aku pun tidak pernah merasakan masuk rangking tiga besar di sekolah dasar.  Aku merasakan ketidak adilan karena nilai-nilaiku selalu besar-besar dan tidak kalah dengan teman-temanku yang juara.  Kepala Sekolahku pernah berucap pada ibuku yang juga temannya “Coba kalau Ida di SD II (sekolah Siang), pasti juara”….

Lain dulu lain sekarang,  saat ini aku menemukan sosok – sosok guru ideal di sekolah anak-anakku.  Tidak semua memang.  Tapi aku melihat perhatian yang besar akan tumbuh kembang anak-anak didiknya di setiap laporan perkembangan anak didik dan di setiap pertemuan forum kelas  yang diadakan sebulan sekali. 

Sekolah itu memberikan waktu setengah jam untuk setiap orang tua di setiap konsultasi pemberian laporan anak didiknya. Terlihat mereka mengetahui betul detail perkembangan anak-anak kita. Aku pun tidak pernah mendengar keluhan dari mulut anak-anakku tentang ‘kenakalan’ guru-gurunya. Yang ada cerita menarik dan gaya bercerita guru yang mereka tiru ketika di rumah. Merekalah guru-guru yang selalu ada di hati anak-anakku, mungkin kelak bila mereka telah paham, mereka akan menjadikan sosok gurunya sebagai pahlawan dalam hidupnya.


Guru-guru, orang tua dan siswa yang selalu akrab. Sebuah hubungan yang harmonis dan menyenangkan
Namun anak sulungku  yang duduk di sebuah sekolah menengah RSBI masih mengalami saat-saat yang tidak menyenangkan di sekolah. Mulai dari perbedaan dari anak yang les dengan tidak les sampai menemukan guru yang streng, yang setiap jawaban soal harus sesuai  dengan versi dia yang memang sudah sangat senior di bidangnya. Hingga anakku yang sebetulnya dulu menyukai pelajaran tersebut menjadi agak kesulitan dengan mata pelajaran tersebut.  Dari mulutnya sering keluar ungkapan “enak ya yang duduk di kelas a,b,c,d guru pelajaran anunya bu ini… jadi nyenengin banget…”

Ah memang guru juga hanya manusia biasa, yang bisa saja salah dalam melangkah.  Namun untuk menjadi guru yang memanusiakan manusia memang diperlukan kesungguhan dan usaha sepenuh hati untuk mendidik anak-anak didiknya.  Sesuatu yang berasal dari hati akan masuk ke dalam hati.  Menjadi guru yang menjadi pahlawan bagi anak didiknya memerlukan keterikatan yang utuh, yang tidak hanya sebatas gugur kewajiban mengajar mereka karena tuntutan sebuah profesi bernama guru. 

Mendidik dengan hati, dengan tanggung jawab besar mengemban amanah menyiapkan generasi peneruslah yang akan menghadirkan sosok-sosok guru yang tidak hanya menjadi pahlawan karena jasanya, tetapi menjadikan mereka sebagai pahlawan di hati anak-anak didiknya karena keberadaannya yang dekat dan mengayomi.

Metode mendidik pun perlu diperhatikan, jangan sampai ketika guru tidak hadir atau ketika liburan tiba anak-anak bersorak riang gembira. Guru yang baik, yang menyenangkan akan membuat anak didiknya senang belajar dan haus akan ilmu. Mereka akan selalu dirindukan kehadirannya.

Sebuah PR untuk negeri ini menghadirkan sosok-sosok guru yang dirindukan anak didiknya, yang menjadi pahlawan di hati-hati mereka.  Barang siapa menanam dia akan menuai.  Percayalah menjadi guru dengan sepenuh hati akan berimbas pada guru tersebut, Sang Maha Pencipta yang Maha Adil tak akan membiarkan makhluk yang sangat berjasa menciptakan manusia-manusia yang akan membangun bangsa yang tengah terpuruk ini. Paling tidak atau minimalnya hati damai karena telah menanam sebuah kebaikan dengan penuh keikhlasan.  Pahala yang berlipat ganda pun menantinya untuk bekal perjalannya di akhirat nanti.


Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes “Guruku, Pahlawanku” yang diadakan oleh Gerakan Indonesia Berkibar.  Gerakan Indonesia Berkibar adalah sebuah gerakan nasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui perbaikan kualitas guru dan sekolah.