14 Des 2013

Mengapa Tak Kutinggalkan? Karena Aku Bahagia Ada Di Sini

Cimahi, 14 Desember 2013

Bismillah,

Tergelitik dengan sebuah pertanyaan yang isinya kurang lebih "Kalau niatnya untuk mencari ridla Allah kenapa yang dulu kau tinggalkan?"  Walau pertanyaannya tidak ditujukan khusus untukku, tetapi aku yang pernah meninggalkan sesuatu tentu saja tergelitik untuk menjawabnya.

Kenapa aku disini sekarang?  Bertahan lebih dari tujuh belas tahun, sementara yang dulu aku hanya 'kuat' dua tiga tahun saja. Mengapa diriku kuat selama itu ada di sini? Padahal aku muda dulu sering loncat sana loncat sini? Mencari apa yang ingin kudapati.

Disini bersama wajah wajah teduh, kalian saudaraku yang saling menguatkan saling mengingatkan.  Memutabaah amal harianku, mengingatkan untuk selalu ikhlas beramal, mengingat tempat kepulangan kita yang abadi. Biarlah orang lain berteriak sesuai keinginannya. Tak kenal maka tak sayang...

Aku bahagia di sini teman.... Biarlah ini menjadi tempat akhir perjuanganku. Aku senang di sini. Selalu tertantang untuk membersihkan hati, meluruskan niat, selalu... bila tidak mudah tergelincir nanti.

Bukankah zaman rasulullah dulu saat perang penuh dengan iming iming ghanimah yang menggiurkan ?  Bukankah zaman rasulullah dulu para sahabat banyak mengorbankan hartanya untuk berperang ?

Kalau sekadar berkumpul, mengaji, mengkaji ilmu yang begitu sistematis dan terarah, saling menguatkan, saling mengingatkan itu sudah dan sedang kami alami.  Aplikasi dari apa itu ikhlas, apa itu jihad itu tuntutan yang kami hadapi sekarang...

Banyak onak dan duri, banyak yang tumbang, ada yang terlena, ada yang terperosok.  Itulah perjuangan yang menuntut kita untuk segera bangkit kembali dari keterlenaan.  Karena itulah hakikat perjuangan, penuh dengan tantangan.

Kalau kami boleh memilih tentulah kami lebih senang saat dulu kami mengawali, tapi itu hanya teori saja tak pernah kami teruji untuk mengaplikasikannya dalam realita kehidupan.

Kami berkumpul bersama dalam satu lingkaran tanpa saling berebutan untuk mendapatkan sebuah kursi duniawi yang menggiurkan dan melenakan.  Kami duduk bersama saling mengingatkan, saling menyemangati... Aih sebuah keindahan yang sulit aku temukan di tempat yang lain.

Wajah wajah itu, yang berkorban waktu dan tenaga serta harta untuk sesuatu yang tak mungkin ia dapatkan karena ia tidak berkesempatan..... wajah wajah penuh keikhlasan... untuk Indonesia yang lebih baik.  

Teman..., aku bahagia disini...... Bersama saling menguatkan memerangi musuh dalam diri maupun musuh yang nyata yang tidak menyukai kejayaan Islam...

Kalau kau katakan HT itu sistem melawan sistem, kenapa saat dulu ribut RUU Ormas mereka datang sowan kepada kami untuk bahasa halusnya minta tolong agar kami berjuang untuk menolak RUU yang akan menghasilkan rezim yang represif...

Teman, ada sini membuat kami lebih berarti... lebih berguna untuk masyarakat, tidak untuk diri sendiri, jangan bersuuzon dengan niat niat duniawi karena niat adalah amalan hati.... Ribuan dari kami turut berjuang untuk menghantarkan satu dua orang dari kami yang terbaik.....

Di sini memang kami sering babak belur, banyak yang terpeleset, tapi itulah hakikat perjuangan, penuh onak duri, kami harus selalu menjaga hati, harus selalu bertarbiyah dzatiyah...... 

Kalau hanya duduk melingkar mengkaji dan mengkaji tidak ada aplikasi apalah artinya.  Bukankah sebaik baiknya manusia adalah yang paling banyak kemanfaatan untuk orang lain....

Teman kalau kau katakan demokrasi adalah produk kafir yang haram, engkau harus membaca ini http://harakatuna.wordpress.com/2008/10/22/berpartai-adakah-contohnya-dari-nabi/.

Untuk teman temanku... fastabiqul khoirut lebih baik, daripada mencaci...  Karena kami mempunyai hujjah yang akan kami pertanggung jawabkan di akhirat nanti, kau pun memiliki hujjah... bukan?  Saling menghormatilah... Bukankah sebaik baiknya bekal untuk akhirat nanti hanyalah TAQWA.?

13 Des 2013

Anak Bungsu, Memang Bedakah ?

Cimahi,  13 Desember 2013

Bismillah,

Ada yang berbeda di acara arisan hari itu, sepulangnya acara itu aku jadi banyak berpikir tentang anak bungsu.  Bukan tanpa alasan, saat acara arisan temanku bercerita tentang anak bungsunya yang mogok tidak mau melanjutkan sekolah. Si bungsu lebih suka ikut mamanya kemana mamanya pergi.  Usianya menjelang empat tahun, lucu, tidak gemuk tapi berisi, putih, wajahnya tampan rupawan.

Aku jadi teringat pada bungsuku Maghfira Aulia Amatullah yang biasa kupanggil Maghfi, bungsuku yang 7 Desember kemarin tepat berusia enam tahun.  Dua kali mengalami pengalaman yang sama, mogok sekolah, sesuatu yang tak pernah terjadi pada keempat kakak-kakaknya. Bukan hanya masalah biaya, pikiranku pun cukup tersedot dengan masalah ini.  Hal sama juga terjadi pada bungsu seorang temanku yang lain, sering malas malasan pergi sekolah. 

Pertama kali kami memutuskan Maghfi sekolah karena keinginan Maghfi yang setiap hari merengek ingin sekolah.  Akhirnya dengan pertimbangan dekat dan sudah punya pengalaman dengan sekolah itu karena ketiga kakaknya pernah sekolah di sana, akhirnya kami memutuskan memilih sekolah tersebut.  Sejak awal Maghfi selalu ingin ditemani, ditunggui terus menerus.  Ketika berhasil dilepas, aku mendapat laporan Maghfi menangis.  Ternyata setelah ditelusuri Maghfi ketakutan terhadap kata kata bu guru yang mengatakan yang bisa jawab boleh pulang.  

Dalam benaknya terpikirkan yang tidak bisa berarti engga boleh pulang...hihi... pemikiran lugu anak anak tapi harus menjadi pelajaran pada gurunya untuk hati hati dalam memilih kata.  Kali yang lain, Maghfi ribut masalah kuku, setiap mau pergi sekolah ia ribut kukunya, sudah pendek atau masih panjang.  Ternyata ia pernah ditegur karena kukunya panjang.  

Maghfi mogok.  Tidak mau sekolah.  Akhirnya kami memutuskan mencari sekolah yang lain.  Aku menemukan sebuah sekolah kecil, sekolah rintisan dari sekolah besar.  Pemiliknya seorang kristiani konsultan sekolah sekolah yang konon memiliki reputasi yang bagus.

Hasilnya sama saja, Maghfi selalu merasa tidak nyaman. Ingin ditemani, sekolah berkonsultasi dengan sang guru yang juga pemilik sekolah tersebut akhirnya aku harus membiarkan Maghfi menjerit jerit nangis setiap kutinggalkan sekolah.  Seminggu semua itu kami lalui.  Setiap hari ada saja janji yang harus kuberikan padanya, agar mau berangkat sekolah, beli sepatu lah, beli baju lah, mainan dan sebagainya.
Aku tahu Maghfi kesulitan mendobrak zona nyaman yang ia rasakan selama ini. Tidak bisa kupungkiri si bungsu memang mendapat perhatian yang lebih dari orang tuanya.  Bukan karena kami pilih kasih tapi itu lah yang terjadi.  Bungsuku memang memiliki waktu lebih banyak untuk mendapat perhatian daripada kakaknya.  Bagaimana tidak,  kalau kakak kakaknya dua atau tiga tahun sudah mendapat 'saingan' adik baru, sehingga perhatiannya terbagi. Sementara si bungsu tidak mendapat saingan lain bahkan kakaknya pun turut memberikan perhatian pula.

Kami orang tunya harus mendobrak hal itu. Harus mencari sekolah yang membuatnya merasa nyaman hingga bisa sedikit melupakan kenyamanannya di rumah.  Alhamdulillah akhirnya kami menemukan sebuah 'sekolah' yang cocok untuknya.  

Sebetulnya awalnya kami masih merasa sedikit ragu, karena sekolah yang dipilihnya berbeda dengan yang lainnya.  Juga level sekolah yang di atas usianya.  Ketika Maghfi masuk usianya masih 5 tahun 7 bulan padahal sekolahnya level SD. 

Tapi memang ajaib sih, hari pertama saja Maghfi sudah bisa kulepas setelah lima belas menit menunggu.  Hari kedua sempat mogok, tapi dengan sedikit ancaman akhirnya ia mau sekolah. Ketika di sekolah baru lima menit nunggu, aku sudah 'diusir' nya untuk pulang padahal sebelumnya ia wanti -wanti minta ditunggui.

Setiap hari pun Maghfi terlihat semangat untuk sekolah.  Pulang sekolah selalu tertidur, satu dua jam dia terbangun, kemudian yang ditanyanya besok hari apa? Pakai seragam apa? Kemudian dia menyiapkan bajunya untuk besok, terkadang ia mencuci kaos kakinya kalau terlihat kotor.

Keraguan menyekolahkannya terlalu dini terhapus sedikit demi sedikit melihat dia enjoy. Aku mendengar kalau menyekolahkan terlalu dini nanti anak bosan dan mogok di tengah jalan.  Mudah- mudahan tidak untuk Maghfi, mengingat sekolahannya yang homescholling grup yang tidak seperti sekolah biasa.  Sampai sekarang Maghfi belum diajarkan membaca dan menulis karena menurut gurunya sebelum usia tujuh tahun anak fokus mengoptimalkan kemampuan pendengarannya.

Seperti kakaknya Fathiya yang bisa membaca secara mandiri, Maghfi juga terlihat seperti itu, walau belum pede untuk membaca.  Kerajinannya belajar membuat ia terlihat sebetulnya sudah bisa membaca.  Ia sudah bisa menulis seperti ini misalnya: Cita citaku jadi penulis, Umi aku penulis, kaka aku penulis. Jadi aku mau jadi penulis.  Atau disaat lain dia menulis cerita tentang sesuatu yang ujung- ujungnya entah inspirasi darimana selalu ada cerita ayam mati... hehe... 

So far so good.... mudah-mudahan semua lancar selalu ya sayang....

1 Jun 2013

Cikalku Suka Musik ?

Cimahi, 1 Juni 2013

Bismillah,

Saya sebenarnya bukan penikmat musik, meski saya suka sedikit bersenandung.  Seperti hobi menulis, yang baru sadari setelah memiliki anak lima hobi bersenandung pun baru saya sadari sepekan terakhir.  Saya memang terlahir dari orang tua yang sibuk, tapi saya tahu mereka sibuk untuk anak-anaknya.  Jadi wajar kalau saya memang termasuk orang yang agak terlambat memahami diri, saat kuliah seorang dosen menanyakan apa hobiku, saya gelagapan.. baru tersadar kalau saya tak memiliki hobi selain membaca yang itu pun tidak bisa dikatakan kutu buku.

Belajar dari pengalaman masa kecilku, tanpa mengurangi rasa hormatku pada kedua orang tuaku tercinta yang telah membesarkanku hingga bisa seperti ini dalam arti saya menjadi orang baik-baik yang takut pada Tuhannya. Saya ingin menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Hingga saat hamil pertama saya banyak membaca buku tentang kehamilan dan mendidik anak sejak dalam kandungan.  Bertanya pada seorang ustadz tentang bagaimana memperdengarkan musik klasik ketika dalam kandungan membuat saya mengambil keputusan untuk memperdengarkan musik klasik selain tentu saja lantunan ayat suci al qur'an.

Mungkin inilah yang membuat cikalku menjadi penikmat musik, terutama musik klasik. Itulah mengapa kalimat pertama tulisan ini tentang musik. Saya ingin berbicara tentang musik. Sejak masih duduk di Sekolah Dasar dulu cikalku selalu ribut ingin les biola lah, piano lah  gitarlah... seputar musik.Seiring waktu berjalan akhirnya piano lah yang kami pilih. Ternyata memang benar dia serius, hampir empat tahun berselang cikalku tak pernah mogok atau ada keinginan untuk berhenti, bahkan kian hari bertambah semangat saja.

Sebenarnya saya dan abinya merasa pusing kalau mendengarkan cikalku latihan. Kami memang bukan penikmat musik. Cikalku pernah menangis karena dilarang latihan oleh abinya. Dentingan suara piano yang indah ternyata terasa begitu memekakkan telinga kami. 

Cikalku memang pintar, meski agak lemah dalam matematika. Meski lemah tapi NEM matematikannya 8 lebih, tapi itu nilai terkecil dalam NEMnya. Lalu kenapa kukatakan lemah..? Dia jauh lebih pintar matematika dari uminya... oh tidak matematikanya tidak lemah ternyata .... *ngelantur. Keinginanku sederhana saja, saya ingin kemampuan musiknya itu bermanfaat untuknya kelak setidaknya menjadi guru kelak saat kuliah di luar negeri nanti.

Cikalku bercita-cita untuk kuliah di luar negeri.  Dalam pikiran sederhanaku, daripada dia nanti bekerja di restoran menjadi tukang cuci sambil kuliah seperti para mahasiswa Indonesia di luar sana, lebih baik dia menjadi guru piano saja...*menghayal.

Kecerdasan intrapersonal cikalku memang baik. Dia sudah bisa memahami dirinya apa yang dia mau dan ingin menjadi apa selain menjadi penulis.  Semua sudah jelas baginya, tinggal berusaha dan berdo'a tentu saja.

Kembali pada musik.  Sebenarnya saya khawatir, karena musik bisa mengendorkan ruhiyahnya.  Meski dia masih suka ikut les hapalan qur'an, tetap saja saya merasa khawatir. Saya pernah berdiskusi dengannya tentang ini, katanya musik itu passionnya.  Kenapa tidak kau ubah saja passionmu itu Nak *maksa.


Sejauh ini baik-baik saja, dia masih ingin liqo, masih semangat ikut Lingkar Sahabat nya Karisma Salman, masih semangat menambah hapalan al Qur'annya. Masih menjadi putriku yang sholehah yang baik hati dan tidak sombong, juga rajin menabung... Baiklah..Nak.  kita lihat saja seperti apa... sejauh ini, tidak apa-apa ternyata.  Mungkin tulisan ini hanya kegalauan umi saja.....




19 Mei 2013

Hmmm.... begini nih prilaku para Anggota Dewan yang terhormat...

Cimahi, 19 Mei 2013

Bismillah......

Kami berdua memasuki kafe itu, suasana pagi masih sangat terasa, udara masih sejuk, pengungjung kafe belum terlihat seorang pun. Tampak para pegawai kafe sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.  Tidak ada tanda-tanda acara talkshow membuat kami bertanya pada salah satu pegawai kafe yang kami temui.  Ternyata acara talkshow berlangsung di lantai dua.  

"Teh... saya mau laporan dulu ya..." kata temanku.  Aku hanya mengangguk heran, sambil mengikuti langkah kakinya.  Temanku bertanya pada seorang pelayan di kafe itu apakah ada mushola di kafe itu. Olala... ternyata yang dimaksud laporan oleh temanku itu adalah Sholat Dhuha.  Memang kami berangkat agak terlalu pagi, menghindari jalur three in one yang berlaku di atas jam 08.00.  Aku pun yang tak sempat sholat dhuha di rumah, akhirnya ikut juga.

Tersirat rasa kagum menjalari tubuhku.  Aku saja yang kesehariannya banyak bergaul dengan teman-teman sevisi misi, kalau tak sempat sholat dhuha... ya sudah terlewat begitu saja.  Sementara temanku... seorang aleg kota Cimahi, masih bisa memelihara sholat dhuhanya dengan baik dimana pun berada.  Aku ingat temanku sempat menghilang di sebuah acara undangan di PUSDAI ketika kutanya pada temanku yang lain ternyata beliau sedang sholat dhuha.  Pun demikian ketika sholat Dzuhur tiba, aku jadi tahu temanku sangat menjaga rowatibnya, qobla dan bada beliau kerjakan... Kelebihannya sekarang, ketika pulang aku ditraktirnya makan di kafe... hehehe

Kenapa aku begitu kagum.... kan itu amalan sunah biasa saja?  Aku kagum karena dia seorang aleg.  Aku tahu betul bagaimana beratnya perjuangan ruhiah menjadi seorang aleg.  "Berdakwah di dunia penuh tipu daya..." Begitu sebuah judul artikel di REPUBLIKA beberapa tahun yang lalu.  Artikel yang bercerita tentang perjuangan suamiku di Parlemen beberapa tahun yang lalu.

Aku tahu betul bagaimana beratnya menjaga ruhiah di dunia yang berseliweran uang-uang tak jelas.  Uang-uang haram yang membuat hati jadi keruh dan jauh dari Allah. Hanya orang yang pandai menata diri, menjaga diri dan hatinya bisa terselamatkan dari tipu daya yang memperdayakan.

Aku ingat seorang aleg kota Cimahi, yang sekarang menjadi aleg di provinsi pernah bercerita... Suatu ketika komisi dimana beliau di tempatkan melakukan kunjungan kerja. Beliau di tempatkan sekamar dengan aleg dari partai yang berbeda.  Berhubung ada keperluan beliau berniat pulang ke rumahnya.  Namun di tengah jalan dia berbalik lagi ke hotel dan hendak ke kamarnya.  Alangkah terkejutnya beliau, ketika pintu terbuka, ternyata temannya yang nota bene tukang ceramah jum'at membawa perempuan yang bukan muhrimnya ke kamar hotel...  Na'udzubillah...

Suamiku juga pernah bercerita, disela-sela kunjungan kunjungan kerja memang banyak waktu luang, ini dimanfaatkan oleh teman-temannya dari partai lain untuk bermain di klub malam.  Ada fitnah disana, tersiar kabar seorang aleg menulis nama ustadz kami yang tidak bisa ikut kunker di buku tamu klab malam itu... hiii ngeri.... Sementara temanku satu halaqoh ada juga yang anggota dewan, katanya memanfaatkan waktu luang itu untuk tilawah, tak heran satu pekannya temanku bisa sampai belasan juz.. Subhanalloh.. saya saja yang ibu rumah tangga biasa plus sedikit berwiraswasta di rumah tidak bisa sampai seperti itu....

Berjuang di tengah tipu daya memerlukan pengawalan ruhiyah yang tinggi dan anggota dewan PKS alhamdulillah mendapatkannya. Liqo pekanan yang mercharge ruhiah, selalu mereka dapakan. Dulu waktu zaman suamiku bertugas, konsolildasi dengan DPD selalu rutin dilaksanakan. Sehingga DPD dapat memantau kerja dewan dengan baik.  Strategi serta keputusan-keputusan fraksi selalu hasil syuro dengan jamaah.  Pun demikian apabila ada reses, dimana tiap anggota dewan mendapatkan sejumlah dana yang cukup besar, yang sangat berpotensi untuk diselewengkan, DPD dan fraksi atur bersama.  Dpra mana yang perlu kunjungan kami tanya pada ketua DPRA... boleh tanya ke masyarakat aleg mana yang suka turun ke masyarakat... tentu mereka menjawab aleg PKS.  Walaupun tentu saja tidak semua masyarakat dapat kami jangkau karena sedikitnya aleg kami.

Aku ingat suatu ketika beberapa hari menjelang hari raya Iedul Fitri, ada tamu mengetuk rumahku, seorang kurir membawa sebuah parcel.  Aku dimintai menandatanganinya.  Tanpa ba bi bu kuterima parcel itu, dan kutanda tangani tanda terimanya.  Kulihat isi parcel itu berisi buku-buku dan perangkat sholat, tertata indah.  Ingin segera kubuka, namun ada sisi hatiku yang lain melarangnya.  Selang beberapa lama suamiku menelepon dan berkata seandainya ada kiriman parcel jangan diterima, ada perintah dari DPD  "Waah terlanjur Bi..." Begitu kira-kira aku berkata. Untungnya belum sempat kubuka.  "Ya sudah nanti besok abi kembalikan..."  Betul saja besoknya si abi pun mengembalikan parcel yang ternyata kiriman seorang kepala dinas di Cimahi  Sebuah pengalaman yang membuat aku harus lebih berhati-hati.

Bukan berarti semua aleg dari partai lain jelek, bukan berarti pula Aleg kami bebas dari virus, ada beberapa juga yang terjungkal dan tak kuat menahan beban sehingga terbawa arus.  Akhirnya dengan berat hati jamaah memberi iqob atau hukuman yang sesuai, yang terberat dikeluarkan dari jamaah.

Seandainya semua masyarakat tahu, tujuan kami, niat kami dan langkah kami dalam bergerak tentu mereka akan berbondong-bondong turut bersama kami. Mereka yang memusuhi dan mencerca, itu karena ketidak tahuan mereka.  Tugas kita lah para kader untuk menebarkan cinta itu, dengan bekerja mewujudkan harmoni untuk Indonesia.

Untuk saudaraku yang terkecewakan dengan prilaku beberapa aleg di daerah atau pusat, kemudian mundur kebelakang dan hanya berkutat di sekitar liqo ke liqo.... Ada banyak masyarakat yang membutuhkan kerja-kerja kita di parlemen.  Seburuk-buruknya aleg kita yang katanya menjadi kaya dan tidak sederhana seperti dulu jauh lebih baik dari mereka yang tidak membawa misi visi ibadah yang jelas. Biarlah mereka dengan kekayaan mereka asal di dapat dari yang halal, dari gaji mereka yang besar... biarlah itu urusan mereka dengan Alloh SWT... tugas kita hanya mengingatkan, menerbarkan cinta dan terus bekerja untuk mewujudkan sepenggal firdaus di bumi Indonesia tercinta.......


9 Mei 2013

Kembali.......

Cimahi, 9 Mei 2013

Bismillah,

Mengapa postingan ini berjudul "Kembali.." ?  Entahlah... kata itulah yang tiba - tiba terlintas dalam benakku. Memaknai makna kembali yang beberapa bulan ini tergurat nyata dalam episode kehidupanku.  Kehidupan yang semakin kuyakini kefanaannya, kehidupan yang semakin kupahami tujuannya.  Semakin dewasakah aku?  Ah tentu saja harus... karena usiaku terus merangkak menjelang tua tentu saja ..... (hiks.... ada getar yang tak kupahami ketika kutulis kata ini ).

Kembali.... adalah sebuah kata yang kini bergelanjut manja dalam kehidupanku.  Membuatku harus memutar ulang episode kehidupanku.  Tak perlu kutulis apa yang terjadi dalam kurun waktu beberapa bulan ini.... biarlah semua terekam hanya dalam memoriku saja, biarlah sang waktu membuatnya lenyap tak berbekas atau mungkin akan tetap terekam indah dalam ingatanku... biarlah alam bawah sadarku yang akan memilahnya... 

Yang jelasnya siiih aku harus kembali MENULIS.....janji ya? ya? ya? ya ya ya... Hahaha....

*Postingan ga jelas menjemput pagi




18 Jan 2013

KEB...Tetaplah Selalu Berbagi

Cimahi, 18 Januari 2013

Bismillah,

Membuka akun fesbuk di siang hari ini dan taraaaaa.... berjejerlah postingan serempak untuk ulang tahun pertama  KEB, Masya  Allah... aku kok terlupa sih.... terlupa kalau hari ini tanggal 18 Januari.. hari istimewa untuk para emak blogger karena di hari ini lah tepat setahun yang lalu kumpulan para emak blogger ini berdiri.

Saya lupa kapan pertama kali  mengenal KEB (Kumpulan Emak Blogger) ini, yang jelas baru beberapa hari mengenalnya langsung ada acara kopdaran di Bandung tepatnya di City link tanggal 8 Juli 2012, langsung jatuh hati dan ingin mengikuti acara itu.  Meski kebat kebit karena engga ada teman dan engga ada yang ku kenal secara dekat akhirnya aku pun mengikuti acara itu..... dan ternyata aku sungguh beruntung bisa ikut acara itu....

Kenapa aku merasa beruntung?  Karena aku bisa mengenal lebih dekat dengan sosok-sosok luar biasa di belakang KEB, sosok perempuan keren, pintar dan kreatif. Ada Mak Mira Sahid yang cantik, pintar dan energik, ada Mak Indah Juli yang ramah dan baik hati, ada Mak Sari Melati yang pintar dan imut... ketemu juga sama beberapa blogger dari Bandung seperti Mak Nchie, Bang Aswi... dan banyak lagi deeh yang tak bisa kusebut satu persatu.

Pengalaman yang begitu berkesan... terlebih setelah lama bergabung di KEB banyak sekali undangan kegiatan menarik lainnya.  Sayang tempatnya selalu di Jakarta.... padahal di Bandung  aku agak susah untuk  bisa ikut,apalagi di Jakarta...hiks... aku cuman bisa mupeeeeeeeeng deh hehe...

Aku merasa beruntung bisa bergabung di klub keren ini.  Bisa memberi semangat untuk terus menulis itulah hal  utama yang aku rasakan.  Melihat postingan teman-teman di KEB yang terus mengalir sedikit banyak memcacuku untuk bisa seperti mereka...

Di ulang tahunnya yang pertama ini dari hati yang tulus aku mengucapkan SELAMAT ULANG TAHUN KEB semoga semakin sukses dan semakin banyak memberi manfaat untuk sesama.. Teruslah berbagi menebar manfaat untuk semua.  Aamiin Allohumma Aamiin.

Semoga kelak aku bisa ikut aktif di komunitas keren ini.... Aamiin Allohumma Aamiin.... (Hehe... do'a untuk pribadi ini mah.... ).  Hanya sempat menulis ini.... tapi tulisan mendadak ini bukti aku mencintai KEB....  ^_^


16 Jan 2013

What a Great Day !!!

Cimahi 16 Januari 2013

Bismillah,

Hujan yang mengguyur bumi sejak pagi mengawali hari, rupanya tidak menjadi halangan bagi para peserta Lokakarya Publikasi Kebumian, terbukti dengan penuhnya peserta di ruangan Auditorium Museum Geologi Bandung yang terletak di lantai dua.  Aku yang terlambat, tergesa masuk dan mencari kursi. Seorang perempuan bergamis hijau berbaik hati mempersilakan aku duduk disampingnya, belakangan kutahu ia bernama Ibu Iin seorang guru PGRI dari Rancaekek.

Dingin yang menjalari tubuhku memaksaku kembali beringsut walau baru saja tiba, di luar ruangan, aku membuat secangkir teh manis dan mengambil sebuah kue lemper. Dingin membuat perutku terasa lapar, aku memang belum sempat sarapan walau sudah terbangun sejak dini hari. Membereskan rumah, memasak dan seabreg urusan lainnya membuat aku melupakan sarapan, kebiasan yang wajib bagi aku dan keluargaku kecuali kalau sedang syaum tentu saja.  Hmmm..... teh hangat begitu menggodaku, namun sayang tak bisa segera kunikmati karena begitu panasnya, ha..ha.. sabar..sabar....sepotong kue lemper cukup mengganjal perut laparku. (Hmmm yummy... baru deh makan lemper seenak itu, begitu legit. atau karena aku kelaparan ya... he..he..he..)

Rupanya acara sudah berlangsung cukup lama, lebih dua puluh menitan, aku tertinggal acara pembuka berupa sambutan dari ketua Badan Geologi dan lebih dari setengah materi pertama dari Bapak Oman Abdurahman Pemimpin Redaksi GEOMAGZ.

Setelah acara tanya jawab, materi kedua pun dimulai, Bapak H. Wawan Setiawan atau biasa dipanggil Hawe Setiawan seorang penulis dan kandidat doktor dari ITB. Membawakan materi dengan sangat menarik tentang Feature. Wawasan baru... !! Aku jadi tahu apa itu, feature sebuah karangan khas, bukan berita utama tetapi memperkaya pemberitaan.

Selanjutnya Atep Kurnia(wan ?, aduh maaf tulisanku tak lengkap) membawakan materi tentang Bisa Menulis Berita, bagaimana membuat sebuah peristiwa menjadi tulisan yang berupa berita... begitu deh... Lengkapnya ada dalam CD yang disediakan panitia di lantai bawah saat acara berakhir.  Ketika Adzan berkumandang acara di break, kemudian sang moderator mempersilakan para peserta untuk ber ISHOMA ria dan meminta peserta untuk masuk 30 menit kemudian.

Acara makan siang berlangsung ramai, ruangan ditata persis seperti acara lokakarya di atas. Peserta mengelilingi sebuah meja berisi empat sampai lima kursi yang mengitari meja bundar. Meja dan Kursi dibalut kain putih bersih.

Memasuki ruangan auditorium kembali, peserta langsung diminta membuat sebuah tulisan berbentuk berita dengan materi yang ada di hal 16 - 18 majalah Berita Geologi. Aku kok engga dapat ya... seseorang yang duduk di belakangku meminjamkan majalah itu padaku. Oo..terlambat membuaku tak mendapat majalah itu, bukan itu saja ternyata sebuah ballpoint unik dan notes cukup tebal luput dariku. Pantas tadi di meja registrasi aku 'hanya' mendapatkan sebuah majalah cantik Geomagz dan sebuah buku Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi tanpa ballpoint seperti kebiasaan goodybag acara seminar, pelatihan ataupun lokakarya. 

Tak ingin kehilangan kesempatan memiliki majalah berita geologi itu.. aku menuju meja panitia di depan dan meminta majalah itu.  Sudah habis.., tapi pak Hawe berbaik hati memberikan majalah yang sedang dipegangnya. Alhamdulillah..dapat juga. Panitia disebelahnya berujar, "Cepat Bu, lima belas menit lagi waktunya..." Aku mengiyakan dan berterima kasih. Aku segera mengembalikan majalah pinjaman kepada peserta di meja belakangku. Artikel yang berjudul Situs Megalit Gunung Padang, Nenek Moyang Machu Picchu dari Indonesia? harus ditulis ulang dengan singkat dan padat dalam bentuk berita dalam tempo tak lebih dari 30 menit....!!! Hu..hu...

Selesai tidak selesai tulisan dikumpulkan. Acara selanjutnya adalah materi tentang Mencari Informasi Geologi di Dunia Maya oleh Bapak Budi Brahmantyo Dekan Fakultas Geologi di ITB. Beliau banyak memaparkan tentang situs-situs kegeologian yang bisa diakses di internet.  Beliau juga mengingatkan agar tidak langsung percaya pada tulisan-tulisan yang ada di blog-blog pribadi dan wikepedia dan langsung menjadikannya sebagai rujukan di tulisan kita. Harus di cek ulang kebenarannya.....

Materi terakhir tentang fotografi !!  Menarik sekali. Menampilkan banyak sekali foto-foto unik sepanjang masa. Selain itu juga diperlihatkan gambar berbagai jenis kamera. Aku baru tahu bentuk kamera yang termahal di dunia seharga 150 juta - 250 juta rupiah. Biasa aja dalam bentuk, tapi dalam kemampuannya jangan tanya...karena aku memang tidak tahu hehe..

Acara terakhir pembagian doorprice dan pengumuman tujuh tulisan terbaik... dan pemenangnya adalah.. jreng..jreng... hihihi.... Alhamdulillah... tulisanku yang berjudul Situs Megalit Padang, Piramida Indonesia termasuk di dalamnya.  Sebuah hadiah cantik (sekali...!! karena aku suka banget !!) mendarat dalam pelukanku yang tidak lagi kedinginan. Alhamdulillah... Alhamdulillah... prestasi pertamaku di awal tahun 2013, mudah-mudahan bukan yang terakhir, mudah-mudahan menjadi pemecut bagiku untuk kembali rajin menulis setelah begitu lama melempem termakan kesibukan yang cukup melelahkan.. (hehe jadi curcol deh).

Eh ternyata bukan itu saja, namaku kembali dipanggil, kali ini aku kebagian doorprice...alhamdulillah... doorpricenya disuruh milih antara buku dan tas... pinginnya sih dua-duanya sempet bingung lihat judul buku.., kemudian ingat anak-anak di rumah yang merengek pengen tas baru... aha jadi deh milih tas.  Sebuah tas gendong bewarna hitam berpolet oranye dari Geomagz kembali menghangatkan pelukanku... (hihi lebay..)

Terakhir acara paling penting... foto bersama.... sayang ternyata peserta sudah menyusut drastis.. tak mengapa... yang penting ada bukti foto buat narsis hehe...

Panitia dan peserta yang bertahan sampai akhir. (Foto dok Ayu 'Kuke' Wulandari)


 Alhamdulillah... What a Great Day ....... ^_^

6 Jan 2013

Catatan Peringatan Hari Ibu


Cimahi 5 Jan 2012

Bismillah

Benar  benar sebuah kecerobohan.  Dua kali mencatat dua-duanya hilang tak berbekas. Ceritanya Jaringan Lembaga Wanita mendapat tugas membersamai para tokoh dari Cimahi untuk menghadiri acara peringatan Perayaan Hari Ibu yang diadakan oleh Aliansi Dewi Sartika, sebuah aliansi lintas organisasi, partai dan agama. Mendampingi tokoh perempuan dari Cimahi diantaranya ketua perempuan PUI Kota Cimahi, Ketua Pesistri Kota Cimahi, Ketua Aisyiah Kota cimahi, Ketua BKSWI Kota Cimahi, Ketua Tahajud Call Kota Cimahi untuk mengikuti acara peringatan Hari Ibu yang diselenggarakan di Gedung Bale Asri Pusdai tanggal 24 Desember 2012. 

Membawa gadget yang belum begitu familiar untuk acara ini benar-benar sebuah kebodohan bagiku. Sebuah gadget baru hadiah ulang tahun dari diriku sendiri.. (Hayoo pengumuman...). Niat ingin mempermudah membuat review acara, yang terjadi malah terpaksa memakai tulisan tangan yang  kemudian tertinggal di dalam gedung ketika pulang.   Dicatat ulang di mobil nyontek dari Ibu Ayi ketua tahajud call Cimahi yang juga ibu teladan tingkat jawa barat tahun 2010. Benar-benar ibu yang rajin, catatannya lengkap sekali. Dan ternyata catatan yang kutulis ulang itu pun lenyap pula entah kemana.

Sebetulnya seandainya sudah familiar dengan gadget baru itu kisah hilangnya catatan ini tak perlu terjadi. Malas mempelajari, menggampangkan suatu hal itulah yang kulakukan . Belum lagi hasil jepretan yang tidak optimal karena belum bisa menzoom kameranya, lengkap sudah kebodohan yang kulakukan, padahal begitu pulang dan mempelajari sedikit saja, ternyata mudah-mudah saja.....hmmm malas masih menjadi penyakitku.... Termasuk menulis review peringatan hari ibu ini. Selalu ada alasan untuk menghindar, bentrok dengan jadual libur anak-anak lah, bentrok dengan kesibukanlah dan segudang alasan atuda lainnya. :(

Skip ngelantur tidak jelas....., kita mulai saja mereview acara peringatan ibu ini, walau sangat pasti tidak lengkap karena benar-benar sangat mengandalkan memori yang sudah mulai sulit di recall ini.  Terlebih acaranya sudah cukup lama berlalu.

Acara Peringatan Hari Ibu yang diadakan oleh Aliansi Dewi Sartika ini mengambil tema Memaknai Peringatan Hari Ibu "Refleksi Perjuangan Ibu Dewi Sartika sebagai Inspirasi bagi Ibu-Ibu se Jawa Barat".  Aliansi  Dewi Sartika ini adalah sebuah aliansi lintas partai, organisasi dan agama dimotori diantaranya oleh Organisasi Salimah Jawa Barat, Perempuan Hanura, Perempuan PPP, Wanita Keadilan dan beberapa organisasi yang lainnya.

Diadakan di Gedung Serbaguna Pusdai, dikemas dengan begitu rapi dan profesional.  Begitu undangan tiba lansung disuguhi nyanyian yang dibawakan dengan begitu apik dan merdu oleh Fitri bergantian dengan sang MC Acara.  Bukan hanya nasyid atau sekarang sudah mulai mengalami degradasi dengan sebutan lagu positif yang Fitri bawakan, tapi lagu-lagu pop lawas pun turut diperdengarkan.  Panggung ditata dengan elegan dipadu sound system yang bagus, dilengkapi dua layar lebar di sisi kanan dan kiri panggung. Undangan yang hadir memenuhi gedung, hadir pula pini sepuh perempuan di awa Barat diantaranya Ibu Aang Kunaefi, Ibu Dra. Popong Oce  Djunjunan, cucu ibu Dewi Sartika  Ibu Dra. Dinny Dewi Krisna Harahap.dan lain-lain.

Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama.  Rasa-rasanya ritme lagu kebangsaan ini dibawakan dengan tempo yang  lebih cepat dari biasanya, memberi sebuah rasa semangat jadinya.  Setelah acara dimulai ada beberapa sambutan diantaranya dari Dinsos Jawa Barat, dan ketua panitia penyelenggara yaitu Bu Ani Rukmini.  

Acara selanjutnya Talk Show yang dibawakan tiga nara sumber yaitu: Seorang Mubalighoh kondang Ibu Hajah Leni Umar, Mubaligh Ustadz Hilman Rosyad dan Ahli sejarah yang juga  ketua jurusan Ilmu Seni Budaya (Sejarah) UNPAD  Prof. Dr.Dra. Hj. Nina Lubis. Dipandu dengan menarik dan ramai serta begitu cerdas Oleh Ibu Dra.Hj. Ani Rukmini, MKom.



Pemateri pertama Prof Hj.Nina Lubis mengupas tentang perjuangan Ibu Dewi Sartika.  Dalam perjalanan hidupnya Ibu Dewi Sartika telah memperjuangan agar perempuan bisa mendapat pendidikan sebagaimana yang  kaum laki-laki dapatkan.  Berbeda dengan RA Kartini yang sekedar opini emansimasi, Ibu Dewi Sartika selangkah lebih maju  Ia berhasil mendirikan Sekolah Istri yang berkemban dengan pesat memberikan pendidikan  untuk kaum perempuan.  Lalu kenapa sekarang lebih terkenal RA Kartini dibanding  Dewi Sartika?
Hal itu tak lepas dari politik Belanda. Keluarga besar Kartini dalam hal ini Ayah dan suaminya adalah bupati yang sangat manut terhadap penjajah  Belanda.  Sementara ayahanda Dewi Sartika dikenal sebagai penentang Belanda. Karena sebuah fitnah ayahanda Dewi Sartika pernah dibuang ke Ternate.  Kisah manut dan penentangan inilah yang menjadi penyebab mengapa akhirnya Kartini yang lebih  dimunculkan padahal perjuangan Ibu Dewi Sartika tak kalah dengan perjuangan RA Kartini.  Bahkan konon kabarnya menurut Ibu Prof yang lugas dan sederhana ini RA Kartini malah 'menghianati' apa yang diperjuangkan dengan bersedia menjadi selir seorang bupati dalam kehidupannya.



Pembicara kedua Hj. Leni Umar mengupas tuntas tentang kriteria ibu yang sholihah.  Menurut beliau ada beberapa kriteria ibu sholihah yaitu :  Seorang ibu harus mempunyai bekal akidah yang kuat, seorang ibu harus menjadi pembelajar dan pendidik anak-anaknya dan yang ketiga seorang ibu itu harus paham dengan kondisi zaman ... (Deuh sebenarnya masih ada lagi.... lupa...)

Pembicara ketiga Ustadz Hilman Rosyad berbicara tentang sosok perempuan sholihah melalui gambaran ibunya sendiri.  Ibu ustadz Hilman adalah seorang Da'iyah.  Menurut beliau seorang perempuan tidak perlu menggembor-gemborkan tentang emansipasi, dengan menjalankan islam secara kaffah seorang perempuan telah mensejajarkan dirinya dengan pria.

Menurut Ustadz Hilman seorang perempuan yang telah menjalankan agamanya dengan benar ia akan bisa berkiprah dengan baik dalam kehidupan rumah tangganya juga akan mampu memberi kontribusi positif untuk masyarakat sekitarnya.  Beliau mencontohkan sosok ibunya yang sukses mendidik anak-anaknya dan banyak berkiprah untuk masyarakat menjadi seorang daiyah. (Kurleb kitu we lah...). Jadi sosok perempuan sholihat itu menuru beliau adalah yang mampu menjalankan tugas domestiknya dengan baik sebagai istri, sebagai ibu yang pendidik dan akhirnya kemudian dapat berkiprah keluar sebagai seorang daiyah.

Acara selanjutnya adalah mengenang Ibu Dewi Sartika yang dibawakan oleh cucu Ibu Dewi Sartika, Ibu Dra. Dinny Dewi Krisna Harahap.  Beliau banyak bercerita tentang masa kecil Dewi Sartika yang cukup getir karena ayahnya terkena fitnah menjadi pemberontak Belanda.  Akibat ayahnya dibuang ke Ternate oleh Belanda, Dewi Sartika kecil diperlakukan sebagai anak buangan oleh sanak saudaranya.  Ia diperlakukan seperti seorang pembantu.  Namun karena itulah ia banyak belajar tentang ketermpilan yang harus dimiliki oleh perempuan dari Uanya.  Ketika ia harus mengantar sepupunya belajar, ia tidak diizinkan masuk.  Namun dibalik pintu Dewi Sartika ternyata ikut belajar.  Disanalah dia akhirnya memperoleh pengetahuan dan akhirnya bertekad untuk memperjuangkan kesempatan belajar untuk perempuan.

Setelah diselingi beberapa lagu diantaranya Bunda dan Lagu Untuk Mama akhirnya pengumuman sepuluh The Inspiring Women, sosok Dewi Sartika masa kini.  Beberapa sosok yang sudah dikenal adalah Teh Hajah Diah Nurwitasari,Dipl Ing sebagai aktivis perempuan, Ibu Hj. Leni Umar sebagai Mubalighoh yang harus banyak diteladani, Ibu Popong Djunjunan sebagai tokoh perempuan di bidang seni dan budaya, Prof.Dr Hj. Nina Lubis,MS sebagai tokoh sejarawan. Beberapa lainnya adalah tokoh cendikiawan perempuan yaitu seorang  muda usia dosen dari ITB bernama Ibu  Dr Made Tri Ari Penia Kresnowati yang telah mendapat penghargaan dari Menristek karena penemuannya, ada juga dari buruh perempuan yaitu Novi Yulianti, tokoh kesehatan Masyarakat yakni Hj Eulis Rosmiati, Amd Keb SKM, kemudian seorang pejuang lingkungan yaitu Dewi Kusmianti. istri seorang tukang ojeg yang banyak menghasilkan karya berupa kerajinan tangan dari barang-barang bekas seperti bungkus kopi, permen dan sebagainya.  

Selain itu ada tokoh disabilitas bernama Euis Suryani seorang tuna netra dari KBB, yang dalam keterbatasannya masih memiliki kepedulian dengan sepak terjangnya berkiprah di bidan sosial dan memperjuangkan hak-hak perempuan di daerahnya. Selanjutnya Pemilik Ina Cookis yaitu Rr Ina Wiyandini atau Ina Rachmat sebagai pengusaha wanita yang sukses.

Acara puncak pun akhirnya digelar yaitu penganugrahan Ibu Jawa Barat kepada Istri gubernur Ibu Netty Prasetya.  Kandidat doktor dari Unpad yang energik ini memang layak dinobatkan menjadi Ibu Jawa Barat mengingat kiprahnya selama ini. Ibu dengan enam orang putra putri yang pintar dan sholih sholihat ini tak kuat menahan haru ketika dinobatkan menjadi Ibu Jawa Barat, dalam sambutannya beliau berharap momentum ini juga bisa dijadikan motivasi untuk terus memperjuangkan pemberdayaan perempuan, untuk masa depan bangsa yang lebih baik.



Alhamdulillah ^_^