blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

29 Des 2014

A Full Time Mom.... Sebuah Renungan

Bismillah,


Pagi pun baru memulai hari, semburat mentari  di ufuk timur menghangatkan bumi yang tua. Kesibukan mulai terasa. Di luar lalu lalang kendaraan meramaikan suasana. Tak ada kicauan burung seperti di desa. Yang ada asap dari knalpot motor dan mobil yang menodai sejuknya pagi. Polusi kini memang di mana-mana.

Tidak ada agenda keluar, aku pun duduk dihadapan komputer. Membuka sebuah jejaring sosial bernama fesbuk. Aku membaca status demi status teman - temanku. Mataku terpaku pada sebuah tulisan: "Only The Strong Can Do It" Dibawahnya tulisan dalam sebuah kotak berbingkai : Stay-At -Home- Mom. Dibawahnya lagi ada tulisan dengan ukuran yang  lebih kecil: Never a day off. Only the strong can do it.

Menarik! Menggelitikku  karena itu adalah peran terbesarku saat ini. Benarkah hanya orang kuat yang mampu menjalaninya? Pikiranku menerobos waktu, menyusur mundur alur kehidupanku. Lebih dari sepuluh tahun sudah ternyata peran ini aku jalani. Memang bukan peran yang mudah. Menjadi ibu, memberi sebuah kontribusi kecil untuk membentuk sebuah peradaban dimasa yang akan datang membutuhkan kekuatan mental menjalaninya.

Pikiranku berkecamuk. Teringat ucapan seorang Anis Matta, kurang lebih menurut pemikiran beliau adalah  dzolim seorang laki-laki membiarkan istrinya terkurung antara sumur kasur dan dapur. Menyia-nyiakan seorang perempuan aktivis, berpendidikan tinggi untuk sebuah peran yang bisa digantikan seperti mencuci, memasak atau membereskan rumah.

Terbayang ketika sosok Fatimah putri manusia teragung dimuka bumi ini menangis dan mengeluh kepada rasolulloh tentang kelelahannya Rasulullah berkata    ” Wahai Fatimah perempuan yang berkeringat Ketika wanita menggiling gandum untuk suami dan anaknya. Allah akan menjadikan antara dirinya dan Neraka tujuh parit. Wanita yang meminyaki dan menyisiri rambut anaknya, serta mencuci pakaian mereka. Allah akan mencatat pahala seperti memberi seribu orang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang telanjang. Sedangkan wanita yang menghalangi hajat tetanga-tetangganya, Allah akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautsar diahari kiamat.”

Menjalani harinya yang berat, dengarlah ungkapan sosok Fatimah "Wahai rosululloh penggilingan dan urusan rumah tanggalah yang membuat ananda menangis".

Terbayang sesosok wajah, nun jauh disana. Seorang perempuan yang dulu aktivis kampus. Kini memulai harinya jam dua dini hari. Mempersiapkan segala sesuatu untuk suami dan sembilan anaknya. Pukul sembilan ketika semua telah selesai. Ia pun melangkah mengisi berbagai majelis taklim dan berbagai aktivitas sosial lainnya.

Terbayang sesosok wajah nun disana seorang perempuan yang dulu mahasiswi cemerlang sebuah perguruan tinggi ternama, terpuruk dalam sebuah rumah yang dinamakan rumah tangga, stagnan, tidak berkembang.... tapi itu dimata manusia... di mata Allah ? Wallohu'alam. Mungkin saja dia wanita yang sangat mulia, jauh lebih mulia daripada seorang perempuan lainnya yang merasa lebih maju darinya.

Menjadi full time mom memang pilihan yang berat, tidak semua perempuan bisa memilih pilihan itu. Kadang rutinitas membuatnya terpuruk, tidak bahagia dan menyesali diri. Sulit mempertahankan diri menjadi full time mom yang berkualitas ditengah gempuran rutinitas yang bertahun-tahun. Butuh kekuatan mental untuk bertahan di dalamnya dengan kualitas yang paripurna, untuk tetap menjadi ibu yang selalu bahagia di tengah kelelahan yang melanda.

Ibu yang bahagia akan melahirkan anak-anak yang bahagia oleh karena itu jadilah Ibu Rumah Tangga yang bahagia. Semua pasti bisa, bukankah menjadi bahagia adalah sebuah pilihan ?  Peran lain akan segera menanti, ketika seorang ibu rumah tangga telah berhasil memenej dengan baik waktunya. Wallohu'alam.

2 komentar:

  1. Tidak mudah mbak, apalagi untuk seorang lulusan perguruan tinggi ternama dan fakultas bergengsi pula yang memilih bekerja di ranah domestik alias ibu rumah tangga. Persepsi sebagian besar masyarakat tentu punya andil, terutama lingkungan terdekat kita.
    Tapi kembali pilihan itu ada pada kita, seperti yang mbak tuliskan yakni hanya berusaha menjadi ibu bahagia...menikmati rutinitas sehari-hari dengan keyakinan semua berbuah pahala. Dan saya selalu bahagia memilih jalan ini. Maaf ya mbak, komentarnya kepanjangan. Salam kenal

    BalasHapus
  2. Salam kenal kembali Mak ..... Terima kasih sudah mampir :)
    Betul sekali sesuatu yang sulit makanya pahalanya juga besar :)

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^