**/ Cerita Ida : Ketika Emak Rempong Harus Profesional

blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

3 Feb 2017

Ketika Emak Rempong Harus Profesional


"Umi mah dari dulu belajar wae....kapan profesionalnya?"

Saya masih ingat ucapan anak keempatku Mushab, saat ia masih duduk di kelas 3 an.  Sekarang dia sudah duduk di kelas 6 berarti itu terjadi tiga tahun yang lalu.  Dialog tersebut terjadi saat dia mau pinjam laptop tapi saya larang.  Dia keukeuh pengen pinjam dan mengatakan kalau saya -umi nya- kerjaannya fesbukan aja.  Tentu saja ga kepengen keliatan seperti itu oleh anak, walau kenyataannya memang seperti itu..hihi... saya ngeles dong, akhirnya kukatakan kalau di fesbuk saya punya banyak grup, grup nulis, grup bisnis, grup ibu profesional.  Eh malah dikatain kalimat di atas oleh anakku..heuheu...


Profesional, sebuah kata yang mudah diucapkan tetapi cukup sulit untuk direalisasikan terutama sebagai ibu rumah tangga.  Makanya saya salut banget  kepada Ibu Septi Peni Wulandari Sang pendiri Institut Ibu Profesional.  Berawal dari pesan suaminya "Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka Allah akan menguatkan kamu di luar..".  Akhirnya Ibu Septi menjadi pribadi yang sukses karena berhasil menjadi orang tua yang sukses menghantarkan semua anaknya menjadi anak yang hebat.  Kemudian berupaya menularkan kesuksesannya itu kepada seluruh ibu di tanah air ini.  Beliau sekarang menjadi pribadi yang memberi banyak manfaat untuk orang lain.  Jadi inget hadist yang mengatakan: Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling berguna bagi orang lain..

Untuk menjadi pribadi profesional di rumah tangga tentu lebih sulit dibandingkan dengan menjadi profesional di dunia kerja atau di dunia usaha.  Itulah mengapa begitu banyak ibu rumah tangga yang stagnan, tidak berkembang dan malah akhirnya sibuk dengan urusan pribadinya *sambil lirik cermin ini mah.

Ibu rumah tangga jadi identik dengan pribadi sederhana berdaster atau bercelemek.  Dituduh tukang gosip dan ngerumpi, tukang belanja, menghamburkan uang suami, serta sederet label yang tidak populer lainnya. Itu semua karena sebagai ibu rumah tangga kita sendirilah managernya, kita pemimpinnya, tidak ada kompetitor, tidak ada atasan yang menilai kinerja kita secara langsung, tidak ada yang mengevaluasi target, tidak ada yang mengontrol dan sebagainya.  Akhirnya dengan semua rutinitas dalam hidup, berbagai romantika dalam perjalan kehidupan, profesi menjadi ibu rumah tangga menjadi apa adanya..., sahayu nya kalau dalam bahasa sunda.  Bahkan bisa saja menjadi sebuah rutinitas yang membosankan.

Para ibu yang mungkin saja sebetulnynya berpendidikan tinggi, melupakan apa yang dipelajarinya di bangku kuliahnya  dan ilmu yang didapat hanya menjadi sesuatu yang dilupakan begitu saja.  Mana itu Planning, Organizing, Actuating plus Controlling, ilmu manajemen dasar yang dipelajari di bangku kuliah di hampir semua jurusan?  Adakah itu kita aplikasikan dalam rumah tangga kita? *ngelirik cermin lagi.

Padahal menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang teramat mulia, penentu sebuah peradaban, baik buruknya peradaban tergantung kita para ibu rumah tangga.  Kelak di akhirat kita tidak akan ditanya apakah kita bekerja dan memenuhi kebutuhan materi rumah tangga kita.  Karena itu adalah kewajiban para suami, yang akan ditanya adalah tanggung jawab kita dalam rumah tangga.


Kembali ke laptop, pertanyaan anak saya yang kala itu masih belum genap delapan tahun itu memang menggelitik "Kapan profesionalnya..?".  Sebetulnya saya teringat pertanyaan anak saya ini saat saya mengevaluasi diri menjadi seorang bloger.  Membaca tulisan para jawara, jadi bercermin, "Kok..dari dulu tulisan saya gitu-gitu aja .." Melihat mereka yang berkembang cepat memperkaya, memperdalam kemampuan hingga terus melaju ke arah lebih baik.  Nah saya? Bukannya berkembang, malah mundur teratur.  Jadi malu melihat tulisan saya sendiri yang apa adanya, bukan ada 'apa'nya.

Sebuah perenungan yang kemudian berkembang pada karier utamaku sebagai seorang istri dan ibu bagi kelima anak-anakku.  Masih belepotan di sana-sini, banyak sekali yang harus saya benahi.  Padahal betapa banyak tauladan mendidik anak yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat.  Peradaban Islam gilang gemilang karena pada saat itu mereka mendidik anak-anak dan dirinya menjadi pribadi yang kokoh, cerdas dan bertakwa.

Kembali pada keprofesionalan, arti kata profesional adalah suatu aktivitas untuk mendapatkan kesenangan atau kontribusi dengan mengandalkan keahlian, keterampilan dan kemahiran kita yang tinggi dengan melibatkan komitmen pribadi (moral) secara mendalam.

Dari arti di atas ada beberapa variabel yang bisa kita ambil yaitu aktivitas, menyenangkan, ahli/mahir memberi kontribusi dan adanya komitmen.  Dari sana bisa kita ambil bahwa untuk menjadi profesioanl itu adalah:

Manajemen Aktivitas yang Baik
Manajemen aktivitas yang baik terletak pada manajemen waktu yang baik.  Manajemen waktu yang baik memungkinkan kita untuk bekerja lebih cerdas sehingga memungkinkan kita melakukan banyak hal dalam waktu yang singkat.

Memahami Siapa Diri Kita (Knowing Ourselves)
Ada banyak orang yang menipu diri sendiri dan menjadi pengekor orang-orang yang sukses. Padahal tiap pribadi memiliki keunikan tersendiri.  Cobalah mengevaluasi diri atau bertanya pada orang dekat di sekitar pendapat mereka tentang kita.  Buatlah list kelebihan yang kita miliki kemudian bandingkan dengan pendapat mereka.  Dari sana akan terlihat proporsi keunikan yang kita miliki.

Meningkatkan Keahlian (Expert)
Janganlah kita membatasi diri dengan pengetahuan yang kita miliki saat ini.  Orang sukses adalah orang yang berhasil menghadapi perubahan dan mampu menaklukannya. Update terus pengetahuan kita di bidang apa yang kita ingin menjadi profesional. Fokus pada kelebihan kita bukan pada kekurangan kita.  Eksplorasi terus, menyadari bahwa setiap kita memiliki keunikan yang bisa kita kembangkan untuk menjadi seorang yang ekspert.

Hasilkan yang Terbaik (Excellent)
"Profesional don't do different thing, they do thing differntly" Untuk menjadi profesional kita harus terus mengasah apa yang menjadi keunikan kita.  Sehingga kita menjadi ahli di dalam bidang kita dan bermanfaat bagi sekitar kita.  Lakukan yang terbaik hari ini untuk kita tuai di hari esok,  Selalu berpikir apa yang bisa saya lakukan untuk add value bukan apa yang bisa saya peroleh.

Berpenampilan Menarik (Good Looking)
Ada pepatah yang mengatakan First impression is very important, orang akan menilai kita di 10 detik pertamanya.  Seperti halnya kita mau nonton film lihat preview nya dulu, membeli barang liat kemasannya dulu... seperti itulah.

Nilai Moral yang Tinggi (Strong Value)
Dengan memiliki nilai moral yang tinggi kita akan mencapai tujuan dengan tetap berpegang teguh pada prinsip yang benar.  Dengan cara ini kita akan mampu mempertahankan sikap profesional yang selaras dengan idealisme kita.  Lambat laun orang akan memahami bahwa kita berbeda dengan orang lain yang tidak memiliki idealisme dalam hidupnya.

Memiliki Skala Prioritas (Priorities)
Menjadi profesional harus tahu skala prioritas dalam menjalankan berbagai peran.  Setiap kita pasti memiliki banyak peran dalam kehidupan ini seperti misalnya sebagai ibu, anak, istri, anggota organisasi, owner, karyawan, bloger (hihi..)  Kita harus mampu berfungsi dengan benar sesuai dengan peran yang kita jalankan  hingga kita menjadi seimbang dalam berbagai aspek.

Kita dapat menerapkan kesemua hal di atas dalam berbagai bidang yang kita ingin menjadi profesional di dalamnya.  Dengan mengembangkan sifat profesionalisme maka beberpa waktu ke depan kita akan memiliki kehidupan yang berkualitas tinggi.  Menjadi pribadi yang memiliki manfaat bagi sekitar kita.



10 komentar :

  1. manajemen aktivitas yang baik yaa.... masih belajar terus tentang hal ini

    BalasHapus
  2. ahhaayyy... mari kita menjadi emak profesional. Biar seragamnya dasteran yg penting penghasilan lumayan. Hihihiiii...

    Iya ya, Bu Ida, manajemen waktu itu perlu banget buat semua orang, apalagi emak-emak dengan segala aktifitasnya

    BalasHapus
  3. Emak2 yang bisa ngerjain urusan rumah, keuangan, anak2 sehat, aku yakin suami2nya bahagia..lah semua bisa dikerjain ya..

    BalasHapus
  4. Aku pengen kali mbak ketika sudah berkeluarga nanti jadi ibu, dan juga istri yang profesional. Terima kasih banget tulisannya mbak, dengan begitu aku bisa mempersiapkannya dari sekarang!

    BalasHapus
  5. Keren pisan Ida...... Thanks tulisannya... Btw wanita itu kan tenaganya lebih kecil dari pria..... So untuk membantu berjalannya tugas domestik, apakah full oleh sang istri, atau ada bantuan juga dari asisten rumah tangga atau suami atau orang tua atau mertua? BUkankah tugas domestik harus berjalan sementara kita harus mengasah keprofesionalan kita? .... Good Luck ..... hatur nuhun

    BalasHapus
  6. Paling penting memiliki manajemen waktu yang baik ya mba

    BalasHapus
  7. Assalammualaikum Ummi. Suka deh sama tulisan umi. :-) Memang di setiap apapun pekerjaan kita, entah jadi Ibu, Istri, Karyawan, Pembisnis, memang harus profesional ya mi. Profesional artinya memanajemen waktu dengan baik, menjaga amanah dengan melaksanakannya secara berkualitas. :-) Sukses terus ya umi.. :-)

    BalasHapus
  8. Puk puk puk teh Ida :) Padahal yang namanya hidup kan never ending learning, ya teh. Aku pun suka amaze iat yang ngeblognya melaju kencang. Aku masih gaptek kalau harus berurusan sama infografis, nih. Padahal pengen bisa. Effortnya kurang kali nih.

    BalasHapus
  9. Jangan lupa juga mba attitude ;)

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^