**/ Cerita Ida : Cerita Lebaran Asyik : Rahasia di Balik Rutinitas Mudik

blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

24 Jul 2016

Cerita Lebaran Asyik : Rahasia di Balik Rutinitas Mudik

Lebaran sudah berlalu beberapa waktu yang lalu, menyisakan sebuah memori yang selalu indah untuk dikenang. Indah dikenang?  Ya memang indah, dan kenangan ini selalu ingin di ulang setiap tahunnya. Berkumpul dengan keluarga besar dan merasakan sensasi suasana desa saat mudik.  Dua hal yang selalu dirindukan dan selalu diusahakan untuk selalu dilakukan.

Dulu, sebelum menikah saya tidak pernah mempunyai ritual mudik karena memang keluarga besar semua berada di Bandung.  Sempat juga bersikap nyinyir terhadap orang-orang yang memaksakan mudik di setiap menjelang hari raya lebaran. Sempat mempunyai pikiran negatif, kok sebegitunya orang memaksakan mudik di hari raya, kan silaturahmi tidak harus saat lebaran. Rela berpanas-panas dan bermacet-macet ria, demi apa coba... Itu yang ada dibenak saya saat itu.

Setelah menikah, ternyata mertua saya tinggal di Tasikmalaya, mulailah ritual mudik harus saya jalani.  Setiap hari raya lebaran harus ada acara mudik.  Awalnya memang suasana mudik tidak menyenangkan, terlebih saat itu membawa anak-anak yang masih kecil.  Sampai di perjalanan saya sempat bernyanyi "Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan..." Hahaha.... itu pengalaman pertama mudik bawa anak-anak.

Mudik kedua, ketiga dan seterusnya dengan membawa anak-anak masih kecil malah menjadi acara yang mengasyikan karena saya sudah tau mengantisipasi hal-hal yang tidak menyenangkan selama perjalanan.  Misalnya berangkatnya  jadi malam hari karena kalau malam kan waktunya tidur jadinya anak-anak tertidur lelap selama dalam perjalanan.  Perjalanan Cimahi - Tasik yang normalnya tiga sampai empat jam saat momen mudik bisa menjadi 6-7 jam karena macet. Itu pasti membuat anak pusing, mual dan akhirnya pada rewel, nah kalau malam kan jadi tidak terasa karena anak-anak semua tertidur.

Itu pun dulu saat kami selalu memaksakan diri mudik pas hari H karena ingin bertemu orang tua saat lebaran.  Tapi kemudian Papah Aki -demikian kami memanggil bapak mertua- merasa kasihan, dan meminta kami datang saat kemacetan sudah mereda saja.


Anak-anak ceria bertemu sepupu
Seperti mudik tahun ini, akhirnya kami pergi beberapa hari setelah puncak arus balik.  Kurang lebih dua mingguan pasca lebaran.  Pergi tetap malam hari, jadi kita datang sekitar jam 11 malam an.  Mengganggu tuan rumah sih ya... tapi orang tua kami tidak keberatan asal anak-anak merasa nyaman di perjalanan.  Setelah bermaaf-maafan dan melepas rindu, kami kemudian minum teh manis hangat yang entah mengapa selalu terasa nikmat.  Setelah bebenah kami semua pun tertidur dengan lelapnya.

Mulailah hari yang menyenangkan di pedesaan yang nyaman kami mulai.  Udara yang masih segar, pemandangan masih penuh dengan penghijauan terhampar di depan mata, sesaat melupakan suasana kota yang bising dan penuh dengan polusi.  Sewaktu anak-anak masih kecil, selepas sarapan, papah aki selalu mengajak kami main air di Cekdam, yaitu sungai kecil yang penuh bebatuan kecil dan besar.  Di sana kami bermain air  yang begitu dingin dan jernih.  Bersenda gurau saling mencipratkan air, sungguh sebuah momen yang manis untuk dikenang.



Perjalanan menuju cekdam juga tak kalah menyenangkan, karena kami harus melalui hamparan sawah yang hijau terbentang.  Berjalan di pematang sawah, adalah momen yang jarang kami lakukan.  Usai bermain air, kami pun makan siang di saung dekat sawah setelah sebelumnya memancing ikan, kemudian membumbui dan membakarnya.  Tak lupa mengambil kelapa muda untuk minumnya.  Hmmm nikmat sekali, membuka bekal yang kami bawa, membuat sambel dadak dan kemudian makan siang bersama-sama.  Suasana yang tidak bisa dibeli di restoran mahal sekali pun.


Acara bakar-bakar ikan yg mengasyikan
Setelah anak-anak besar,  kegiatan rutinitas ke cekdam dihilangkan.  Tak kalah menyenangkan, acara pengganti yang kami lakukan adalah memancing ikan, membakarnya dan melahapnya saat makan siang bersamaan dengan lauk lain yang sudah ibu mertua persiapkan.  Hmm... tetap nikmat meski tak lagi dilakukan di saung dekat sawah dan kolam ikan. Mungkin suasana kebersamaannya lah yang membuat makan ikan bakar dan teman-temannya ini selalu terasa nikmat.

Momen-momen mudik seperti inilah yang selalu dikenang dan selalu dirindukan, Bertemu dengan keluarga besar  di suasana desa yang segar dan nyaman, memang memberi sensasi lain setelah sekian lama kami bergelut dengan suasana kota yang macet dan penuh dengan polusi. 



Kini saya tak pernah berpikiran nyinyir lagi kepada orang-orang yang memaksakan mudik meski harus menghabiskan banyak waktu, biaya, bermacet-macet dan berpanas-panas ria.  Di balik semua itu memang ada suasana yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apapun.  Mudik memang selalu terasa seperti itu.... Mungkin itulah rahasia di balik mengapa orang selalu berusaha memaksakan mudik setiap tahunnya.  

By the way any way...hihi...sebelum postingan ini ditutup ada kabar menarik buat para pecinta hijaber lho, catat waktu dan tempatnya... jangan sampai ketinggalan..ya...


Upcoming event dari Diaryhijaber yaitu Hari Hijaber Nasional...
  • Nama Acara: Hari Hijaber Nasional,
  • Tanggal: 07 Agustus 2016 – 08 Agustus 2016
  • Tempat: Masjid Agung Sunda Kelapa,  Menteng, Jakarta Pusat
 Yuuk kita ramaikan acara keren ini ...:)

24 komentar :

  1. Aku juga nggak pernah mudik, dulu atau pun sekarang karena suami satu kota. Paling hari pertama ke Boyolali untuk acara silaturahmi rutin tahunan, Itupun langsung balik begitu acara selesai, hihiii

    BalasHapus
  2. memang seru ya mudik, alhamdulilah gak pernah sampai amcet sekali karena aku mah arahnay berlawanan sama yang mudik jadi lancar jaya

    BalasHapus
  3. Mudik selalu seru dan asyik, meskipun perjuangannya tidak ringan.
    saya juga mudik bareng anak istri ke Jawa Timur
    salam sehat dan semangat :)

    BalasHapus
  4. Memang ya mudik adalah perjuangan :D

    BalasHapus
  5. aku biasanya mudik antar pulau, tapi sekarang udah satu pulau sama mertua, jadi mudiknya deket, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wsh asyik juga antar pulau tuh :) Tapi lebih dekat mah lebih praktis ekonomis ya :)

      Hapus
  6. Mudik antar pulau saya juga pernah ketika dinas di Balikpapan dan Palembang. Antar kota juga sering.
    Mudik penting untuk nengok orangtua dan kerabat serta sahabat.
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah memang mudik itu penting ya, asyiknya bisa mudik antar pulau :)

      Hapus
  7. Mudik seru yaa mba, dulu juga penah ngalamin mudik menyebrang pulau. Tapi sekarang dekat aja, perjalanan darat 1,5jam InsyaAlloh sampai :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Deket banget mudiknya sekarang ya mba... Kyk sy ke ortu paling 20-30 menit kalo via tol :)

      Hapus
  8. seru banget cerita mudiknya mbak :)

    BalasHapus
  9. mudik juga rutinitas saya sejak kecil. dulu masih ikut ortu, mudiknya ke rumah nenek yang hanya berjarak sekitar 2 jam perjalanan. eh sekarang dapat suami yg beda provinsi. jadi mudik ke rmh mertua jauh... hihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah rada-rada mirip mudik jauh pas sudah nikah, tp sy gak terlalu jauh ya :)

      Hapus
  10. ngumpul2nya (dan makan2nya) sih yang bikin kangen lebaran

    BalasHapus
  11. Acara bakar ikan sepertinya asik banget ya mba

    BalasHapus
  12. sekarang jd udah tau asyiknya mudik ya mbak, nagih kan jadinya :D

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^