**/ Cerita Ida : Miris Padamu Pada Mereka yang .....

blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

22 Mar 2014

Miris Padamu Pada Mereka yang .....

Cimahi, 22 Maret 2014

Bismillah,

Jadi ingat ucapan seorang ibu di belakang rumah saat aku jalan-jalan ke tetangga di belakang rumah.  Kebetulan saat itu ada beberapa ibu-ibu yang sedang asyik mengobrol di depan rumahnya.  Aku hampiri mereka, tiba-tiba seorang dari mereka pun berkata padaku   "Umi.... mana atuh dari si abi, dari N*sd*m saya dapat seratus ribu, dari H*n*u*a saya dapat bla..bla..." Si ibu ngoceh panjang lebar.... Hadeuh.  Memang dua partai itu karena calegnya dekat rumah begitu terasa sekali "keramaiannya".

"Bu, si abi mah ga akan bagi-bagi seperti itu, bagi -bagi uang seperti itu mah nanti kalau sudah jadi harus balik modal, bukannya ingat sama masyarakat. Dikasih segitu tapi setelah itu lima tahun dilupakan. Ibu mau? Ibu ingatkan waktu abinya jadi anggota dewan... kerasakan perhatian si abinya ke masyarakat ? Yang penting mah itu atuh ibu, bukannya setelah jadi sibuk balikin modal, sibuk memperkaya diri sendiri. Ibu tau kan bagaimana si abi, apa tambah mobil? Apa tambah rumah..?" Saya membalas panjang kali lebar pula. 

"He..he... iya sih " ujarnya tersipu. 

Miris.... itulah yang terjadi.  Masyarakat kita, terutama masyarakat kecil yang kurang mampu, berpikir pragmatis. Memilih yang bagi-bagi uang saat pemilu, kemudian tak peduli, kalau selama lima tahun kemudian mereka tak lagi merasakan manfaatnya memiliki wakil rakyat.

Jadi ingat, bagaimana perjuangan suamiku saat menjadi anggota dewan beberapa tahun silam. Mengesahkan UU yang pro rakyat, susahnya bukan main.  Banyak sesama anggota dewan yang tidak peduli dan hanya mengikuti kata penguasa dengan iming - iming hanya beberapa jeti uang sogokan, idealisme yang mereka suarakan saat berkampanye dulu pun tergadaikan.

Banyak usulan dari kita akhirnya kalah karena voting. Resiko berdemokrasi yang menang adalah suara terbanyak bukan yang paling penting, bukan yang paling bermanfaat buat umat. Jadi ingat status si abi tempo hari...

Dalam perjuangan politik ada kalanya kita berhasil dan ada kalanya juga gagal.. karena sudah menjadi konseksuensi berdemokarsi bahwa kemenangan hanya akan diraih oleh suara paling banyak.. bukan paling benar... bukan juga paling penting... atau bukan juga paling bermanfaat bagi ummat.

Begitu pula dengan Fraksi PKS di cimahi...Dia menang ketika memperjuangkan insentip guru mengaji.. menang juga ketika memperjuangkan TPP bagi PNS... tapi kalah ketika menolak anggaran untuk PRC ... kalah ketika menolak pinjaman ke bank dunia untuk Ps atas baru... de el el

Tapi sy menyakini... setiap kebaikan yang kemudian diperjuangkan menjadi kebijakan... maka selama kebijakan itu dilaksanakan ..pahala nya tak akan henti mengalir...

#Mengenang ustadz tajuddin (alm)

-----------------------
integrity : doing what is right even when it is difficult

 


Mencerdaskan masyarakat memang butuh perjuangan panjang, butuh tarbiah bekesinambungan.  Mengajak mereka untuk mengaji pun terkadang luar biasa sulitnya. Eh jangankan mengaji, sholat saja terkadang mereka masih sering melupakannya.  
Pemahaman agama yang kurang, ekonomi yang sedemikian sulit,pengaruh tontonan dan pertemanan yang tidak kondusif membuat mereka berpikir pragmatis.  

Perjuangan memang masih sangat panjang.  

Lihat pula diujung sana di perumahan cukup elit, ada beberapa penduduk yang katanya terdidik yang terlanjur apatis, yang lebih memilih untuk tak memilih.  Katanya politik itu kotor, tanganku sudah bersih buat apa ikut kecebur dan nantinya kebawa dosa karena memilih yang tidak amanah. Katanya buat apa bawa - bawa agama dalam berpartai, nanti mengotori agama. 

sumber:goemilar.wordpress.com
Padahal tak ada yang sempurna di dunia ini, kita bisa memilih dari yang paling sedikit korupsinya. Karena mereka bukan kumpulan malaikat yang bisa terbebas dari dosa. Tanyalah diri kita apa kita pernah melakukan dosa? Lalu ketika kita melakukan dosa apakah kita sedang membuat agama kita kotor?  Terbayang, betapa kotornya agama kita karena berjuta pemeluknya yang telah berdosa. Agama kita  tak pernah kotor karena kelakuan kita, yang kotor adalah para pelakunya bukan agamanya. Kita harus mampu membedakan itu, antara kebenaran yang hakiki dengan pelaku kebenaran itu sendiri.

Tidak peduli ketika pemilu, tapi ribut-ribut ingin pemerintah bersih, ribut ingin memiliki pemimpin yang baik. Jadi ingat tulisan Emak Ida Nur Laela di blognya...

 Banyak orang baik dan jujur (tapi tidak peduli), memilih membeli sabun anti septik dan cairan steril agar tangan tak tercemar politik dan kampanye ‘menjijikkan’.
Menonton di pinggir dengan baju bersih, membiarkan orang-orang ‘kotor’ berkelahi berebut kekuasaan sambil menadahkan tangan bersih kita, berdoa kepada yang Maha Kuasa...agar tiba-tiba lahir pemimpin bersih, baik, jujur dan adil dari pergulatan orang-orang kotor yang disingkiri....
 
"Tauk ah.... saya tidak mengerti politik" paling itu yang keluar dari mulut teman-temanku, ketika kutanya tentang politik.....Sebegitu apatisnya dirimu kawan? Tak inginkah engkau berlelah - lelah sedikit saja untuk mencari seseorang yang baik yang layak menjadi wakilmu di parlemen. Padahal dirimu yang paling sibuk mengkritisi sistem pendidikan di negeri ini. Tak sadarkah dirimu kawan,  bukankah sistem pendidikan di negeri ini imbas dari sebuah kata bernama "POLITIK"?.  Bukankah sisitem perekonomian di negeri ini adalah hasil dari sebuah kata bernama "POLITIK" ?

Temanku yang satu lain lagi, "Aku benci ketika pemilu atau pilpres atau pilkada tiba, kotaku jadi semakin kotor..." "Memang aku suka?" Tukasku.  Tidak adanya regulasi yang mengatur itu membuat para caleg terbawa arus, karena tak tau lagi bagaimana mereka mensosialisasikan dirinya".  Imbuhku.  Nulis di koran? Realistislah, tidak banyak orang yang suka membaca dan berkemampuan untuk berlangganan koran. 

Kalau kau benci itu, pilihlah wakilmu yang bisa menyuarakan aspirasimu.  Kalau mereka banyak pasti bisa merubah itu, dan memikirkan cara bagaimana sosialisasi yang efektif yang tidak membuat kota kita menjadi kotor....

Ah banyak sekali PR kita di masyarakat. Semoga banyak yang peduli, tidak sibuk dengan diri sendiri... *ngomporin diri

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^