blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

6 Okt 2015

Peduli Lingkungan Peduli Masa Depan Bumi

 Peduli Lingkungan Peduli Masa Depan Bumi
 
Aku tercekat, mataku menatap nanar tulisan di depan mataku, berbagai rasa bercampur di dalam dada.  Bangga, sedih, haru dan kekhawatiran pun mengaduk-aduk tak menentu.  Ya tulisan Janji Dua Mimpi karya sulungku Azizah Amatullah sang penulis yang kini sudah menghasilkan 6 buah buku solo dan antalogi itu membuat aku termangu beberapa waktu.
 
Tak kusangka diusia belianya memiliki kepedulian besar terhadap lingkungannya.  Cerita Janji Dua Mimpi yang menceritakan kisah kondisi bumi di masa depan.  Saat langit tak lagi putih dan biru yang cerah, tapi memerah dan kelabu karena polusi yang dihasilkan penduduk bumi bernama manusia..  Kala bumi kering kerontang karena kekeringan yang panjang dan kala manusia berebut oksigen yang sudah menipis, juga tentang seorang bunda yang meninggal karena kanker kulit dampak dari polusi. Cerita masa depan yang sangat modern namun penuh kesenduan akibat pola hidup dimasa lalu...

Hanya sebuah cerita fiksi tapi mungkin bisa terjadi, kalau kita tak peduli pada kelestarian bumi yang memang sudah semakin tua.  Terlebih untuk negara kita Indonesia, letak geografis dan kondisi geologisnya memang rentan terhadap ancaman dan dampak dari perubahan iklim.

Sumber: bimbingan.org
 Menurut berbagai penelitian Indonesia akan mengalami berbagai ancaman impact dari perubahan iklim ini. Kenaikan permukaan laut, kekeringan yang panjang dan meluas, banjir, menurunnya produktivitas pertanian, meningkatnya berbagai penyakit adalah dampak dari perubahan iklim sudah dan akan terjadi di negara kita tercinta ini.  Dalam beberapa dekade yang akan datang sebagian besar kota yang berpenduduk padat yang berada di sekitar pesisir diperkirakan akan tenggelam karena naiknya permukaan laut.

Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Gordon Mc Grahanan dari International Institute for Environment and Development Inggris, mengemukakan bahwa penduduk yang bermukim sekitar 10 meter dari pinggir pantai terancam tenggelam ketika es di kutub mencair akibat perubahan iklim. Menurutnya diperkirakan 10% dari total penduduk bumi atau sekitar 630 juta jiwa termasuk di dalamnya  Jakarta, Makasar dan beberapa kota di Jawa Barat akan tenggelam pada beberapa dekade mendatang.

Perubahan iklim juga mengakibatkan meningkatnya berbagai penyakit seperti malaria, diare dan penyakit pada saluran pernafasan. Hal itu terjadi antara lain karena peningkatan suhu yang menyebabkan nyamuk malaria dapat hidup di dataran tinggi padahal sebelumnya nyamuk ini hanya hidup di daerah rendah saja.  Hal ini menyebabkan peningkatan peyakit malaria di berbagai daerah di Indonesia.

Merembesnya air asin karena naiknya permukaan air laut, kelangkaan air bersih akibat kekeringan karena kemarau yang berkepanjangan mengakibatkan peningkatan penyakit diare di masa yang akan datang.  Kekeringan pun mengakibatkan rawannya kebakaran hutan hingga terjadi polusi udara, kepulan asap mengakibatkan penyakit saluran pernafasan atau bahkan penyakit pernapasan dari udara kota yang terpolusi di kehidupan sehari-hari kita.

Sumber: slideshare.net


Sebuah kondisi yang memerlukan sebuah kebijakan yang strategis dalam menanggulangi dan mengantisipasi ancaman yang terjadi akibat perubahan iklim ini.  Dan tentu saja kebijakan penting ini diputuskan dan diambil oleh para pengambil keputusan di negara ini, selain itu kita sebagai masyarakat, penduduk suatu negara harus bersikap proaktif dalam menghadapi isyu atau prediksi yang berlatarkan sebuah penelitian.

Masih ingatkah baru-baru ini tepatnya tanggal 26 September 2015 di Jogjakarta ratusan aktivis, relawan dan partisipan, menggelar sebuah aksi kreatif. Sebuah aksi yang merupakan rangkaian hari aksi global yang dilakukan di 30 negara di seluruh dunia.  Mereka membentangkan sebuah foto raksasa dengan tulisan #ActionsForClimate disepanjang wilayah Pantai Baru, salah satu wilayah yang menggunakan energi terbarukan angin dan matahari.

Aksi global sendiri adalah aksi yang ditujukan kepada pemimpin negara dunia agar memperkuat komitmen mereka terhadap penurunan emisi menuju pertemuan COP 21 di Paris awal Desember 2015 yang akan datang.

Festival Buru Baru ini adalah sebuah contoh aksi proaktif dari masyarakat yang mendesak agar pemerintah membuat suatu kebijakan mengalihkan bahan bakar fosil ke energi terbarukan.  Juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Dian Elviana mengajak seluruh unsur masyarakat untuk mendesak pemerintah Indonesia agar mengakhiri era bahan bakar fosil dan menghentikan deforestasi.  Peralihan menuju energi terbarukan dan perlindungan harus segera dipercepat dengan itu Indonesia dapat memberikan kontribusi nyata terhadap penyelamatan iklim global.

Seperti kita ketahui bersama salah satu kebijakan politik dari presiden kita yang meluncurkan proyek 35 GW untuk memenuhi kebutuhan listrik di seluruh pelosok tanah air, dimana 60%  diantaranya adalah PLTU Batuabara.  Padahal menurut sebuah penelitian Greenpeace dan Universitas Harvard mengungkapkan fakta diperkirakan sebanyak 15.600 jiwa per tahun akan mengalami kematian dini akibat terpapar polusi yang dikeluarkan PLTU Batabara.  Ekspansi batubara yang direncanakan secara signifikan dapat meningkatkan tingkat polusi di seluruh Indonesia.

Seyogyanya Indonesia memimpin perubahan dengan melakukan ekspansi yang cepat dan tepat untuk mengembangkan energi yang aman dan bersih melalui energi terbarukan daripada tetap mengambil kebijakan dengan pendekatan bisnis yang memiliki impact negataif terhadap kehidupan ribuan orang Indonesia.

Dalam semua bidang, sudah seharusnya pemerintah  melakukan pembangunan yang berwawasan lingkungan dimana pembangunan diarahkan pada pembangunan yang berkelanjutan yaitu mengambil jalur rendah polusi dengan mengembangkan energi terbarukan sebagai solusinya.
Sumber: umiamanah.blogspot.com
Dalam skala unit terkecil yaitu keluarga dan diri sendiri kita bisa menerapkan gaya hidup yang berwawasan lingkungan dengan mengurangi penggunaan kertas dan plastik seperti tisyu, sedotan, botol atau gelas plastik.  Memilah sampah keluarga menjadi organik dan an organik lebih khusus lagi memisahkan sampah botol atau gelas dan barang-barang plastik secara khusus, untuk bisa dimanfaatkan orang-orang yang mampu mendaur ulangnya. Mencintai penghijauan dengan cara menanamkan gemar menanam sejak kecil kepada anak-anak.

Kepedulian kepada lingkungan bisa mulai kita tanamkan dalam diri kita mulai dari hal yang terkecil dan mulai saat ini juga.  Semoga sebuah kondisi yang kubaca di cerpen anakku Janji Dua Mimpi tidak terjadi pada kehidupan anak cucu kita.
 
Sumber:
http://yaniegeografi.blogspot.com
http://greenspace.org

3 komentar:

  1. Aku baru menyimak sedikit saja tentang pembangunan berkelanjutan, sempat nguping orang workshop, hehe. Dan mau tak mau isu climate change pasti dibahas. Waduh, galaunya minta ampun... Kalau diitung2 sekarang tuh sudah terlambat banget untuk mengembalikan keseimbangan alam, emisi karbon sudah kelewat ambang. Dengan pola hidup & pembangunan yg konvensional skrg, jauh dari konsep "keberlanjutan".

    BalasHapus
  2. Perubahan pun sudah terlihat jelas, dulu saya mengenal musim hujan jatuh pada bulan yang ber akhiran ber, namun sampai awal oktober belum juga turun hujan.. Entahlah siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini..

    BalasHapus
  3. Perubahan pun sudah terlihat jelas, dulu saya mengenal musim hujan jatuh pada bulan yang ber akhiran ber, namun sampai awal oktober belum juga turun hujan.. Entahlah siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini..

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^