blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

21 Agu 2018

Belajar Menjadi orang Tua Bijak dari Keluarga Nabi Ibrahim AS




Belajar Menjadi Orang Tua Bijak dari KeluargaNabi Ibrahim AS   Nabi Ibrahim AS adalah sosok yang luar biasa, beliau dikenal sebagai ayahnya para nabi.  Para nabi setelah beliau merupakan keturunannya termasuk Nabi Muhammad SAW.  Sosok yang istimewa karena berhasil menjadikan keturunannya menjadi orang-orang yang shalih.  Nabi Ibrahim AS berhasil menjadikan para keturunannya orang-orang  yang terbaik di dunia.  

Tentu saja untuk bisa menjadikan keturunannya orang-orang yang terbaik di dunia butuh pengorbanan luar biasa.  Jangan bermimpi menghadirkan orang terbaik tanpa ada pengorbanan di dalam membentuknya. Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS pun tercatat dalam sejarah kehidupan manusia. 


Mengkaji ulang sejarah terjadinya Idul Adha kita bisa melihat tiga tokoh sentral yang menjadi pemain utama dalam kisah luar biasa ini.  Ketiga tokoh yang bisa kita teladani dari peristiwa ini adalah Nabi Ibrahim AS sang ayah,  Ismail AS sang anak dan Siti Hajar sang ibu, istri dari nabi Ibrahim.  Sebuah keluarga yang menjadi tauladan bagi manusia sampai akhir zaman.

Ibrahim  adalah  sosok manusia yang dikenal dengan keimanan yang sangat luar biasa, ia memiliki gelar dari Allah SWT Al Khalil yang artinya kekasih Allah SWT. Selain itu ia pun sosok milyader yang sangat mencintai Tuhan-nya.  Dalam kitab Misykatul Anwar disebutkan bahwa Ibrahim memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu dan 100 ekor unta.  Dalam riyawat lain disebutkan kekayaan Ibrahim mencapai 12.000 ekor ternak.

Kekayaan yang berlimpah itu tidak membuat ia sombong dan lupa akan kedudukannya sebagai hamba. Ketika ditanya milik siapakah harta kekayaan itu, Ibrahim menjawab bahwa semuanya milik Allah hanya saat ini untuk sementara menjadi miliknya.  Bila Allah memintanya kembali dengan rela ia akan mengembalikan semuanya.  Nabi Ibrahim pun sempat berucap “Jangankan hartaku, kalau Ismail anakku yang sangat kusayangi diminta Allah SWT, niscaya akan kuberikan…”

Ibrahim adalah sosok utama dalam momentum sejarah umat Islam, dimulai dari proses pencarian Tuhan Yang Maha Esa.  Selanjutnya ia menyebarkan keyakinan akan Allah sebagai satu-satunya Tuhan,  kemudian prosesi pembangunan ka’bah, terciptanya ibadah haji serta Idul Adha.

Ismail  putra Ibrahim dari Siti Hajar sebagai tokoh sentral kedua, dalam peristiwa Idul Adha adalah anak yang mempunyai tingkat keyakinan dan keteguhan hati yang luar biasa.  Di usianya yang baru saja menginjak remaja, ia sudah begitu patuh dan setia kepada permintaan dan perintah Tuhan nya serta orangtuanya.

Yang menjadi tokoh sentral ketiga adalah Siti Hajar, istri kedua Ibrahim ibu Ismail.  Siti Hajar adalah teladan bagi banyak perempuan dalam mentaati perintah Tuhan, taat pada suami dan menyayangi anaknya. 

Tentu kita masih ingat bagaimana Siti Hajar harus terlunta di gurun yang gersang dan panas bersama anaknya yang masih bayi karena ketaatannya pada suami.  Bagaimana ia harus berkeliling antara bukit Safa dan Marwah demi mendapat pertolongan dan air minum untuk putranya, Ismail yang sedang kehausan. Siti Hajar inilah tokoh sejarah yang mengawali terbentuknya kota Mekah.

Ya, dengan mukjizat dari Allah SWT maka keluarlah air zam-zam yang kemudian seiring dengan perkembangan zaman tempat ini menjadi tempat yang subur makmur.  Kota inilah yang kemudian kita kenal sebagai Kota Mekah.  Mereka bertiga  itulah  tokoh sentral yang mengawali berbagai sejarah besar di dalam perjuangan umat Islam termasuk terjadinya Idul Adha ini.

Pelajaran dari Peristiwa Perintah Penyembelihan Ismail


Ada banyak pelajaran atau ibroh yang bisa kita ambil dari peristiwa luar biasa yang melahirkan hari besar untuk umat Islam ini. Salah satu diantaranya selain ketaqwaan dan keimanan mereka yang luar biasa adalah hubungan yang terjalin baik antara orang tua dan anaknya. Mari kita simak di dalam Al Qur’an bagaimana Nabi Ibrahim mengabarkan perintah dari Allah SWT tentang mimpinya itu

Firman Allah SWT dalam Surah Ash-Shaffat 102

Artinya:  “Maka tatkala anak itu (Ismail) telah sampai usianya dapat membantu Ibrahim, maka Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya saya bermimpi bahwa saya disuruh menyembelihmu, maka bagaimana pendapatmu?” Si anak menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah aku termasuk orang yang sabar.”

Dari dialog antara ayah dan anak  tersebut kita bisa melihat bagaimana orang tua dalam hal ini sang ayah tidak bersifat otoriter dan melakukan doktrinasi kepada anaknya.  Sang ayah membangun nilai-nilai edukasi dan nilai–nilai musyawarah.  Sementara sang anak menggambarkan nilai-nilai kepatuhan dan ketaatan kepada orang tua dan Khaliq-nya.



Tentu saja kepatuhan dan ketaatan sang anak tidak serta merta terjadi begitu saja, pasti hal itu adalah buah dari pendidikan dan tauladan yang baik dari kedua orangtuanya.  Komunikasi yang dibangun antara anak dan orang tua atau sebaliknya menggambarkan sebuah komunikasi yang harmonis.  Sebuah potret keluarga Islami yang sebenarnya, keduanya memiliki kadar keimanan yang kuat dan luar biasa.

Sebetulnya saat mengabarkan perintah penyemblihan melalui mimpi yang berturut-turut itu Nabi Ibrahim merasa sangat berat untuk menyampaikannya. Oleh karena itu ia menyampaikannya secara cepat. Kemudian Nabi Ibrohim membisu, tertunduk dengan wajah yang pucat, ia tak sanggup menatap wajah anaknya.  Tapi yang dikatakan oleh Nabi Ismail ? Ia berusaha menenangkan hati sang ayah dengan mengatakan

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah aku termasuk orang yang sabar.”

Jawaban yang kemudian membuat Nabi Ibrahim tersontak dan kembali besemangat serta tidak ragu-ragu untuk mengambil keputusan mematuhi perintah penyemblihan itu.  Buah dari kepatuhan dan kepasrahan akhirnya Allah menggantikan posisi Ismail dengan hewan kurban.  Inilah awal dari anjuran ibadah berkurban. 

Dari pelajaran di atas ada yang harus kita garis bawahi bersama yaitu :

  • 1.    Bila menginginkan anak kita sholeh maka yang harus pertama kita lakukan adalah mendidik diri kita sendiri agar sholeh terlebih dahulu.  Tauladan adalah hal yang sangat penting dalam mendidik anak-anak.


 “Sungguh telah ada untuk kalian teladan yang baik dalam diri Ibrahim dan orang-orang     
  yang bersamanya.” (al-Mumtahanah: 4)

  • 2.  Yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim selain memberikan suri tauladan yang baik, ternyata Nabiyullah Ibrahim juga berdo’a meminta dan bercita-cita dengan sungguh-sungguh agar diberi keturunan yang sholeh.


“Tuhanku, karuniakanlah untukku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shaleh.” (Ash Shaffat : 2)

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang menegakkan shalat, juga dari keturunanku. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.” (Ibrahim: 40)

  • 3.  Pelajaran lainnya kita dituntut untuk mengedepankan dialog yang didasarkan pada nilai-nilai ukhuwah Islamiyah.  Nabi Ibrahim membuktikan bagaimana ia mengedepankan dialog atau musyawarah sebelum mengambil keputusan.  Komunikasi seperti ini akan membentuk anak-anak dengan kepribadian yang baik dan penuh percaya diri  karena ia merasa  dihargai.

  • 4.   Dan pelajaran penting lainnya adalah mustahil kita mendapatkan sesuatu yang luar biasa tanpa ada pengorbanan.  Untuk meraih atau menghasilkan sesuatu butuh pengorbanan dan perjuangan.  Nabi Ibrohim AS telah mengorbankan waktunya untuk mentarbiyah istri dan anaknya hingga mereka memiliki ketakwaan dan ketabahan yang luar biasa.


Demikianlah pelajaran yang bisa kita ambil dari keluarga Nabi Ismail, semoga kita semua bisa merefleksikannya dalam kehidupan keseharian kita sehingga kita bisa membentuk keluarga yang sakinah mawadah warohmah yang dilandasi oleh keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

“Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…..” (QS At Thahrim  6).

Wallohu’alambishowab

Tulisan ini adalah artikel yang ditulis untuk sebuah buletin bulanan 

15 komentar:

  1. Poin penting yang harus dijadikan landasan hidup sehari-hari ya Mba, sebagai umat muslim bagaimana harus senantiasa memiliki hati ya bersih, termasuk ke ikhlasan Ismail saat ayahnya Ibrahim bercerita tentang panggilan Allah untuk menyembelih dirinya.. subhanallah

    BalasHapus
  2. Mudah - mudahan kita bisa menjadi orang tua bijak yang bisa membimbing anak menuju ridho dan berkah Allah Subhanahu Wa ta'ala, aamiin

    BalasHapus
  3. Kisah Nabi Ibrahim bersama keluarganya ini sungguh kisah yang luar biasa ya Teh, banyak pelajaran hidup yang bisa kita pelajari dari kisah-kisah mereka.

    BalasHapus
  4. Keluarga Ibrahim dipenuhi kebarokahan, semoga kita bisa meneladani ketaatan I=Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail

    BalasHapus
  5. Pembelajaran Iedul Adha, pada hakikatnya adalah pembelajaran bagaimana menyembelih ego.
    Ketaatan pada perintah Allah dg menyingkirkan ego

    BalasHapus
  6. Kecolek banget sama tulisan mba, memang yaa klo saat kita punya harapan memiliki anak sholeh maka yang harus disholehkan terlebih dahulu adalah kita (orangtuanya)...

    BalasHapus
  7. Tiduk mudah menjadi orang tua zaman sekarang, saya belum punya pengalaman sih tapi saya yakin orang tua sekarang harus belajar lebih banyak dari anak agar bisa "mengimbangi" pertumbuhan dan perkembangan yang pesat

    BalasHapus
  8. Sebagai istri, Bunda Ismail ikut berperan pula ya dalam peristiwa ini
    Betapa beliau sangat ikhlas. Gak kebayang emak-emak zaman now kalau anaknya mau diminta...

    BalasHapus
  9. Kita dapat ambil ibrah yg baik y mba pasrah thrdap kputusan Allah maka akan Allah ganti dg nikmat yg luar biasa

    BalasHapus
  10. Sebagai orangtua tentunya harus bisa bijak ya mbak, dan kisah Nabi Ibrahim memang sangat memotivasi setiap orangtua agar bisa belajar banyak tentang pengorbanan dan taat pada Allah

    BalasHapus
  11. memang kisah nabi Ibrahim ini selalu mengajarkan kita jika kita harus taat kepada Allah, buktinya saja ia rela mengorbankan anaknya demi taat ia kepada Allah.. semoga kita semua bisa membangun keluarga yang taat kepada Allah.. aamiin

    BalasHapus
  12. Subhanallah!

    Pelajaran berkurban ini memang memberi kita kesadaran untuk memanfaatkan hari raya Idul Adha untuk berbagi kebahagiaan kepada sesama yang membutuhkan pertolongan*

    BalasHapus
  13. yah, teladan nabi Ibrahim dan Ismail memang akan menajdi teladan sepanjang masa, termasuk keikhlasan siti hajar, sampai akhir dunia pun be;ia akan disebut terus dan didoakan terus oleh seluruh umat manusia

    BalasHapus
  14. Teladan sepanjang masa. Masya Allah pgn kaya Hajar yang gak baperan :')

    BalasHapus
  15. Kalau mau anak sholeh sholehah kta dulu yg jd baik ya mbak. Postingannya bagus banget mbak. Aku banyak kurangnya :(
    Tapi dr tulisna ini bisa belajar banyak cara bersikap jd ortu TFS

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^