blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

10 Sep 2017

Ibu Bekerja atau Ibu Rumah Tangga.. Mana yang Kita Pilih?


Ibu Bekerja atau Ibu Rumah Tangga, Mana yang Kita Pilih? Anak adalah amanah yang Allah SWT berikan kepada kita para orang tua yang harus kita jaga agar tetap sesuai dengan fitrahnya. Sebagai sebuah amanah tentu kita harus menjaga dan merawatnya, mengasuh dan mendidiknya sesuai dengan perintah sang pemberi amanah. Sayangnya banyak orang tua yang tahu bahwa anak adalah amanah tetapi dalam praktiknya sering melupakan hal ini. Tulisan ini sekaligus sambil mengingatkan diri pribadi, karena sebagai manusia kita sering abai dan lupa.


Ketika belum memiliki anak, doa demi doa kita lafalkan agar memperoleh keturunan. Namun setelah Allah SWT berikan kita sering lupa dengan berbagai alasan. Banyak orang tua yang menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada asisten rumah tangganya. Atau malah dititipkan kepada nenek kakeknya, orang tua kita karena sang ibu harus bekerja.

Orang tua kita yang sudah berlelah-lelah mengurus kita anaknya, eh sudah tua dititipi pula cucu-cucunya. Saya tidak menafikan banyak perempuan yang memang harus bekerja, tetapi anak harus menjadi prioritas utama keluarga. Orang tua yang dua-duanya bekerja harus lebih mempersiapkan agar kondisi ini mempunyai solusi terbaik, sehingga bisa menstimulasi anak dengan optimal.

Meski kualitas yang utama akan lebih baik lagi agar tumbuh kembang anak optimal kita memaksimal intensitas hubungan kita dengan anak secara kualitas maupun kuantitas. Banyak ibu-ibu sarjana bahkan mungkin S2 atau S3 tetapi anak dari pagi sampai sore dipegang dan diasuh oleh pembantu yang terkadang lulus SD atau SMP pun tidak. Sayang saja sih, tapi itu memang pilihan hidup setiap keluarga, dan mempunyai latar belakang kondisi masing-masing. Hanya saja untuk orang tua yang telah memilih keduanya bekerja harus bisa mengantisipasi kekurangan-kekurangan yang dimiliki pengasuhnya yang seharian atau lebih dari 12 jam menjaga anak kita.

Bukan berarti ibu yang tidak bekerja akhirnya bisa optimal juga sih.  Karena terkadang rutinitas juga sering melupakan kita pada tugas utama kita. Ibu sebagai madrasatun ula atau sekolah yang pertama untuk anak-anaknya malah tidak memberikan sesuatu yang terbaik untuk anak-anaknya. Banyak hal yang bisa membuat kita lupa, keluarga yang tidak harmonis misalnya, kadang anak malah menjadi target pelampiasan kesedihan, kekecewaan dan amarah sang ibu. Atau ibu yang kelelahan, ibu yang tidak bahagia, ibu yang lupa, ibu yang tidak peduli, ibu yang tidak tahu.... Ah banyak sekali penyebabnya.

Sengaja saya melihat dari dua sisi baik ibu yang bekerja maupun yang ibu rumah tangga saja, karena dua-dua nya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi yang utamanya bukan pada bekerja di luar atau tidaknya seorang ibu, tapi pada komitmen untuk selalu memberikan yang terbaik. Meski memang kondisi ideal adalah ibu yang memberikan banyak waktu yang berkualitas untuk anak. Terutama saat masa anak-anak menyusui, itu adalah fase oral, dimana kepuasan mereka ada pada oralnya dan tentu saja yang terbaik adalah melalui menyusui dengan ASI.

Credit: www.bisnis.work.com

Kenyamanan anak menyusui jangan sampai terenggut hanya karena seorang ibu harus bekerja. Puaskan dan tuntaskan selama dua tahun sesuai yang dianjurkan oleh Sang Pencipta yang telah menitipkannya pada kita. Tentu saja tanpa menafikan para ibu yang tidak bisa menyusui anaknya karena hal-hal tertentu.

Tapi ternyata ini juga bisa kita usahakan, contoh kasus adik saya yang memiliki tiga anak, dua anak pertama tidak bisa diberi ASI karena putingnya yang kecil, tetapi berkat tekad dan semangat serta kesabaran untuk anak ketiga ternyata ia berhasil menyusui anaknya dua tahun penuh. Baru disadarinya kini bahwa untuk anak pertama dan kedua, ia kurang ilmu, kurang sabar dan kurang paham. Tapi selalu ada sisi baik dari setiap kejadian, dan tiap individu berbeda pula kondisinya.

Kembali pada pokok permasalahan, semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Dimulai dari pemberian nama bayi yang bagus dan indah yang memiliki makna sebuah doa kemudian bertekad mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Kondisi dan realita hiduplah yang kemudian membuat idealita memberikan yang terbaik untuk anak sering menjadi tidak optimal bahkan terlupakan.

Jadi kesadaran anak sebagai amanah dari Sang Pencipta lah yang harus selalu ditanamkan, diingatkan dalam diri kita. Komitmen untuk memberikan yang terbaik yang harus terus diperbaharui hingga bagaimana pun kondisi kita sebagai ibu bekerja atau ibu rumah tangga akan selalu mencari solusi yang terbaik untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Komitmen memberikan yang terbaik akan membuat ia selalu belajar sepanjang hidupnya. Komitmen memberikan yang terbaik inilah yang akan membuat orang tua memperkenalkan anak-anaknya pada Tuhan nya. Karena orang tua yang baik tahu kebahagian yang hakiki untuk anak-anaknya adalah ketika berada dalam keridlaan Nya.


15 komentar :

  1. Perlu komitmen emang teh, mengedukasi anak spy rajin beribadah, misalnya; ortu komit ngasih contoh secara berkesinambungan baik lgsg ataupun nggak ... artikelnya saya bookmark yaaa.

    BalasHapus
  2. Kalau aku sementara memilih ibu bekerja dan juga sebagai ibu rumah tangga. Bukan berarti kerja dan mengabaikan urusan rumah tangga. Hhehhe. Tapi apapun pilihannya semua sesuai keputusan terbaik

    BalasHapus
  3. Kalau saya memilih di rumah, terlihat hanya ngurus anak dan kerjaan rumah saja, padahal kerja cari uang juga di rumah. Hehe.

    BalasHapus
  4. Saya memilih ibu berkerja, biar saya suaminya bisa jaga anak saja. hehehe

    BalasHapus
  5. yang mana aja yang penting akurrrrrrrrrrrrrrrrrr.
    ibu bekerja juga ibu rumah tangga mak hehhe

    BalasHapus
  6. Enak dua-duanya ya. Kerja dari rumah tapi sesekali keluar rumah untuk tambah teman & wawasan.

    BalasHapus
  7. Ya yang penting berkomitmen tErhadap tugas dan konsekuensinya ya :)

    BalasHapus
  8. karna aku belum nikah, tp aku kpngnnya bsok jd ibu rumah tngga yg bkrja drmah. hehe

    BalasHapus
  9. Cita-cita aku mah nanti jadi mom blogger aja teh, biar bisa jaga anak sekaligus berkarya hehe

    BalasHapus
  10. Bagi syaa yang penting kualitas kebersamaan ma anak harus maksimal. Sebagai anak, saya merasakan bagaimana dibesarkan oleh ibu yang bekerja. Sedangkan sebagai ibu, saya memilih menjadi ibu rumah tangga. Keduanya sama baiknya :)

    BalasHapus
  11. Apa pun pilihannya yang penting komitmen utama anak ya :)

    BalasHapus
  12. Pilih ibu rumah tangga yang sambil kerja aja saya mah. Maklum banyak anak. Gak bisa kalo di luar rumah lama-lama. :D

    BalasHapus
  13. Ibu bekerja atau IRT sama-sama punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kayaknya kita memang harus bijak memilih. Dan apapun yang kita pilih, seharusnya memang yang terbaik untuk keluarga dan anak-anak.

    BalasHapus
  14. Yang terbaik adalah sesuai kebutuhan dan keadaan rumah tangga masing-masing, teh. Ima pilih dua-duanya, fokusnya sama, memelihara cinta keluarga.

    BalasHapus
  15. Copas,
    Dia: jadi skrg lo ngga kerja? Kok bisa sih? Ngga bosen?

    Saya: kerja kan ngga harus tiap hari ke kantor. Gw masih bisa kerja di rumah sambil ngurus anak

    Dia: nah! Exactly my point. Sayang aja lulusan UI akhirnya cuma ngurus anak

    Saya: justru hebat dong anak gue diasuh sama sarjana lulusan UI. Dibanding anaklo yang diasuh sama pembantu lulusan SD

    Dia: *senyum kecut*

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^