**/ Cerita Ida : Integreted Learning For Family Integrity (2)

blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

3 Feb 2015

Integreted Learning For Family Integrity (2)

Mohon maaf dengan ketidaknyamanannya membagi tulisan menjadi dua sessi lebih karena ingin menuliskan sekomplit mungkin... sayang aja sih materinya bagus banget nget.... hehehe...Tap eh malah keburu banyak yang lupa deh hehe. materi pertamanya ada di sini ya ^_^


Sessi Kedua
Home Education - Mendidik Anak dengan Cinta

Dasar pemikiran dari home education adalah

Orangtua sebagai pendidik utama
Rumah sebagai home based pendidik
Pendidikan harus disesuaikan dengan jiwa anak
Home Education dimasa anak-anak bersifat wajib
Home Education dmasa setelah baligh bersifat pilihan

Bu Irawati Istadi sebagai pembicara kedua adalah seorang penulis lima belas buku yang hampir semuanya adalah buku-buku parenting.  Buku yang best sellernya adalah Mendidik Anak dengan Cinta.  Pada kesempatan ini pemaparan Bu Irawati lebih kepada "testimoni" pendidikan anak-anaknya. Tidak salah sih, justru maksudnya ingin berbagi mengingat beliau telah cukup sukses mendidik keenam anak-anaknya.

Beliau memaparkan tentang salah kaprah pemikiran tentang Home Education (HE) saat ini dimana HE dilakukan karena ada masalah dengan anak-anaknya, selain itu dengan HE anak-anak menjadi kurang bersosialsasi serta HE terlalu memberi kebebasan kepada anak. Padahal pada kenyataannya justru di negara maju sudah banyak yang kembali mempercayakan pendidikannya pada HE. Masalah kurang bersosialisasi? Kini malah banyak komunitas HE atau lebih dikenal Home Schooling Grup hingga anak-anak HE bisa bersosialisasi seperti halnya anak sekolah biasa. Terlalu bebas?  Itu tergantung orang tuanya saja tinggal membuat aturan-aturan yang disepakati bersama.  Menurut beliau  kebanyakan orang tua tidak melakukan HE karena  tidak memiliki ilmu dan kreativitas dalam mendidik anak-anak hingga mempercayakannya pada sekolah.


Di dalam Islam pokok-pokok ajaran atau hal utama yang harus diterapkan kepada anak ada terdapat dalam Qur'an Surat Lukman ayat 13-19 yaitu tentang Tauhid, Sholat dan Kesiapan anak untuk dapat bergaul serta memberikan manfaat di dalam masyarakat.


Kurikulum yang diajarkan dan dicontohkan oleh rasulullah SAW adalah:

Al Alaq         1 - 5  :  Membaca
Al Qolam      1 - 7  :  Konsep diri pintar
Al Muzammil 1-10 :  Konsep perbaikan ritual
Al Mudatsir   1-10 :  Konsep bermanfaat bagi masyarakat
Al Fatthihah   1-7   :  Pribadi yang unggul

Ada beberapa tips yang beliau berikan dalam menjadikan rumah sebagai based pendidikan (HE)
Siapkan waktu luang
Siapkan mental spiritual
Siapkan kurikulum wajib dan perlengkapannya
Rancang rencana kegiatan harian
Buat evaluasi berkala


Pembicara kedua di sessi yang kedua adalah the "Romantic Couple Trainer" yaitu Ikhsanul Kamil dan istrinya Foezi Citra Cuaca Elmart atau lebih dikenal dengan Canun dan Fufu.  Dibuka dengan sebuah puisi dan lagu oleh Teh Fufu. Dilanjutkan dengan materi mempersiapkan keluarga yang harmonis oleh sang suami, Canun.

Acara dikemas cukup menarik sehingga suasana lebih segar dan antusias dibanding materi-materi sebelumnya. Di awal materi Canun mempertanyakan perbedaan makna home dan house.  Kalau house lebih ke fisik yang pemenuhannya tidak ada yang mau menerima pendelegasiannya. Mana ada orang yang mau membiayai pembangunan rumah kita atau cicilannya dengan gratis.

Sementara makna home lebih pada perasaan atau emosi, untuk home ini ketika seseorang sudah tidak merasakan perasaan nyaman dalam rumah maka ia akan mencari diluaran dan akan ada banyak orang yang siap menerima pendelegasian pemenuhan kebutuhan ini.

Ketika awal berumah tangga tidak ada yang berniat atau terbayangkan untuk melakukan perselingkuhan dengan orang lain tentu saja. Bukankah ketika sedang memadu kasih dunia pun serasa milik berdua?  Kemudian dalam proses berumah tangga mulai ada friksi, mulai ada kekecewaan, mulai ada rahasia-rahasia.  Password medsos, gadget, gaji tidak boleh ada rahasia.  Kalau tidak ada apa-apa kenapa harus ditutup-tutupi?

Berasal dari latar belakang yang berbeda memiliki karakter yang berbeda tentu saja akan ada perbedaan-perbedaan diantara pasangan. Terlebih antara perempuan dan laki-laki terdapat banyak perbedaan dalam sudut pandang dan dalam bertindak.  Bila ini tidak disikapi dengan bijaksana dan kedewasaan tentu akan banyak pertikaian diantara pasangan.  Dan yang menjadi korbannya tentu saja anak-anak kita.  Suami homeless, istri homeless maka akan melahirkan anak-anak yang homeless.

Canun yang membawakan materi dengan menarik karena sangat ekspresif, mengungkapkan tentang analogi Bambu Cina untuk menggambarkan awal-awal kehidupan berumah tangga.  Bambu Cina dalam lima tahun pertama disirami, dipelihara dan dirawat tapi tak terlihat tumbuh.  Padahal saat itu di dalam tanah bambu cina sedang membuat akar yang kuat untuk menopang tubuhnya kelak. Setelah proses penguatan akar selesai ia akan tumbuh subur menjulang ke atas tanpa takut roboh karena telah memiliki akar yang kuat.

Dalam rumah tangga pun demikian, awalnya adalah saling menyesuaikan diri saling memahami, bila ingin mengubah sebuah kebiasaan pasangan yang tidak kita sukai caranya dengan menuntunnya bukan menuntut.

Untuk menjadikan rumah tangga kita menjadi home ada tiga tindakan yang diperlukan:

1. Cleanshing (Penyembuhan)

Proses penyembuhan luka batin masa lalu, proses tazkiyatun nafs (membersihkan masing-masing diri) agar tidak terbentuk rumah tangga yang homeless.  Dibutuhkan kesadaran masing-masing diri serta dukungan dari pasangan tentu saja.

2. Nursing

Merawat asmara, merawat cinta yang memang mudah padam bersama berlalunya sang waktu.  Tanpa perawatan maka cinta yang awalnya menggebu bisa saja hilang tak berbekas bahkan mungkin bisa berubah menjadi benci.

3. Designing

Merancang masa depan bersama.  Anak, kehidupan berumah tangga, cita-cita dan harapan bersama.

Acara terakhir adalah game tatap-tatapan mata, simulasi agar bisa diterapkan real dengan pasangan kita.  Menatap selama satu menit, membuang jauh-jauh bisikan yang mengganggu.  Menatap selama satu menit itu ternyata susah ya... Ada yang berhasil menepiskan suara-suara yang mengganggu, sampai bisa mengeluarkan air mata.  Tapi ada  juga yang tertawa-tawa seperti pasangan bermain saya.  Al hasil gagal dong simulasinya hehe....  Setelah itu saling curhat apa yang menjadi beban selama ini kemudian berpelukkan saling menguatkan.



4 komentar :

  1. Salah satu penulis favoritku tuh mbak. Punya beberapa bukunya termasuk "Mendidik dengan Cinta" :)
    Acaranya bagus ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya keren yak... anak enam masih sempet nulis, produktif lagi. Acaranya bagus mba alhamdulillah berkah jadi blogger bisa ikut gratisan hehe

      Hapus
  2. seru banget acaranya, sayang saya ga bisa ikutan :(
    makasih sharingnya ya teh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya seru sayang ga bisa ikut padahal dirimu msh kecil anaknya ya... msh bs dibentuk... makin banyak input makin bnyk ide deh buat si kecil ^_^
      Sama-sama mba ^_^

      Hapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^