blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

12 Nov 2012

Tak Seindah Harapan


“Ida, kenapa pipimu terluka?”  Tanya ibuku dengan nada khawatir.  Aku terkejut karena tidak merasa sakit sedikit pun. Segera aku bercermin, olala.. pantas saja ibuku bertanya seperti itu.  Di dekat daguku ada garis merah memanjang.  Ingatanku langsung tertuju pada pengalaman tadi pagi di sekolah, saat guruku memeriksa tulisanku.  Begitu melihat tulisanku langsung saja umpatan panjang lebar keluar dari mulutnya, terlihat kesal, kemudian bu guru mencoretkan pena  bertinta merah  yang sedang dipegangnya di pipi bawahku.  Aku tahu tulisanku memang kotor bekas menghapus tulisanku yang salah, tapi aku sudah berusaha semampuku.

Itulah pengalaman hari-hari pertama aku duduk di kelas satu sekolah  dasar.  Pengalaman yang terekam terus hingga aku dewasa hingga memiliki anak lima sekarang ini.  Ah bu guru itu tentu bermaksud baik, ia ingin tulisanku rapi dan bersih.Tapi aku kecil tidak memahami itu, yang aku kecil pahami ibu guru marah, dan menorehkan tinta merah di pipiku sekaligus menorehkan kenangan tak manis tentang sekolah dalam ingatanku.

Dan kini, ketika aku ingin membuat tulisan bertema guruku pahlawanku,aku merasa agak kesulitan.  Saat-saat sekolahku dulu memang tidak terlalu menyenangkan. Tidak ada jejak yang terpatri sosok guru yang menjadi pahlawanku.  Hanya saat SMA aku memang tergila-gila kepada seorang guru tapi bukan karena ia menjadi pahlawanku dan memberi inspirasi  dalam kehidupanku, tapi lebih karena ia tampan dan penuh perhatian, hingga aku pun jatuh hati padanya… hahaha… atau mungkin saat taman kanak-kanak, kenanganku selalu manis tentang kebaikan dan kepedulian guru-guru TK ku.

Bukan berarti aku tidak mensyukuri jasa guru-guruku dari semenjak SD sampai kuliah, pasti banyak dan tak terbayarkan dengan pembayaran SPP tiap bulan orang tuaku. Hingga aku bisa lulus kuliah, disana banyak peran guru-guruku, tapi kenangan negatif yang menyertainya seolah menghapus segala jasanya, seperti kata pepatah nila setitik rusak susu sebelanga. 

Pengabdian yang tidak sepenuh hati mungkin itu salah satu sebabnya.  Aku kecil, yang sekolah di sebuah sekolah dasar favorit merasakan sedikit ketidak adilan dan kecemburuan sosial yang berdampak hingga aku dewasa. 

Teman-temanku hampir semua berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Hampir setiap usai liburan teman-temanku bercerita tentang pengalamannya jalan-jalan ke luar negeri, ada yang ke Belanda, Hongkong , Singapura dan sebagainya. Sedangkan aku bisa masuk ke sekolah mahal itu karena kebetulan ibuku bekerja disana sebagai tenaga administrasi.

Ketika kenaikan kelas teman-temanku beramai-ramai memberikan kado yang bagus untuk guru-guru di sekolah.  Guru – guru memang tidak meminta tetapi pemberian itu berdampak pada rangking di sekolah. Aku yang tidak pernah memberi sesuatu akhirnya terkena imbasnya. Aku pun tidak pernah merasakan masuk rangking tiga besar di sekolah dasar.  Aku merasakan ketidak adilan karena nilai-nilaiku selalu besar-besar dan tidak kalah dengan teman-temanku yang juara.  Kepala Sekolahku pernah berucap pada ibuku yang juga temannya “Coba kalau Ida di SD II (sekolah Siang), pasti juara”….

Lain dulu lain sekarang,  saat ini aku menemukan sosok – sosok guru ideal di sekolah anak-anakku.  Tidak semua memang.  Tapi aku melihat perhatian yang besar akan tumbuh kembang anak-anak didiknya di setiap laporan perkembangan anak didik dan di setiap pertemuan forum kelas  yang diadakan sebulan sekali. 

Sekolah itu memberikan waktu setengah jam untuk setiap orang tua di setiap konsultasi pemberian laporan anak didiknya. Terlihat mereka mengetahui betul detail perkembangan anak-anak kita. Aku pun tidak pernah mendengar keluhan dari mulut anak-anakku tentang ‘kenakalan’ guru-gurunya. Yang ada cerita menarik dan gaya bercerita guru yang mereka tiru ketika di rumah. Merekalah guru-guru yang selalu ada di hati anak-anakku, mungkin kelak bila mereka telah paham, mereka akan menjadikan sosok gurunya sebagai pahlawan dalam hidupnya.


Guru-guru, orang tua dan siswa yang selalu akrab. Sebuah hubungan yang harmonis dan menyenangkan
Namun anak sulungku  yang duduk di sebuah sekolah menengah RSBI masih mengalami saat-saat yang tidak menyenangkan di sekolah. Mulai dari perbedaan dari anak yang les dengan tidak les sampai menemukan guru yang streng, yang setiap jawaban soal harus sesuai  dengan versi dia yang memang sudah sangat senior di bidangnya. Hingga anakku yang sebetulnya dulu menyukai pelajaran tersebut menjadi agak kesulitan dengan mata pelajaran tersebut.  Dari mulutnya sering keluar ungkapan “enak ya yang duduk di kelas a,b,c,d guru pelajaran anunya bu ini… jadi nyenengin banget…”

Ah memang guru juga hanya manusia biasa, yang bisa saja salah dalam melangkah.  Namun untuk menjadi guru yang memanusiakan manusia memang diperlukan kesungguhan dan usaha sepenuh hati untuk mendidik anak-anak didiknya.  Sesuatu yang berasal dari hati akan masuk ke dalam hati.  Menjadi guru yang menjadi pahlawan bagi anak didiknya memerlukan keterikatan yang utuh, yang tidak hanya sebatas gugur kewajiban mengajar mereka karena tuntutan sebuah profesi bernama guru. 

Mendidik dengan hati, dengan tanggung jawab besar mengemban amanah menyiapkan generasi peneruslah yang akan menghadirkan sosok-sosok guru yang tidak hanya menjadi pahlawan karena jasanya, tetapi menjadikan mereka sebagai pahlawan di hati anak-anak didiknya karena keberadaannya yang dekat dan mengayomi.

Metode mendidik pun perlu diperhatikan, jangan sampai ketika guru tidak hadir atau ketika liburan tiba anak-anak bersorak riang gembira. Guru yang baik, yang menyenangkan akan membuat anak didiknya senang belajar dan haus akan ilmu. Mereka akan selalu dirindukan kehadirannya.

Sebuah PR untuk negeri ini menghadirkan sosok-sosok guru yang dirindukan anak didiknya, yang menjadi pahlawan di hati-hati mereka.  Barang siapa menanam dia akan menuai.  Percayalah menjadi guru dengan sepenuh hati akan berimbas pada guru tersebut, Sang Maha Pencipta yang Maha Adil tak akan membiarkan makhluk yang sangat berjasa menciptakan manusia-manusia yang akan membangun bangsa yang tengah terpuruk ini. Paling tidak atau minimalnya hati damai karena telah menanam sebuah kebaikan dengan penuh keikhlasan.  Pahala yang berlipat ganda pun menantinya untuk bekal perjalannya di akhirat nanti.


Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes “Guruku, Pahlawanku” yang diadakan oleh Gerakan Indonesia Berkibar.  Gerakan Indonesia Berkibar adalah sebuah gerakan nasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui perbaikan kualitas guru dan sekolah.



1 komentar:

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^