14 Okt 2012

"Iiih... ayang oon deeeh"


Cimahi, 14 Oktober 2012

Bismillah,

Tinggal di lingkungan kost-kost an mahasiswa selama belasan tahun tidak membuat mataku terbuka melihat kenyataan di lingkungan sekitar.  Baru tiga tahun terakhir ini, setelah membuka usaha laundry barulah mataku terbuka lebar melihat kenyataan miris di pelupuk mata. 

Sore itu, sepulang mengantar anak les, seorang perempuan muda yang cantik tampak menuju pintu laundry, seorang mahasiswi. Khawatir pegawai sedang sibuk di dalam, segera aku menyusulnya.

"Mau ambil cucian Mba" Pandangan mataku tertuju pada faktur di tangannya.
"Punya Mas S ya.." susulku
"Iih, Ibu kok tahu padahal belum lihat fakturnya" tanya nya heran.
"Ayaaaang... si Ibu tahu eun lho nama Ayang, padahal belum lihat namanya" teriaknya pada "Si Ayang" yang lagi duduk manis di atas motor di tempat parkir. 
Aku hanya tersenyum dan meraih faktur yang ia berikan.
"Ini Mba.... tuuh ada jam tangannya" kataku. Di atas cucian yang sudah terpacking rapi, tampak sebuah jam tangan laki-laki berwarna hitam.
"Haa... Ayaaaaaaaaaang lihat ini ada jam tangan Ayang..., kecuci enga Bu ? Kecuci engga?" tanyanya ribut bernada manja.
"Masa sih... aduh pantes, kemarin bingung kemana jam tangan teh" jawab si Ayang sambil turun dari motor, ia segera menemui kami di dalam.
"Engga kayaknya" jawabku asal, memang aku nggak tahu, bukan aku yang mencucinya.
"Iiiiiiih... Ayang oon dweeh... " serunya sambil menepuk jidat Si ayang.
Yang ditepuk jidatnya cengengesan, merasa bersalah. Segera aku ke dalam, malas menghadapi dua makhluk ini yang kalau sudah deketan sering mempertontonkan kemesraan yang berlebihan. Kalau sudah muhrim sih tak terlalu masalah walau kurang pantas juga, tapi ini.. aku yakin mereka memang belum menikah.  Posisiku melayaninya digantikan bu Nani pegawaiku.
"Iih padahal ini hadiah ulang tahun dari aku lho, Bu... sejutaan... dasar si Ayang oon.." kudengar sayup suaranya.
Pembicaraan mereka pun tak kudengar lagi.

Bukan satu dua orang mahasiswa yang ku kenal baik berprilaku seperti si ayang dan pacarnya tadi. Berhubungan sudah sangat dekat, terlihat dari perilaku mereka dan cucian yang mereka satukan. Terkadang pegawaiku melaporkan ada alat kontrasepsi yang tertinggal di saku celana cucian. Pernah juga pil KB. Suatu saat pernah di celana dalam sang pria ada bercak darah bekas haid. Bahkan untuk celana dalam pun mereka sudah satu pakai !!

Lebih miris lagi, aku menemukan mereka sudah tidak bersama lagi setelah mereka berdua  lulus kuliah. 

"Teh L nya kemana Mas? " tanyaku pada seorang pelanggan yang kukenal dekat. Lama tak bersua, ternyata dia sudah lulus dan bekerja di kota lain. Memang awal-awal berdiri laundryku ini, aku banyak turun tangan. Hingga aku dekat dengan mereka, terutama pelanggan awal.

"Sudah tidak bareng lagi Umi" jawabnya malu.

"Haa ? Sudah bosan?" tanyaku terkejut campur  heran. Mengingat kebersamaan mereka dulu. Aku yakin mereka sudah hidup bersama layaknya suami istri. Banyak hal memperlihatkannya. Misalnya baju yang sudah tercampur, dan celana dalam pria bekas haidh. Belum lagi kebersamaan mereka yang luar biasa lengket.

"Sudah ngga cocok lagi, Mi" katanya menjawab pertanyaanku sambil senyum-senyum.

Masya Alloh... rugi banget tuh perempuan, lama sudah dipakai... eh setelah lulus ga jadi nikah....

Lain waktu, datang seorang pelanggan lamaku bersama seorang perempuan yang tak ku kenal. Ketika sang perempuan tidak bersamanya aku menanyakan pasangan lamanya.
"Kamana wae Mas, Ari si Eneng L na mana, kok ganti baru ?" tanyaku heran melihat dia berganti pasangan.
"Dah lulus bu, sekarang lagi maen kesini. Si Eneng mah sudah engga bareng lagi Bu" jawabnya enteng.

Itulah fragmen kehidupan yang sering kulihat saat ini. Miris memang. Muda belia jauh dari orang tua tanpa dibekali dasar agama yang cukup beginilah jadinya. Limpahan uang kiriman orang tua membuat mereka semakin bebas berbuat semaunya, tanpa aturan yang mengikatnya. Tempo hari, sebuah dompet kulit cantik sekali tertinggal di laundryku. Ketika kuperiksa di dalamnya ada sebuah kartu identitas berfoto perempuan berjilbab. Yang menarik selain ratusan ribu uang di dalamnya, adalah sertifikat keaslian dompet itu dari sebuah merk yang terkenal, tertera harga Rp 980.000 di atasnya. Yang muncul kemudian untuk mengambilnya, seorang mahasiswi sangat cantik bercelana pendek, padahal di kartu identitasnya jelas-jelas dia menggunakan jilbab rapi. 

Untuk sebuah dompet mereka membeli yang mahal, untuk kado ulang tahun pacarnya mereka mampu memberikan hadiah yang bagus. Sejuta bagiku, cukup untuk membayar lebih dari setengah SPP anak-anakku satu bulan. Berlimpah sekali mereka. Aku pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, ketika seorang mahasiswa hendak membayar laundrynya. Setumpuk uang berwarna biru padat di dalamnya. Entah untuk apa uang sebanyak itu, mungkin untuk bayar kost an atau mungkin untuk membayar uang kuliah.

Beberapa bulan lalu, saat orang khusuk dengan syahdunya bulan Ramadhan. Di tempatku dikejutkan dengan ramainya polisi dan ambulans yang menuju ke sebuah tempat kost. Ternyata telah terjadi sebuah pembunuhan oleh seorang mahasiswa tingkat akhir terhadap pacarnya. Koran dan televisi pun ramai menberitakannya. Aku tahu perempuan  yang dibunuh itu, walau tidak kenal dekat tapi beberapa kali aku bertemu dengannya di tempat laundryku. Seorang perempuan cantik yang selalu berbaju super seksi. Celana pendek, dengan atasan pendek yang selalu memperlihatkan belahan dadanya. Namun beberapa bulan terakhir aku melihatnya selalu mengenakan jilbab rapi. Di tengah keributan mereka berdua pada dini hari, tak sengaja sang pacar membunuh sang perempuan dengan membenturkan kepalanya ke dinging kamar kost.

Beberapa kali di sini, ditemukan mayat bayi tak berdosa terbungkus plastik di buang di sebuah kebun.

Apa yang tampak di depan mata cukup membuatku miris. Sebuah potret kehidupan generasi muda penerus bangsa begitu jelas di pelupuk mata. Atsmosfir disini memang berbeda dengan kampus yang di jalan Ganesa sana misalnya. Kontras. Tetapi kuliah bukan di perguruan tinggi pilihan, seharusnya tidak membuat mereka lebih santai dalam meraih cita-citanya. Walau tidak semua tetapi lingkungan di sekitarku sedikit banyak mencerminkannya.

Masih banyak yang masih lurus-lurus saja dan belajar dengan baik memang. Ada juga beberapa yang membuat saya kagum. Seorang mahasiswa mampu kuliah sambil membuat usaha sendiri, walau mereka berasal dari keluarga berkecukupan. Selidik punya selidik ternyat dasar agama yang diberikan orang tua kepadanya memang cukup kuat.

Sebuah PR bagi orang tua. Kita semua. Untuk selalu membekali mereka, anak-anak kita dengan keimanan dan ketakwaan semenjak dini, agar dimana pun mereka berada, ada tidaknya kita orang tuanya, mereka tetap berada di atas relnya. Karena mereka memahami ada zat yang maha melihat yang selalu mengawasinya.

8 komentar :

  1. jadi inget waktu jaman mahasiswa dulu sy nge-kost jg... emang banyak yg gitu ya umi,, tp alhamdulillah sy msh dijaga Allah dan doa orangtua tentunya... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siip...iya alhamdulillah mudah2an anak2 kita juga selalu dijaga Allah SWT ya :)

      Hapus
  2. memang fondasi awal dari keluarga yang harus ditanam agar kelak anak bisa menjaga dirinya sendiri dengan aman

    BalasHapus
  3. Betul sekali :D
    Tepat sekali ... :D

    BalasHapus
  4. Memang pondasi agama mutlak diperlukan mbak, bukan hanya beban akademis yang menuntut anak menjadi pintar tapi minus moralitas.

    BalasHapus
  5. Subhanalloh... bener sekali mbakkk....

    BalasHapus
  6. walo saya juga masih berstatus mahasiswa, tapi emang banyak kok kejadian kayak gitu x_x kontrakan samping rumah juga sering seliweran cowok-cewek masuk rumah malem dan pulang pagi



    tulisandarihatikecilku.blogspot.com

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^