**/ Cerita Ida : Ketika Burung Diajarkan Berenang dan Ikan Belajar Terbang

blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

15 Jul 2016

Ketika Burung Diajarkan Berenang dan Ikan Belajar Terbang


Sebetulnya saya sangat mengapresiasi orang tua yang mampu mengajari anaknya di rumah tanpa harus sekolah alias home schooling.  Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi putra - putrinya. Seharusnya dialah yang banyak yang mengajarkan segala sesuatu kepada anaknya.  Dia yang tahu betul kondisi anaknya.  Karena anak itu unik satu sama lainnya berbeda.  Sayangnya saya dan suami tidak terbentuk seperti itu.  Sebetulnya bisa saja membentuk diri untuk bisa seperti itu tetapi harus ada kerja sama yang baik diantara keduanya.  Kalau hanya satu pihak tentu saja akan gagal.

Kondisi sekolah yang menyamaratakan kondisi anak membuat banyak anak yang sebetulnya semua pintar dicap sebagai anak yang bodoh.  Seperti burung yang dipaksa untuk berenang dan ikan dipaksa untuk terbang.  Semua anak dipaksa untuk belajar secara generalis.  Menyeluruh tanpa tau minat dan bakat anak itu kemana.  Padahal anak tidak menyukai pelajaran itu, tetap saja dipaksakan harus belajar tentang itu.


Padahal pengalaman sih, banyak ilmu yang tidak bisa dimanfaatkan jadinya, useless karena memang bukan ilmu terapan.  Sekali lagi tidak ingin mendiskriditkan, karena ketidakmampuan serta kondisi yang akhirnya membuat saya harus menitipkan semua anak saya pada sistem seperti itu.  Mau tak mau saya harus mengikuti semua itu.  Si sulung yang paling sering protes, kenapa sih harus belajar ini, kenapa sih harus belajar itu, aku kan tidak suka.  Akhirnya saya hanya bilang "Semua ada manfaatnya, ikuti saja, nanti kalau sudah besar, Kakak bisa mengubah kondisi ini.."

Beruntungnya di tingkat menengah atas, sekolah sudah mulai ada penjurusan terutama Sekolah Menengah Kejuruan.  Di sinilah anak sudah mulai diarahkan sesuai minat dan bakatnya.  Sudah mulai mengarah sesuai dengan keinginanya meski tetap saja masih dipaksa untuk belajar sesuatu yang tidak disukainya walau dengan porsi yang sudah jauh lebih sedikit.  Sayangnya jurusan masih belum terlalu komplit, hingga tidak memfasilitasi anak-anak tertentu dengan minat tertentu.

SMK memfasilitasi anak-anak yang sudah mulai memiliki minat khusus.  Saya memiliki teman yang dari SD sampai SMP anak itu tidak mau sekolah. Sering bolos, mogok tidak mau sekolah hingga hampir semua orang mungkin mencapnya bermasalah.  Beruntungnya kini usianya sudah memasuki sekolah menengah dan menemukan sekolah dengan jurusan sesuai yang diinginkannya.  Alhamdulillah, ibu bapaknya mulai bernafas lega anaknya 'sekolah' lagi.  Si anak pun gembira karena hanya belajar pelajaran yang memang ia sukai.

Beruntungnya ada SD dan SMP yang memfasilitasi anak seperti anak temanku itu.  Sekolah yang mengarahkan agar anak menemukan minat dan cita-citanya sejak dini.  Sayangnya lebih banyak anak ABK nya yang gabung di sekolah itu hingga banyak yang mencap sekolah itu sekolah untuk ABK.  Alhamdulillah di Sekolah Menengah Kejuruan anak - anak normal terlepas dari anggapan itu karena mereka bisa sekolah di tempat yang oleh umum dianggap normal.

Sekali lagi saya tidak mendeskriditkan sekolah umum, karena memang sistem di negara kita seperti ini.  Beruntungnya ada SMK yang memfasilitasi anak-anak yang sudah memiliki minat khusus dari kecil.  Acungkan jempol untuk SMK....

Di sekolah kejuruan anak-anak belajar langsung terarah hingga keluar dari sekolah itu langsung memiliki keahlian dan keterampilan sesuai dengan bidangnya. Sayangnya lagi-lagi dunia bertindak tidak adil.  Kalau hendak berkarir sebagai pegawai kita harus kembali bergelut dengan perkuliahan.  Karena bagaimana pun ahlinya, seorang lulusan SMK karirnya mentok di bawah mereka yang bertitel sarjana yang walau kemampuannya mungkin masih di bawah mereka yang lulus dari sekolah kejuruan.

Baiklah, memang anak harus diset untuk tidak menjadi pekerja, tetapi harus diset menjadi seorang wirausahawan sejak dini.   Bukan disiapkan untuk mengisi kebutuhan pasar atas tenaga kerja yang dibutuhkan.  SMK harusnya membekali juga jiwa kewirausaan bukan sekedar menyiapkan murid-muridnya untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja, jangan hanya sekedar menjadi "Market Oriented"  Ups... lagi-lagi saya tersindir seharusnya orang tua lah yang bisa menyiapkan semua ini. Anak-anakku maafkan ketidakmampuan umimu..... :((

Sekolah yang ada sekarang banyak yang mematikan jiwa enterpreneur anak-anak, karena hanya melatih otak kiri mereka.  Otak kanan anak-anak hanya diasah saat sekolah PAUD dan TK, saat anak-anak belajar dengan penuh keceriaan bernyanyi dan bermain. Selebihnya SD sampai perguruan tinggi otak kirilah yang diasah.  Padahal untuk menjadi enterpreneur otak kananlah yang banyak berperan.

Baiklah cukup di sini igauan saya, tertidur karena harus ngeloni si bungsu yang lagi manja. Terbangun pukul 23.30 dan teringat harus memenuhi kewajiban menulis di One Day One Posting paling telat pukul 23.59.   Tema kali ini tentang SMK, beruntung masih ada waktu tiga puluh menit dan ini tulisan kilat saya walau mungkin isinya tidak terlalu dalam hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban.  Mohon maaf bila ada yang tersinggung dengan igauan saya hehe...


1 komentar :

  1. Ahi hi hi bagus juga mbak igauannya, kalau saya mah igauan tengah malam dijamin langsung tepar deh, ahi hi hi.

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^