**/ Cerita Ida : Sukseskah Ramadan Kita ?

blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

13 Jul 2017

Sukseskah Ramadan Kita ?


Sukseskah Ramadan Kita? Ramadan sudah berlalu berbilang minggu,  bahkan sebentar lagi kita pun akan meninggalkan Bulan Syawal.  Masih kah kita bisa berjumpa kembali dengan Bulan Ramadan mubarak?  Entahlah... hanya Allah SWT yang mengetahui.  Tentu kita semua berharap bisa bertemu kembali dengan bulan penuh keberkahan itu.

Rasulullah tercinta Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat merasakan perubahan pasca ramadan itu selama enam bulan selanjutnya.  Enam bulan setelah itu mereka persiapkan mencharge diri untuk menghadapi Bulan Ramadan.  Tak heran bila kemudian selama setahun penuh kehidupan mereka penuh dengan kebaikan.  Bulan Ramadan membuat kehidupan mereka penuh kesuksesan selalu berada dalam keridlaan Nya.

Lalu bagaimanakah dengan puasa kita?  Sukses kah?  Tentu hanya Allah SWT yang mengetahuinya, namun kita bisa melihat dari kehidupan kita pasca ramadan.  Apakah setelah ramadan berlalu kita masih mengamalkan amalan-amalan yang kita lakukan selama ramadan? Puasa. tilawah qur'an. qiyamul lail serta amalan sunah lainnya.

Bila kita masih bisa istiqamah melakukan itu semua, insya Allah itu pertanda ramadan kita berhasil.  Tetapi apabila semua amalan itu terhenti dan kita say goodbye. bahkan seolah berteriak MERDEKA.. karena ramadan berlalu, itu menandakan puasa kita belumlah sukses.  Tidak berdampak lebih baik pada kehidupan kita selanjutnya.

Target puasa ramadan kita adalah takwa, hal ini tersirat dari firman Allah SWT di penghujunga QS Albaqarah ayat 183.  "...agar kalian menjadi orang yang bertakwa".  Lalu seperti apakah takwa itu?  Di surat Al Baqarah ayat-ayat awal sudah jelas menerangkan itu.  Di ayat kedua jelas dikatakan bahwa Allah SWT menurunkan Al Qur'an sebagai al huda lill muttaqin... petunjuk bagi orang yang bertakwa.  Di sana tersirat orang-orang yang bertakwa adalah yang menjadikan al qur'an sebagai petunjuk hidupnya.

Di ayat ketiga dan selanjutnya menerangkan ciri-ciri orang yang bertakwa.  Yaitu orang-orang yang beriman pada yang gaib, mendirikan shalat, menginfaqkan sebagian rezeki yang Allah berikan kepadanya, beriman kepada Al Qur'an dan kitab yang diturunkan sebelumnya serta percaya kepada kehidupan akhirat,

Itulah ciri orang yang bertakwa sangat jelas dan gamblang Allah menyebutkan itu semua.  Beriman kepada yang gaib artinya kita percaya adanya Allah SWT, malaikat, termasuk adanya jin dan syetan.  Dengan mengimani hal yang gaib membuat hidup kita lebih berhati-hati.  Karena ada Allah SWT yang Maha Melihat, ada malaikat yang selalu mengawasi setiap langkah bahkan di setiap desiran nafas kita dan ada syetan yang selalu berusaha menggoda dan mengelincirkan kita.

Mendirikan sholat, tidak hanya melaksanakan saja, artinya sholat harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari kita.  Saat shalat kita menutup aurat maka dalam kehidupan sehari-hari pun kita harus menutup aurat.  Di dalam sholat kita mengatakan hal yang baik-baik saja penuh dzikir dan do'a maka itu pun harus terinternalisasikan dalam hidup kita.  Belum lagi tentang kebersihan karena di dalam sholat harus selalu terjaga wudlunya, juga tentang disiplin dan ketepatan waktu.

Menginfaqkan sebagian dari rezeki kita, hal ini sudah dicontohkan para sahabat, bagaimana mereka banyak mengorbankan hartanya untuk penegakkan agama Allah.  Abu Bakar berkorban dengan seluruh hartanya, Umar berkorban dengan setengah hartanya.  Besar kecilnya pengorbanan kita menunjukkan seberapa besar keimanan kita.  Yang harus kita pahami rezki kita sesungguhnya adalah yang telah kita infaqkan di jalan Allah, karena itulah yang bermanfaat untuk kehidupan kita di akhirat nanti.

Percaya pada hari akhirat yaitu percaya bahwa ada kehidupan yang sesungguhnya setelah kematian kita.  Kehidupan dimana kita mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan kita selama di dunia.  Di akhirat kita akan bertemu dengan akibat dari perbuatan kita selama di dunia.  Kita bisa kembali ke syurga atau ke neraka, tergantung berat amalan dan dosa kita di dunia. Seringan-ringannya akhirat adalah apa yang dialami Paman Rasulullah Abu Thalib, dimana hanya telapak kakinya saja yang terkena panasnya neraka tapi konon katanya itu sudah membuat otak di kepalanya mendidih.  Na'udzubillah.

Semoga Allah SWT selalu melindungi kita dari godaan syetan yang selalu berupaya mengajak kita agar menjadi temannya di neraka nanti.  Aamiin Allohumma Aamiin.  Semoga tulisan Suksekah Ramadan Kita? ini bermanfaat ya teman-teman..... :)

5 komentar :

  1. terima kaish Mbk sudah diingatkan kembali, niat memperbaiki diri pasca Ramadhan ini semoga tetap terjaga, aamiin

    BalasHapus
  2. Aamiin. Suatu kebahagiaan tersendiri ketika amal ibadah kita selama ramadhan masih bisa kita teruskan setelah ramadhan pergi. Semoga tahun depan kita bisa bertemu kembali dgn ramadhan

    BalasHapus
  3. Dapat peringatan nih. Jadi ibadah itu nggak hanya di Ramadhan aja. Makasiii mbak.

    BalasHapus
  4. Saya sering menganggap kalau Ramadhan adalah sebuah latihan. Pembuktiannya ada di 11 bulan sesudahnya

    BalasHapus
  5. Setuju mba, pentingnya menjalankan ibadah di bulan-bulan lain meski Ramadhan telah berlalu

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^