1 Jun 2013

Cikalku Suka Musik ?

Cimahi, 1 Juni 2013

Bismillah,

Saya sebenarnya bukan penikmat musik, meski saya suka sedikit bersenandung.  Seperti hobi menulis, yang baru sadari setelah memiliki anak lima hobi bersenandung pun baru saya sadari sepekan terakhir.  Saya memang terlahir dari orang tua yang sibuk, tapi saya tahu mereka sibuk untuk anak-anaknya.  Jadi wajar kalau saya memang termasuk orang yang agak terlambat memahami diri, saat kuliah seorang dosen menanyakan apa hobiku, saya gelagapan.. baru tersadar kalau saya tak memiliki hobi selain membaca yang itu pun tidak bisa dikatakan kutu buku.

Belajar dari pengalaman masa kecilku, tanpa mengurangi rasa hormatku pada kedua orang tuaku tercinta yang telah membesarkanku hingga bisa seperti ini dalam arti saya menjadi orang baik-baik yang takut pada Tuhannya. Saya ingin menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Hingga saat hamil pertama saya banyak membaca buku tentang kehamilan dan mendidik anak sejak dalam kandungan.  Bertanya pada seorang ustadz tentang bagaimana memperdengarkan musik klasik ketika dalam kandungan membuat saya mengambil keputusan untuk memperdengarkan musik klasik selain tentu saja lantunan ayat suci al qur'an.

Mungkin inilah yang membuat cikalku menjadi penikmat musik, terutama musik klasik. Itulah mengapa kalimat pertama tulisan ini tentang musik. Saya ingin berbicara tentang musik. Sejak masih duduk di Sekolah Dasar dulu cikalku selalu ribut ingin les biola lah, piano lah  gitarlah... seputar musik.Seiring waktu berjalan akhirnya piano lah yang kami pilih. Ternyata memang benar dia serius, hampir empat tahun berselang cikalku tak pernah mogok atau ada keinginan untuk berhenti, bahkan kian hari bertambah semangat saja.

Sebenarnya saya dan abinya merasa pusing kalau mendengarkan cikalku latihan. Kami memang bukan penikmat musik. Cikalku pernah menangis karena dilarang latihan oleh abinya. Dentingan suara piano yang indah ternyata terasa begitu memekakkan telinga kami. 

Cikalku memang pintar, meski agak lemah dalam matematika. Meski lemah tapi NEM matematikannya 8 lebih, tapi itu nilai terkecil dalam NEMnya. Lalu kenapa kukatakan lemah..? Dia jauh lebih pintar matematika dari uminya... oh tidak matematikanya tidak lemah ternyata .... *ngelantur. Keinginanku sederhana saja, saya ingin kemampuan musiknya itu bermanfaat untuknya kelak setidaknya menjadi guru kelak saat kuliah di luar negeri nanti.

Cikalku bercita-cita untuk kuliah di luar negeri.  Dalam pikiran sederhanaku, daripada dia nanti bekerja di restoran menjadi tukang cuci sambil kuliah seperti para mahasiswa Indonesia di luar sana, lebih baik dia menjadi guru piano saja...*menghayal.

Kecerdasan intrapersonal cikalku memang baik. Dia sudah bisa memahami dirinya apa yang dia mau dan ingin menjadi apa selain menjadi penulis.  Semua sudah jelas baginya, tinggal berusaha dan berdo'a tentu saja.

Kembali pada musik.  Sebenarnya saya khawatir, karena musik bisa mengendorkan ruhiyahnya.  Meski dia masih suka ikut les hapalan qur'an, tetap saja saya merasa khawatir. Saya pernah berdiskusi dengannya tentang ini, katanya musik itu passionnya.  Kenapa tidak kau ubah saja passionmu itu Nak *maksa.


Sejauh ini baik-baik saja, dia masih ingin liqo, masih semangat ikut Lingkar Sahabat nya Karisma Salman, masih semangat menambah hapalan al Qur'annya. Masih menjadi putriku yang sholehah yang baik hati dan tidak sombong, juga rajin menabung... Baiklah..Nak.  kita lihat saja seperti apa... sejauh ini, tidak apa-apa ternyata.  Mungkin tulisan ini hanya kegalauan umi saja.....