**/ Cerita Ida : Hari Anak Nasional : Antara Harapan dan Kenyataan, Antara Idealita dan Realita

blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

23 Jul 2016

Hari Anak Nasional : Antara Harapan dan Kenyataan, Antara Idealita dan Realita


Bersyukur sekali bisa ikut program ODOP, terlebih di hari Anak Nasional tanggal 23 Juli ini harus menulis tentang harapan di hari anak.  Kalau tidak ikut ODOP mana mungkinlah saya menyempatkan diri menulis tentang ini.

Tidak ingin menulis secara global tentang Hari Anak, berbicara ini membuat saya jadi berpikir kilas balik mimpi dan harapan saya.  Ya, harapan saya kecil, harapan saya menginjak dewasa dan harapan saat menjadi orang tua dan realita yang ada.

Terlahir dari sepasang suami istri yang bekerja membuat saya bercita-cita ingin menjadi seorang ibu yang di rumah saja.  Mungkin saya dulu kesepian ya, hingga di alam bawah sadar terekam keinginan kuat untuk bisa menjadi full time mother.  Untungnya waktu itu orang tua saya cukup ketat soal agama dan pergaulan jadinya saya enggak jadi anak nakal, mengingat saya lebih banyak berjalan tanpa arahan, selain soal sholat, ngaji dan tidak boleh ke acara-acara pesta-pesta. Padahal peluang menjadi nakal besar sekali, saya bisa berjam-jam di rumah seorang diri, atau bawa geng saya untuk main di rumah karena rumah kondisi kosong.  


Jadi ingat mantan pegawai saya yang akhirnya pindah kerja ke sebuah pabrik.  Rumahnya pun kosong karena suami istri bekerja.  Alhasil, anaknya sering bolos sekolah dan rumahnya jadi tempat kumpul anak -anak yang bolos dari sekolah baik itu laki-laki dan perempuan.  Akhirnya seorang perempun anak tetangga saya yang lain yang sering kumpul di situ married by accident, sekolah pun putus tidak selesai.  Sementara anak pegawai saya (laki-laki) itu konon harus menikahi temannya (perempuan lain yang sering kumpul di situ) yang juga hamil di luar nikah.  Padahal mereka semua baru kelas 10 dan 11. 

Makanya saat hamil anak pertama saya langsung memutuskan resign dari pekerjaan saya di sebuah rumah sakit.  Suami pun mendukung keputusan tersebut, alhasil waktu masa kehamilan anak pertama saya betul-betul mempersiapkan diri dengan membeli banyak buku tentang pendidikan.

Dulu saat menjadi anak, saya berpikir, engga boleh begini nih kalau jadi orang tua nanti, engga boleh begitu.  Enggak akan seperti ini dan seperti itu.  Tapi kenyataannya..ternyata susah juga jadi orang tua ya... Jadi mulai berpikir oh pantes dulu kenapa orang tua saya begini dan begitu.

Intinya memang antara teori dan realita itu berbeda, sering bentrok antara idealita kita dengan kondisi fisik dan psikis kita sebagai orang tua.  Ternyata tak semudah dan sesederhana bayangan ketika kita belum menjadi orang tua.  Kalau menurut saya ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua terhadap anaknya yaitu :

Emosi Orang Tua

Anak sebagai individu yang tidak berdaya sering menjadi korban dari orang tua yang marah, kecewa, kesal dan seabreg emosi negatif yang dimilikinya.  Anak sebagai sesuatu yang didambakan, dimohonkan dalam lafal do'a-do'a kita, namun ketika telah hadir sering menjadi objek dari kekecewaan kita.

Berapa banyak anak yang menjadi korban 'keganasan' orang tua yang kecewa dan memiliki beban berat dalam hidupnya.  Mungkin saja orang yang menyiksa anaknya bukan orang yang tidak memahami permasalahan tumbuh kembang anak.  Tapi karena kondisi yang menghimpit anak yang tak berdaya menjadi sasaran empuk dampak dari permasalahan kita.

Padahal anak adalah investasi akhirat kita, do'a anak yang sholeh akan menjadi penolong kita di akhirat.  Tapi jangan lupa tugas kita lah menyolehkan anak kita.  Dan sebelum menjadikan anak kita sholeh, kita sebagai orang tuanyalah yang harus sholeh terlebih dahulu.  

Rasulullah telah mencontohkan bagaimana ia sangat lemah lembut dan teramat sayang pada anak-anak.  Ketika beliau menggendong seorang anak dan anak itu pipis di bajunya.  Si ibu otomatis merenggut anak itu dari rasulullah.  Rasullah pun berkata  kurang lebih seperti ini "Pipis di baju saya bisa segera bersh dengan dicuci, tetapi renggutan tanganmu yang kasar akan terekam erat dalam benaknya"

Perilaku Orang Tua

Suka risih kalau melihat prilaku anak balita bahkan batita di gang-gang kecil yang saya lewati.  Pernah liat seorang batita yang berselisih paham dengan anak yang lain.  Seketika raut wajahnya berubah marah dan sumpah serapah, kata-kata kotor serta nama binatang pun keluar dari mulutnya.  

Anak adalah peniru ulung, orang tua memiliki posisi yang sangat signifikan untuk menjadi role model utama dan pertama anak.  Saya pernah memerhatikan foto-foto seorang anak, kemudian saya bandingkan dengan ibunya ternyata banyak sikap sang anak yang menyerupai ibunya. Jadi orang tua harus memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya.

Pemahaman Orang Tua

Dulu waktu pegawai laundri saya masih banyak, mereka kan stalking terus ya kehidupan keluarga saya.  Karena memang ruang laundry dan rumah berdampingan dan bagian belakangnya bersatu.  Ada diantara mereka yang suka membawa anaknya dan memandikan anaknya itu ketika sore hari di rumah.  Dan mereka begitu peduli soal mandi, makan, baju si anak yang harus bagus dan rapi.  banyak ngerumpiin anak-anakku yang terkadang hanya mandi sekali, seakan merekalah anak yang sangat peduli pada anaknya dan saya tidak sama sekali.

Mereka tidak melihat kalau anak-anak mereka berkata kotor, tidak sholat,dan hal buruk lainnya.  Tidak melihat kalau anaknya yang sudah besar sering bolos sekolah dan nakal.  Itulah masyarakat kita secara umum, waktunya habis untuk menilai orang sementara keluarga sendiri tidak dilihat.  Banyak diantara mereka yang pemahaman soal mendidik anak hanya sekitar urusan fisik anak-anak mereka saja.  Masih banyak di masyarakat kita yang belum tau cara mendidik anak yang baik, karena kita memang tidak pernah mendapatkan pelajaran cara menjadi orang tua.


Sumber: eductory.com
Lingkungan Sekitar

Ketika kita sudah mendidik anak sedemikian rupa, kadang terbentur dengan kondisi lingkungan sekitara kita yang tidak kondusif.  Contoh soal ada seorang ibu yang cukup keras soal sholat kepada anaknya, ia tinggal dekat dengan mertuanya.  Setiap ia mengingatkan soal sholat kepada anaknya sang mertua pun berucap "Keun we atuh da can wajib..".  Si anak pun pastilah mengikuti kata neneknya yang lebih menyenangkannya.

Lingkungan sekitar memang sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.  Untuk itu kita sebagai orang tua harus membuat anaknya imun atau kebal terhadap virus lingkungan yang tidak baik.  Bukannya membuat steril sang anak, karena virus akan selalu ada dimana pun berada

Peranan Pemerintah 

Melihat kondisi masyarakat yang masih jauh dari masyarakat yang cerdas dan bertakwa, seyogyanya pemerintah sebagai eksekutor yang memiliki kekuasaan berperan lebih aktif dalam memperbaiki kondisi ini. Penduduk yang sekarang masih anak-anak akan membentuk peradaban negara ini  beberapa puluh tahun ke depan.  Untuk itu pemerintah bekerja sama dengan orang tua harus peduli pada tumbuh kembang mereka.

Hal yang harus dilakukan pemerintah adalah membuat sebuah gerakan konkrit peduli keluarga yang memberikan pemahaman akan pentingnya ketahanan keluarga untuk masa depan anak itu sendiri dan bangsa ini secara umum,


Beberapa faktor di atas adalah faktor-faktor yang menurut saya penting yang harus saling mendukung agar pendidikan terhadap anak-anak kita bisa maksimal.


16 komentar :

  1. mbak ida keren..menulis sekaligus pemilik laundry salut deh...lingkungan memang sangat berpengaruh untuk tumbuh kembang anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak keren mba biasa aja kok...yup lingkungan sangat berpengaruh :)

      Hapus
  2. Mendidik anak sejatinya mendidik diri kita sendiri. Ya kan Mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali mba.... anak itu cermin kita ternyata :)

      Hapus
  3. anak itu adalah tempat orang tua belajar tentang kehidupan juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya... mba suka belajar banyak dari anak-anak :)

      Hapus
  4. Anak yg srg berkata kasar dan kotor, itu srg bgt aku jumpai di lingkungan rumahku jg mbak. Kdg2 tuh anak2 triak2 memaki temannya, aku sampe miris dan slalu coba tutup telinga si kaka dan adek supaya mrk ga dgr kata2 kasar bgitu. Kalo telanjur, ya kdg2 hrs aku jelasin kalo itu kata2 ga bagus yg ga boleh diucapin.

    Kadang aku sampe berdoa ya, kalo anakku sampe ga terlalu menonjol di bidang akademisnya, ga masalah, tapi dia harus menonjol dlm hal perilaku, akhlak, kesopanan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang harus banyak do'a mba usaha manusia mah hanya sedikit yang banyak ternyata do'anya :)

      Hapus
  5. Anak teman saya begitu pintar di sekolahnya. Mempunyai banyak prestasi dalam berbagai kejuaraan. Disayang gurunya krn mengharumkan nama sekolah. Tapi akhlaknya...perilakunya... MasyaAllah... saya sampai berfikir mungkinkah ortunya terlalu fokus pada pendidikan akademis dan prestasi anaknya sehingga terlupa untuk menanamkan akhlak baik? Entahlah....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia, suka ada ortu yang ga paham itu, pintar tanpa diiringi pendidikan agama dan akhlak mah malah nanti merugikan :)

      Hapus
  6. antara teori dan realita suka banyak tantangan ya mak , noted bgt nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini dia calon ibu, hihi betul mba harus dicatat itu :)

      Hapus
  7. Bener... faktor lingkungan itu jg pengaruh bgt buat diri kita dan anak, tinggal kitanya aja ni sbg ortu gmn cara memberikan anti virus mencegah hal2 buruk dari lingkungan luar.

    BalasHapus
  8. Anak adalah cerminan orang tua dan lingkungannya
    selamat hari anak nasional'16
    salam sehat dan semangat :)

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^