18 Jan 2013

KEB...Tetaplah Selalu Berbagi

Cimahi, 18 Januari 2013

Bismillah,

Membuka akun fesbuk di siang hari ini dan taraaaaa.... berjejerlah postingan serempak untuk ulang tahun pertama  KEB, Masya  Allah... aku kok terlupa sih.... terlupa kalau hari ini tanggal 18 Januari.. hari istimewa untuk para emak blogger karena di hari ini lah tepat setahun yang lalu kumpulan para emak blogger ini berdiri.

Saya lupa kapan pertama kali  mengenal KEB (Kumpulan Emak Blogger) ini, yang jelas baru beberapa hari mengenalnya langsung ada acara kopdaran di Bandung tepatnya di City link tanggal 8 Juli 2012, langsung jatuh hati dan ingin mengikuti acara itu.  Meski kebat kebit karena engga ada teman dan engga ada yang ku kenal secara dekat akhirnya aku pun mengikuti acara itu..... dan ternyata aku sungguh beruntung bisa ikut acara itu....

Kenapa aku merasa beruntung?  Karena aku bisa mengenal lebih dekat dengan sosok-sosok luar biasa di belakang KEB, sosok perempuan keren, pintar dan kreatif. Ada Mak Mira Sahid yang cantik, pintar dan energik, ada Mak Indah Juli yang ramah dan baik hati, ada Mak Sari Melati yang pintar dan imut... ketemu juga sama beberapa blogger dari Bandung seperti Mak Nchie, Bang Aswi... dan banyak lagi deeh yang tak bisa kusebut satu persatu.

Pengalaman yang begitu berkesan... terlebih setelah lama bergabung di KEB banyak sekali undangan kegiatan menarik lainnya.  Sayang tempatnya selalu di Jakarta.... padahal di Bandung  aku agak susah untuk  bisa ikut,apalagi di Jakarta...hiks... aku cuman bisa mupeeeeeeeeng deh hehe...

Aku merasa beruntung bisa bergabung di klub keren ini.  Bisa memberi semangat untuk terus menulis itulah hal  utama yang aku rasakan.  Melihat postingan teman-teman di KEB yang terus mengalir sedikit banyak memcacuku untuk bisa seperti mereka...

Di ulang tahunnya yang pertama ini dari hati yang tulus aku mengucapkan SELAMAT ULANG TAHUN KEB semoga semakin sukses dan semakin banyak memberi manfaat untuk sesama.. Teruslah berbagi menebar manfaat untuk semua.  Aamiin Allohumma Aamiin.

Semoga kelak aku bisa ikut aktif di komunitas keren ini.... Aamiin Allohumma Aamiin.... (Hehe... do'a untuk pribadi ini mah.... ).  Hanya sempat menulis ini.... tapi tulisan mendadak ini bukti aku mencintai KEB....  ^_^


16 Jan 2013

What a Great Day !!!

Cimahi 16 Januari 2013

Bismillah,

Hujan yang mengguyur bumi sejak pagi mengawali hari, rupanya tidak menjadi halangan bagi para peserta Lokakarya Publikasi Kebumian, terbukti dengan penuhnya peserta di ruangan Auditorium Museum Geologi Bandung yang terletak di lantai dua.  Aku yang terlambat, tergesa masuk dan mencari kursi. Seorang perempuan bergamis hijau berbaik hati mempersilakan aku duduk disampingnya, belakangan kutahu ia bernama Ibu Iin seorang guru PGRI dari Rancaekek.

Dingin yang menjalari tubuhku memaksaku kembali beringsut walau baru saja tiba, di luar ruangan, aku membuat secangkir teh manis dan mengambil sebuah kue lemper. Dingin membuat perutku terasa lapar, aku memang belum sempat sarapan walau sudah terbangun sejak dini hari. Membereskan rumah, memasak dan seabreg urusan lainnya membuat aku melupakan sarapan, kebiasan yang wajib bagi aku dan keluargaku kecuali kalau sedang syaum tentu saja.  Hmmm..... teh hangat begitu menggodaku, namun sayang tak bisa segera kunikmati karena begitu panasnya, ha..ha.. sabar..sabar....sepotong kue lemper cukup mengganjal perut laparku. (Hmmm yummy... baru deh makan lemper seenak itu, begitu legit. atau karena aku kelaparan ya... he..he..he..)

Rupanya acara sudah berlangsung cukup lama, lebih dua puluh menitan, aku tertinggal acara pembuka berupa sambutan dari ketua Badan Geologi dan lebih dari setengah materi pertama dari Bapak Oman Abdurahman Pemimpin Redaksi GEOMAGZ.

Setelah acara tanya jawab, materi kedua pun dimulai, Bapak H. Wawan Setiawan atau biasa dipanggil Hawe Setiawan seorang penulis dan kandidat doktor dari ITB. Membawakan materi dengan sangat menarik tentang Feature. Wawasan baru... !! Aku jadi tahu apa itu, feature sebuah karangan khas, bukan berita utama tetapi memperkaya pemberitaan.

Selanjutnya Atep Kurnia(wan ?, aduh maaf tulisanku tak lengkap) membawakan materi tentang Bisa Menulis Berita, bagaimana membuat sebuah peristiwa menjadi tulisan yang berupa berita... begitu deh... Lengkapnya ada dalam CD yang disediakan panitia di lantai bawah saat acara berakhir.  Ketika Adzan berkumandang acara di break, kemudian sang moderator mempersilakan para peserta untuk ber ISHOMA ria dan meminta peserta untuk masuk 30 menit kemudian.

Acara makan siang berlangsung ramai, ruangan ditata persis seperti acara lokakarya di atas. Peserta mengelilingi sebuah meja berisi empat sampai lima kursi yang mengitari meja bundar. Meja dan Kursi dibalut kain putih bersih.

Memasuki ruangan auditorium kembali, peserta langsung diminta membuat sebuah tulisan berbentuk berita dengan materi yang ada di hal 16 - 18 majalah Berita Geologi. Aku kok engga dapat ya... seseorang yang duduk di belakangku meminjamkan majalah itu padaku. Oo..terlambat membuaku tak mendapat majalah itu, bukan itu saja ternyata sebuah ballpoint unik dan notes cukup tebal luput dariku. Pantas tadi di meja registrasi aku 'hanya' mendapatkan sebuah majalah cantik Geomagz dan sebuah buku Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi tanpa ballpoint seperti kebiasaan goodybag acara seminar, pelatihan ataupun lokakarya. 

Tak ingin kehilangan kesempatan memiliki majalah berita geologi itu.. aku menuju meja panitia di depan dan meminta majalah itu.  Sudah habis.., tapi pak Hawe berbaik hati memberikan majalah yang sedang dipegangnya. Alhamdulillah..dapat juga. Panitia disebelahnya berujar, "Cepat Bu, lima belas menit lagi waktunya..." Aku mengiyakan dan berterima kasih. Aku segera mengembalikan majalah pinjaman kepada peserta di meja belakangku. Artikel yang berjudul Situs Megalit Gunung Padang, Nenek Moyang Machu Picchu dari Indonesia? harus ditulis ulang dengan singkat dan padat dalam bentuk berita dalam tempo tak lebih dari 30 menit....!!! Hu..hu...

Selesai tidak selesai tulisan dikumpulkan. Acara selanjutnya adalah materi tentang Mencari Informasi Geologi di Dunia Maya oleh Bapak Budi Brahmantyo Dekan Fakultas Geologi di ITB. Beliau banyak memaparkan tentang situs-situs kegeologian yang bisa diakses di internet.  Beliau juga mengingatkan agar tidak langsung percaya pada tulisan-tulisan yang ada di blog-blog pribadi dan wikepedia dan langsung menjadikannya sebagai rujukan di tulisan kita. Harus di cek ulang kebenarannya.....

Materi terakhir tentang fotografi !!  Menarik sekali. Menampilkan banyak sekali foto-foto unik sepanjang masa. Selain itu juga diperlihatkan gambar berbagai jenis kamera. Aku baru tahu bentuk kamera yang termahal di dunia seharga 150 juta - 250 juta rupiah. Biasa aja dalam bentuk, tapi dalam kemampuannya jangan tanya...karena aku memang tidak tahu hehe..

Acara terakhir pembagian doorprice dan pengumuman tujuh tulisan terbaik... dan pemenangnya adalah.. jreng..jreng... hihihi.... Alhamdulillah... tulisanku yang berjudul Situs Megalit Padang, Piramida Indonesia termasuk di dalamnya.  Sebuah hadiah cantik (sekali...!! karena aku suka banget !!) mendarat dalam pelukanku yang tidak lagi kedinginan. Alhamdulillah... Alhamdulillah... prestasi pertamaku di awal tahun 2013, mudah-mudahan bukan yang terakhir, mudah-mudahan menjadi pemecut bagiku untuk kembali rajin menulis setelah begitu lama melempem termakan kesibukan yang cukup melelahkan.. (hehe jadi curcol deh).

Eh ternyata bukan itu saja, namaku kembali dipanggil, kali ini aku kebagian doorprice...alhamdulillah... doorpricenya disuruh milih antara buku dan tas... pinginnya sih dua-duanya sempet bingung lihat judul buku.., kemudian ingat anak-anak di rumah yang merengek pengen tas baru... aha jadi deh milih tas.  Sebuah tas gendong bewarna hitam berpolet oranye dari Geomagz kembali menghangatkan pelukanku... (hihi lebay..)

Terakhir acara paling penting... foto bersama.... sayang ternyata peserta sudah menyusut drastis.. tak mengapa... yang penting ada bukti foto buat narsis hehe...

Panitia dan peserta yang bertahan sampai akhir. (Foto dok Ayu 'Kuke' Wulandari)


 Alhamdulillah... What a Great Day ....... ^_^

6 Jan 2013

Catatan Peringatan Hari Ibu


Cimahi 5 Jan 2012

Bismillah

Benar  benar sebuah kecerobohan.  Dua kali mencatat dua-duanya hilang tak berbekas. Ceritanya Jaringan Lembaga Wanita mendapat tugas membersamai para tokoh dari Cimahi untuk menghadiri acara peringatan Perayaan Hari Ibu yang diadakan oleh Aliansi Dewi Sartika, sebuah aliansi lintas organisasi, partai dan agama. Mendampingi tokoh perempuan dari Cimahi diantaranya ketua perempuan PUI Kota Cimahi, Ketua Pesistri Kota Cimahi, Ketua Aisyiah Kota cimahi, Ketua BKSWI Kota Cimahi, Ketua Tahajud Call Kota Cimahi untuk mengikuti acara peringatan Hari Ibu yang diselenggarakan di Gedung Bale Asri Pusdai tanggal 24 Desember 2012. 

Membawa gadget yang belum begitu familiar untuk acara ini benar-benar sebuah kebodohan bagiku. Sebuah gadget baru hadiah ulang tahun dari diriku sendiri.. (Hayoo pengumuman...). Niat ingin mempermudah membuat review acara, yang terjadi malah terpaksa memakai tulisan tangan yang  kemudian tertinggal di dalam gedung ketika pulang.   Dicatat ulang di mobil nyontek dari Ibu Ayi ketua tahajud call Cimahi yang juga ibu teladan tingkat jawa barat tahun 2010. Benar-benar ibu yang rajin, catatannya lengkap sekali. Dan ternyata catatan yang kutulis ulang itu pun lenyap pula entah kemana.

Sebetulnya seandainya sudah familiar dengan gadget baru itu kisah hilangnya catatan ini tak perlu terjadi. Malas mempelajari, menggampangkan suatu hal itulah yang kulakukan . Belum lagi hasil jepretan yang tidak optimal karena belum bisa menzoom kameranya, lengkap sudah kebodohan yang kulakukan, padahal begitu pulang dan mempelajari sedikit saja, ternyata mudah-mudah saja.....hmmm malas masih menjadi penyakitku.... Termasuk menulis review peringatan hari ibu ini. Selalu ada alasan untuk menghindar, bentrok dengan jadual libur anak-anak lah, bentrok dengan kesibukanlah dan segudang alasan atuda lainnya. :(

Skip ngelantur tidak jelas....., kita mulai saja mereview acara peringatan ibu ini, walau sangat pasti tidak lengkap karena benar-benar sangat mengandalkan memori yang sudah mulai sulit di recall ini.  Terlebih acaranya sudah cukup lama berlalu.

Acara Peringatan Hari Ibu yang diadakan oleh Aliansi Dewi Sartika ini mengambil tema Memaknai Peringatan Hari Ibu "Refleksi Perjuangan Ibu Dewi Sartika sebagai Inspirasi bagi Ibu-Ibu se Jawa Barat".  Aliansi  Dewi Sartika ini adalah sebuah aliansi lintas partai, organisasi dan agama dimotori diantaranya oleh Organisasi Salimah Jawa Barat, Perempuan Hanura, Perempuan PPP, Wanita Keadilan dan beberapa organisasi yang lainnya.

Diadakan di Gedung Serbaguna Pusdai, dikemas dengan begitu rapi dan profesional.  Begitu undangan tiba lansung disuguhi nyanyian yang dibawakan dengan begitu apik dan merdu oleh Fitri bergantian dengan sang MC Acara.  Bukan hanya nasyid atau sekarang sudah mulai mengalami degradasi dengan sebutan lagu positif yang Fitri bawakan, tapi lagu-lagu pop lawas pun turut diperdengarkan.  Panggung ditata dengan elegan dipadu sound system yang bagus, dilengkapi dua layar lebar di sisi kanan dan kiri panggung. Undangan yang hadir memenuhi gedung, hadir pula pini sepuh perempuan di awa Barat diantaranya Ibu Aang Kunaefi, Ibu Dra. Popong Oce  Djunjunan, cucu ibu Dewi Sartika  Ibu Dra. Dinny Dewi Krisna Harahap.dan lain-lain.

Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama.  Rasa-rasanya ritme lagu kebangsaan ini dibawakan dengan tempo yang  lebih cepat dari biasanya, memberi sebuah rasa semangat jadinya.  Setelah acara dimulai ada beberapa sambutan diantaranya dari Dinsos Jawa Barat, dan ketua panitia penyelenggara yaitu Bu Ani Rukmini.  

Acara selanjutnya Talk Show yang dibawakan tiga nara sumber yaitu: Seorang Mubalighoh kondang Ibu Hajah Leni Umar, Mubaligh Ustadz Hilman Rosyad dan Ahli sejarah yang juga  ketua jurusan Ilmu Seni Budaya (Sejarah) UNPAD  Prof. Dr.Dra. Hj. Nina Lubis. Dipandu dengan menarik dan ramai serta begitu cerdas Oleh Ibu Dra.Hj. Ani Rukmini, MKom.



Pemateri pertama Prof Hj.Nina Lubis mengupas tentang perjuangan Ibu Dewi Sartika.  Dalam perjalanan hidupnya Ibu Dewi Sartika telah memperjuangan agar perempuan bisa mendapat pendidikan sebagaimana yang  kaum laki-laki dapatkan.  Berbeda dengan RA Kartini yang sekedar opini emansimasi, Ibu Dewi Sartika selangkah lebih maju  Ia berhasil mendirikan Sekolah Istri yang berkemban dengan pesat memberikan pendidikan  untuk kaum perempuan.  Lalu kenapa sekarang lebih terkenal RA Kartini dibanding  Dewi Sartika?
Hal itu tak lepas dari politik Belanda. Keluarga besar Kartini dalam hal ini Ayah dan suaminya adalah bupati yang sangat manut terhadap penjajah  Belanda.  Sementara ayahanda Dewi Sartika dikenal sebagai penentang Belanda. Karena sebuah fitnah ayahanda Dewi Sartika pernah dibuang ke Ternate.  Kisah manut dan penentangan inilah yang menjadi penyebab mengapa akhirnya Kartini yang lebih  dimunculkan padahal perjuangan Ibu Dewi Sartika tak kalah dengan perjuangan RA Kartini.  Bahkan konon kabarnya menurut Ibu Prof yang lugas dan sederhana ini RA Kartini malah 'menghianati' apa yang diperjuangkan dengan bersedia menjadi selir seorang bupati dalam kehidupannya.



Pembicara kedua Hj. Leni Umar mengupas tuntas tentang kriteria ibu yang sholihah.  Menurut beliau ada beberapa kriteria ibu sholihah yaitu :  Seorang ibu harus mempunyai bekal akidah yang kuat, seorang ibu harus menjadi pembelajar dan pendidik anak-anaknya dan yang ketiga seorang ibu itu harus paham dengan kondisi zaman ... (Deuh sebenarnya masih ada lagi.... lupa...)

Pembicara ketiga Ustadz Hilman Rosyad berbicara tentang sosok perempuan sholihah melalui gambaran ibunya sendiri.  Ibu ustadz Hilman adalah seorang Da'iyah.  Menurut beliau seorang perempuan tidak perlu menggembor-gemborkan tentang emansipasi, dengan menjalankan islam secara kaffah seorang perempuan telah mensejajarkan dirinya dengan pria.

Menurut Ustadz Hilman seorang perempuan yang telah menjalankan agamanya dengan benar ia akan bisa berkiprah dengan baik dalam kehidupan rumah tangganya juga akan mampu memberi kontribusi positif untuk masyarakat sekitarnya.  Beliau mencontohkan sosok ibunya yang sukses mendidik anak-anaknya dan banyak berkiprah untuk masyarakat menjadi seorang daiyah. (Kurleb kitu we lah...). Jadi sosok perempuan sholihat itu menuru beliau adalah yang mampu menjalankan tugas domestiknya dengan baik sebagai istri, sebagai ibu yang pendidik dan akhirnya kemudian dapat berkiprah keluar sebagai seorang daiyah.

Acara selanjutnya adalah mengenang Ibu Dewi Sartika yang dibawakan oleh cucu Ibu Dewi Sartika, Ibu Dra. Dinny Dewi Krisna Harahap.  Beliau banyak bercerita tentang masa kecil Dewi Sartika yang cukup getir karena ayahnya terkena fitnah menjadi pemberontak Belanda.  Akibat ayahnya dibuang ke Ternate oleh Belanda, Dewi Sartika kecil diperlakukan sebagai anak buangan oleh sanak saudaranya.  Ia diperlakukan seperti seorang pembantu.  Namun karena itulah ia banyak belajar tentang ketermpilan yang harus dimiliki oleh perempuan dari Uanya.  Ketika ia harus mengantar sepupunya belajar, ia tidak diizinkan masuk.  Namun dibalik pintu Dewi Sartika ternyata ikut belajar.  Disanalah dia akhirnya memperoleh pengetahuan dan akhirnya bertekad untuk memperjuangkan kesempatan belajar untuk perempuan.

Setelah diselingi beberapa lagu diantaranya Bunda dan Lagu Untuk Mama akhirnya pengumuman sepuluh The Inspiring Women, sosok Dewi Sartika masa kini.  Beberapa sosok yang sudah dikenal adalah Teh Hajah Diah Nurwitasari,Dipl Ing sebagai aktivis perempuan, Ibu Hj. Leni Umar sebagai Mubalighoh yang harus banyak diteladani, Ibu Popong Djunjunan sebagai tokoh perempuan di bidang seni dan budaya, Prof.Dr Hj. Nina Lubis,MS sebagai tokoh sejarawan. Beberapa lainnya adalah tokoh cendikiawan perempuan yaitu seorang  muda usia dosen dari ITB bernama Ibu  Dr Made Tri Ari Penia Kresnowati yang telah mendapat penghargaan dari Menristek karena penemuannya, ada juga dari buruh perempuan yaitu Novi Yulianti, tokoh kesehatan Masyarakat yakni Hj Eulis Rosmiati, Amd Keb SKM, kemudian seorang pejuang lingkungan yaitu Dewi Kusmianti. istri seorang tukang ojeg yang banyak menghasilkan karya berupa kerajinan tangan dari barang-barang bekas seperti bungkus kopi, permen dan sebagainya.  

Selain itu ada tokoh disabilitas bernama Euis Suryani seorang tuna netra dari KBB, yang dalam keterbatasannya masih memiliki kepedulian dengan sepak terjangnya berkiprah di bidan sosial dan memperjuangkan hak-hak perempuan di daerahnya. Selanjutnya Pemilik Ina Cookis yaitu Rr Ina Wiyandini atau Ina Rachmat sebagai pengusaha wanita yang sukses.

Acara puncak pun akhirnya digelar yaitu penganugrahan Ibu Jawa Barat kepada Istri gubernur Ibu Netty Prasetya.  Kandidat doktor dari Unpad yang energik ini memang layak dinobatkan menjadi Ibu Jawa Barat mengingat kiprahnya selama ini. Ibu dengan enam orang putra putri yang pintar dan sholih sholihat ini tak kuat menahan haru ketika dinobatkan menjadi Ibu Jawa Barat, dalam sambutannya beliau berharap momentum ini juga bisa dijadikan motivasi untuk terus memperjuangkan pemberdayaan perempuan, untuk masa depan bangsa yang lebih baik.



Alhamdulillah ^_^