**/ Cerita Ida : Film Ada Surga di Rumahmu, Segelas Air di Tengah Dahaga

blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

25 Mar 2015

Film Ada Surga di Rumahmu, Segelas Air di Tengah Dahaga

Setelah film Sang Murrobi dan Film Sang Pencerah rasanya sudah lama tidak disuguhi film yang bernafaskan Islam yang kental. Di tengah dahaganya akan film yang bernafas Islam kini telah hadir film Ada Surga di Rumahmu, sebuah film yang sarat dengan nilai-nilai dakwah Islam.  Film yang terinspirasi dari buku Best Seller karya Ust Ahmad Al Habsy ini mengambil syuting film di Palembang lengkap dengan pemandangan Sungai Musi, perahu dan rumah-rumah panggungnya yang khas dan cantik.  Film ini banyak menggunakan dialog bahasa Palembang tapi penonton tetap dapat menikmati film ini karena langsung diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.


Kisah dimulai dengan menceritakan sosok Ramadhan kecil yang sekolah di sebuah madrasah kecil.  Sosok anak kecil tampan yang memiliki rotarika berdakwah yang menarik namun memiliki tipikal temperamental sehingga sering berkelahi.  Khawatir akan masa depan Ramadhan dengan emosinya yang labil akhirnya kedua orangtunya memutuskan untuk mengirimkan Ramadhan ke sebuah pesantren yang juga dipimpin oleh saudara sang Abuya ayah Ramadhan  (Budi Khaerul) yaitu Ustad Attar (Ust Ahmad Al Habsy).

Diiringi tangisan sedih ibunya (Elma Thiana), kedua adiknya serta Nayla ( Nina Septiani) seorang teman perempuan yang sepertinya menyimpan rasa senang kepada Ramadhan akhirnya Ramadhan pergi ke sebrang untuk mondok di pesantren.

Cerita bergulir dengan alur kehidupan Ramadhan di pesantren, Ramadhan yang sebenarnya bercita-cita ingin menjadi artis karena ingin terkenal dan banyak fansnya sering dihukum ustadz - ustadz di pesantren karena sifatnya yang badung sering kabur di malam hari untuk nonton televisi.  Ada satu kisah yang mengharukan saat Ramadhan diminta memukul tangan Ustadz Attar karena telah salah menghukum  dan menuduh Ramadhan telah berbohong.  Saat itu Ramadhan dihukum karena kabur dari pondok, saat ditanya apa alasan kabur ternyata jawaban Ramadhan adalah ingin menonton ceramah ustadz-ustadz terkenal di televisi dan Ustadz Attar menganggap itu bohong.

Cerita pun meloncat saat sepuluh tahun kemudian, Ramadhan kecil telah tumbuh menjadi pemuda gagah dan menjadi guru di pesantrennya bersama Ustadz Attar dan kedua temannya semasa mesantren.  Di sini konflik mulai muncul saat Ramadhan pergi ke Jakarta untuk mengikuti casting sebuah film laga atas rekomendasi kru film yang sedang syuting film yang menggunakan pesantren tempat Ramadhan menuntut ilmu dan mengajar sebagai lokasinya.  Saat syuting di pesantren ini pula Ramadhan bertemu dengan Kirana yang sedang mengikuti syuting sebagai figuran.

Ada konflik cinta segitiga antara Ramadhan, Kirana dan Nayla, karena dikemudian hari ternyata Ramadhan dipertemukan kembali dengan Kirana saat memenuhi undangan sebagai penceramah menggantikan Ustadz Attar di rumah orang tua Kirana.  Ada kisah Ramadhan  dengan honornya yang dibagi fitty fifty dengan sang ibu, ada kisah sang ibu sakit dan muntah di pesta ulang tahun pernikahan orang tua Kirana.  Ada cerita Ustadz Attar sebelum meninggal tentang pengorbanan Abuya Ramadhan yang mendonorkan ginjalnya untuk Ustadz Attar dengan imbalan agar sang Ustadz menyelipkan nama Ramadhan disela-sela do'anya.

Bila penasaran dengan film ini, silakan nonton film ini yang akan tayang mulai 2 April nanti.  Tidak akan rugi deh, sarat akan makna dan petuah tanpa menggurui.  Secara keseluruhan film ini menarik untuk ditonton walau ada satu dua yang mengganjal seperti misalnya saat Nayla ditawari dibonceng naik motor oleh Ramadhan Nayla menolak dengan kata - kata "Kan bukan muhrim.."  Eh tapi akhirnya ikut juga, jadi seolah kata-kata "Kan bukan muhrim" hanya candaan saja hehe...

Yang saya suka film ini hanya menjadikan kisah cinta segitiganya Ramadhan sekedar sebagai bumbu penyedap saja, hingga film ini cukup layak tonton juga untuk anak-anak.  Para pemeran film nya pun bermain total dan menghayati perannya dengan baik hingga membuat penonton terbawa suasana.  Dialog-dialog lucu pun diselipkan  membuat penonton tertawa, cukup menghibur.  Hanya saja pastikan kita membawa tisu karena kisah tentang perjuangan dan bakti kepada orang tua memang selalu menguras emosi kita.


Sebuah film layak tonton, seorang Ridwan Kamil pun berjanji akan mempromosikan film ini bukan karena pesan sponsor tetapi karena sarat akan nilai-nilai kebaikan yang tidak menggurui. Energi setelah nonton ini memang luar biasa ada niat, ada doa, ada kebaikan-kebaikan. Sementara Ustadz Ahmad Al Habsyi mengatakan bahwa cerita ini lebih karena untuk menghina dan memarahi kebodohan masa lalu diri, sibuk mencari kemuliaan tetapi hina di mata orang tua. Apalagi orang tua sosok yang sangat berjasa, istri ada istilah mantan, suami ada istilah mantan sementara ayah dan ibu tidak ada istilah mantan. Beliau titip pesan agar anak-anak yang mengingat jasa orang tua terutama ibu, kata beliau ibu ngeden keluar kita. tapi kita ngeden tidak keluar ibu.... hihi...

Nonton yuuk, serius deh.. betul sekali energi setelah nonton ini film ini memang luar biasa, saya aja besoknya langsung pergi ke rumah ibu, malamnya bermimpi ketemu bapak almarhum dan dalam mimpi kita pun berpelukan melepas rindu..bangun-bangun airmata pun mengalir tak tertahan.  Senang bisa melepas rindu walau hanya dalam mimpi......


11 komentar :

  1. Wah, jadi penasaran sama filmnya Mak. Smga di bioskop sini nanti jg tayang :)

    BalasHapus
  2. Penasran banget, seperti apa filmnya, ingin banget lihat langsung. kapan ya tayang di bioskopnya :D
    obat maag kronis

    BalasHapus
  3. Semakin penasaran sama nih film. Dari reviewnya saja sudah mantap dan banyak pesan-pesannya yang baik.

    BalasHapus
  4. bakalan berlinang air mata nih kayaknya

    BalasHapus
  5. ahh..mak jadi penasaran nonton, kemaren cancel deh nobarnya hiks..

    BalasHapus
  6. "Kan bukan muhrim" nya mungkin cuma basa-basi mak, malu2 mau hehe. Jadi kangen nonton bioskop, udah 4 tahunan ga nonton hehe

    BalasHapus
  7. wah sepertinya menarik sekali film ini....pasti sedih banget dah :(

    mampir2 yaaa ke blog Ca Ya

    BalasHapus
  8. dunia perfilman kita mulai ramai film bernuansa Islam nih sepertinya ya Mba :)

    BalasHapus
  9. yang eksotik adalah ketika Ramadhan di sore hari ngobrol dengan Nayla dengan latar belakang keindahan jembatan Ampera di sungai Musi.

    BalasHapus
  10. bu.. maaf, saya kasih catatan sedikit.. karena film ini merupakan besutan dari orang2 syiah.. perlu hati2 menontonnya..

    BalasHapus
  11. film ini cukup bagus, suka sama akting Ramadhan kecil, Nayla cantik banget, sayangnya secara keseluruhan film ini terlalu bawel ceramahnya, mestinya diperhalus lagi, jika dibandingkan dgn film sejenis HIJRAH CINTA, masih lebih unggul Hijrah Cinta

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^