blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

25 Mar 2018

Menjaga Fitrah Anak



Menjaga Fitrah Anak    Alkisah dalam acara sessi tanya jawab sebuah acara parenting, seorang kakek-kakek bertanya,  Saat itu saya membawakan materi parenting dengan tema Peran Orang Tua di Era Milineal.  "Bu bagaimana ya cara menghadapi anak yang suka melawan, tidak menurut pada orang tua?"  Saat itu saya langsung bertanya "Usia anaknya berapa Pa?"  Si kakek menjawab dengan polosnya "Empat puluh tahun..."

Kontan saja puluhan ibu-ibu yang hadir di acara itu tertawa.  Bukan menertawakan Si Kakek, tapi lucu aja, menanyakan bagaimana menghadapi anaknya yang bandel tapi usianya sudah empat puluh tahun.  MC yang duduk di samping saya menjelaskan dengan berbisik, bahwa kakek itu tiap hari mengantarkan cucunya ke sekolah , sementara anaknya adalah seorang janda yang menjadi ibu pekerja.  Saya manggut-manggut memahami, akhirnya saya pun sedikit membahas tentang Menjaga Fitrah Anak.

 Imam Al Gazali mengungkapkan :

“… Ketahuilah, melatih anak-anak itu termasuk urusan penting dan menentukan. Anak kecil itu adalah amanat bagi kedua orangtuanya. Hati anak yang (masih) suci itu seperti mutiara yang indah, halus, dan bersih dari setiap lukisan yang menggoresnya. Jiwa anak tersebut condong pada sesuatu yang dibiasakan kepadanya. Jika anak itu tumbuh dalam pembiasaan kepada kebaikan dan ajaran kebaikan, niscaya jiwanya tumbuh pada kebaikan dan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.”


Menjaga Fitrah Anak


Semua anak terlahir ke muka bumi dengan potensi hebat yang terinstal sedemikian rupa yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta kepadanya.  Saya pernah membahas hal ini di Bunda, Jangan Lukai Aku.  Potensi itu diberikan karena manusia akan mengemban sebuah amanat berat di muka bumi sebagai Khalifah dan sebagai seorang hamba.  Jadi potensi keimanan, potensi untuk taat sebetulnya sudah terinstal melekat dalam dirinya.

Ingin membahas lebih jauh hal ini kepada Si Kakek, tapi kondisinya ibarat nasi sudah menjadi bubur.  Anaknya sudah berusia empat puluh tahun.  Sudah memililki karakter kuat yang sudah terbentuk sedemikian kuat hingga sudah sulit untuk diubahnya.  Bukan tidak bisa, tapi sudah sangat sulit.

Pentingnya Pembiasaan


Tentang pembiasaan, saya jadi ingat pengalaman saya dengan Si Sulung.  Kalau saya sedang di rumah orang tua, ibu saya selalu memperhatikan bagaimana Kak Azizah selalu memberikan al qur;an saat saya usai sholat.  "Ida mah untung ih, punya anak teh sholehah, eta budak nyuruh ngaji aja tiap udah sholat .."  Saya hanya tersenyum saja, padahal si kaka berperilaku demikian karena dia melihat kebiasaan saya, seteleh sholat selalu tilawah.

Ketika saya mengenakan kaus kaki dan kerudung, si kaka kecil pun langsung siap-siap pergi.  Saya sampai terkekeh merasa lucu saat itu.  Anak saya melihat kalau saya memakai kerudung dan kaus kaki berarti akan pergi ke luar dan ia pun segera bersiap.  Luar biasa betul ya sebuah pembiasaan yang tidak kita sadari tanamkan kepada anak, tetapi anak melihat apa yang kita lakukan.


Orang Tua sebagai Role Model


Saya percaya betul kalau anak dikatakan sebagai peniru ulung dia melihat apa yang kita lakukan sehari-hari.  Karena saya melihat sendiri dalam kehidupan sehari-hari.  Jadi untuk menjaga potensi anak agar berada dalam fitrah kesuciannya, seorang orang tua harus berkorban mau capek mengubah dirinya karena mau tidak mau anak akan melihat lingkungan terdekatnya.

Kalau kita mau capek di saat anak-anak masih kecil, artinya mau berkorban untuk selalu berusaha menjadi pengasuhnya, tidak serta merta medelegasikan pengasuhan anak kepada pengasuhnya yang kadang SMP saja tidak tamat. Tidak banyak meninggalkannya karena ingin selalu melihat perkembangan anak dan memberi contoh yang terbaik,  Insya Allah apa yang dialami Si Kakek itu tidak akan terjadi.  Kita tak akan capek lagi saat anak-anak sudah besar, karena kita sudah MEMBENTUK nya saat ia masih kecil.

Atau berkorban tidak memiliki televisi padahal saat itu kita senang juga menonton televisi.  Rasanya itu sulit dilakukan, tapi ketika itu kita mampu lewati kita akan mensyukuri karena kita telah membentuk anak kita menjadi anak yang tidak senang menonton acara televisi yang tidak terlalu berguna.

Pengorbanan - pengorbanan kecil yang kita lakukan, kelak akan sangat bermanfaat untuk anak kita, bahkan suatu saat nanti mungkin anak-anak kitalah yang akan mengingatkan kita kala kita berbuat salah menurutnya.

Do'a sebagai Senjata Utama


Alkisah dikisahkan seorang ulama yang sukses mendidik semua anaknya menjadi ulama yang sholeh ditanya kiat-kiat mendidik anaknya.  "Kamu berapa kali mendo'akan anakmu dalam sehari?" tanya si ulama.  "Tiap selesai sholat fardlu dan sunnah saya pasti mendo'akan keluarga termasuk anak-anak saya Kiayi: Jawab si penanya.  "Kalau saya tiap melihat dan menatap anak saya, saya selalu mendo'akan kebaikan untuknya.."  Masya Allah, jadi seperti itulah kalau kita ingin anak-anak kita menjadi anak-anak yang sukses dunia dan akhirat.

Seorang teman saya yang sukses mendidik anak-anaknya menjadi hafidz hafidzah serta sukses pula dalam akademis mengungkapkan bahwa dari bilangan 10, usaha manusia hanya 1 selebihnya adalah do'a do'a orang tua kepada anaknya.  Seperti itulah keajaiban do'a, bisa mengubah ketetapan dari Nya tentu saja dengan kehendak Nya.

Begitulah Menjaga Fitrah Anak harus terus kita lakukan agar fitrah keimanan, kesucian, senang belajar dan bakat-bakat alias potensi yang dimilikinya terus terasah dengan baik.  Wallohu'alam.




12 komentar :

  1. setuju, Mbak. Orang tua harus kasih contoh dulu. Karena orang tua kan biasanya orang terdekat dengan anak :)

    BalasHapus
  2. Masya Allah terima masih sharing nya Mbk. Ini perlu banget ortu belajar ya menjaga fitrah anak. Aku lepas dari TV belum bisa.

    BalasHapus
  3. Bener, orang tua contoh untuk anaknya.

    BalasHapus
  4. Subhanallah, makasih sharingnya ya teh😍

    BalasHapus
  5. subhanAllah.... thank you sharingnya.... selain mendoakan, bersyukur juga atas anak-anak dalam doanya :)

    BalasHapus
  6. setuju, orang tua itu role model kita yang paling akan digugu dan ditiru

    BalasHapus
  7. Subhanallaah... jazakillah sharingnya, Teh. Aku banyak belajar.

    BalasHapus
  8. Duh, jleb banget teh. Saya jadi takut kalo saya belom jadi role model buat anak-anak. Makasih buat pengingatnya. Jujur, saya berasa ditampar. :(

    BalasHapus
  9. betul ya mbak, kita itu model yang setiap hari dilihat anak2

    BalasHapus
  10. nice sharing mba, Doa menjadi kekuatan manusia ya karena manusia hanya bisa berusaha, hasilnya ditentukan Allah SWT

    BalasHapus
  11. makasih mba Ida artikelnya, jadi inget lagi utk ngasih contoh yg lbh baik ke anak2.

    BalasHapus
  12. Makasih udah diingetin lg teh...

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^