**/ Cerita Ida : Jiwa yang Lapar

blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

11 Sep 2015

Jiwa yang Lapar

Manusia membutuhkan makanan agar tubuhnya sehat, kuat dan dapat beraktifitas dengan nyaman dan semangat.  Kalau tubuh kita kekurangan asupan makanan tentu yang terjadi adalah rasa lapar hingga tubuh kita menjadi lemah,lesu, letih dan lemas.  Kita jadi tidak semangat bekerja atau mengerjakan apa pun. 

Sebetulnya selain tubuh kita  secara fisik, jiwa kita yang mengisi jasad kita atau biasa disebut ruh kita pun memerlukan makanan.  Bila kita tidak memberinya makanan maka jiwa atau ruh kita pun akan merasakan kelaparan. 

Berbeda dengan jasad kita yang mudah terdeteksi apabila merasa lapar dengan tanda yang sudah disebutkan di atas, ruh kita akan sedikit sulit terindikasi kalau merasa lapar.  Kita yang mempunyai ruh kadang tidak menyadari bahwa ruh kita sedang lapar. 

Apa makanan jiwa kita?  Makanan jiwa kita adalah asupan-asupan kalimat yang bergizi berupa siraman rohani yang mengingatkan kita, membekali kita, menyadarkan kita hakikat hidup kita di dunia ini. Asupan makanan ruhani kita bisa sholat-sholat khusyu kita, lantunan ayat-ayat suci al qur'an yang kita baca dengan khusyu dan kita resapi maknanya.

sumber: merdeka.com
Ketika ruh kita tidak mendapat asupan yang diperlukanya maka dampak dari kelaparan ruhiyah adalah sikap menganggap ringan dosa.  Semakin lapar jiwa kita semakin mudah kita berbuat dosa, semakin banyak dosa akan mengakibatkan jiwa kita sakit bahkan jiwa kita mati.

Ketika ruh kita lapar kita dengan mudah membuang-buang waktu kita untuk sesuatu yang tidak berguna, menggunjing, ngerumpi, membincangkan kealpaan orang lain seakan kita adalah manusia tanpa alpa. Mendengarkan musik yang melenakan dan menghanyutkan, meonton film yang membuat kita berangan-angan.

Padahal waktu adalah kehidupan, padahal waktu adalah modal hidup kita.  Seandainya kita seorang  pengusaha, sukakah kalau modal kita dibuang - buang dengan percuma, tentu kita akan merasa rugi.  Demikian juga dengan waktu, sayangnya jarang diantara kita yang menyadari bahwa waktu adalah modal yang Allah SWT berikan untuk digunakan sebaik-baiknya agar menghasilkan keuntungan yang besar yang bisa kita petik di akhirat nanti.

Supaya ruh kita tidak lapar, kita harus melakukan tarbiyah dzatiyah, yaitu pembinaan yang diberikan oleh diri kita kepada diri kita sendiri agar terbentuk pribadi yang  terus berubah menjadi pribadi yang semakin dekat dengan Allah SWT.  Pribadi yang selalu berubah menjadi lebih baik dalam segala aspek baik ruhiyah, jasadiyah maupun fikriyahnya.

Siapa lagi yang akan membina diri kita kalau bukan diri kita sendiri, karena nanti di alam penghisaban bersifat individual, siapa lagi yang bakal peduli kepada kehidupan kita di alam akhirat nanti, selain diri kita sendiri....

Yuuk mari kita sama-sama peduli pada diri kita, tidak hanya fisik saja yang kita dandani, kita percantik tapi jiwa kita amburadul penuh dosa dan maksiat.  Kalau kita termasuk orang yang mudah tersinggung, mudah marah dan mudah membicarakan kealpaan orang lain, melupakan persiapan kehidupan di akhirat dan terlalu mencintai dunia, kita patut hati-hati, itu salah satu tanda jiwa kita sedang lapar, sedang bete alias butuh tausyiah.....

Karena yang akan menolong kita di akhirat nanti bukanlah wajah kita yang kita percantik, fisik kita yang kita perindah, tapi yang akan menolong adalah jiwa-jiwa kita yang selalu rajin kita bina, kita pelihara dan kita bersihkan..... ^_^

areminderformyself

5 komentar :

  1. Warning ya, ketika mulut mulai nggosip, sholat diakhir waktu, gampang tersinggung, gampang suudzon berarti tanda jiwa sdg butuh makan. Terimakasih sudah mengingatkan mba Ida

    BalasHapus
  2. bukan hanya dari luarnya saja kita bersih, tapi dari dalamnya juga :)

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^