blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

2 Okt 2017

Aha Moments Skyscanner Indonesia: Di Yogyakarta, Aku Bertemu "Malaikat"

My theory on life is that life is beautiful. Life doesn't change. You have a day, and a night, and a month, and a year. We people change - we can be miserable or we can be happy. It's what you make of your life
Mohammed bin Rashid Al Maktoum
Menulis kutipan di atas hanya ingin mengungkapkan bahwa manusia itu berubah, bahwa kita bisa bahagia atau menderita tergantung apa yang kita lakukan di dalam hidup ini.   Saya merasakan perubahan itu dari waktu ke waktu, harapannya sih semoga ke arah lebih baik selalu. 

Anak-anak sudah beranjak besar, ada saatnya saya ingin lebih menikmati kehidupan ini.  Target hidup memang sudah tidak terlalu ke materi, toh bukan itu yang akan dibawa pulang nanti.  Tapi keinginan untuk membaca ayat-ayat Allah SWT dalam bentuk kauniah, membaca keindahan alam Nya, mentadaburi dan mensyukuri keragaman yang memesona ternyata masih begitu besar.  Selalu ada hikmah di setiap perjalanan, selalu ada yang bisa saya bawa untuk bekal pulang...


Yogyakarta, Kami Datang...

Salah satu perjalanan yang penuh inspirasi adalah saat traveling ke Yogyakarta.  Bukan karena yang pertama kalinya, karena dulu adik kuliah di sana jadi sempat beberapa kali ke sana.  Memetik hikmah yang saya dapatkan dari perjalanan bersama teman-teman, itulah mengapa perjalanan itu begitu berkesan.  Yup, tentu saja membahagiakan bisa traveling bersama keluarga, tetapi hikmah yang lebih besar selalu saya dapatkan saat pergi bersama teman-teman.  Mungkin karena lebih menikmati, tidak ada tanggung jawab lain selain diri sendiri..hihi...Terdengar terlalu egois ya..tapi saya memang perlu me time itu, karena me time untuk saya memberikan penyegaran untuk melangkah lebih baik lagi.

Berangkat dengan kereta api malam, terburu kami mengejar waktu, ada suatu hal yang membuat kami agak terlambat.  Alhamdulillah saat tiba di Stasiun Kereta Api Bandung masih ada waktu.  Kami berenam bukan semata traveling tanpa tujuan, kami hendak belajar pada sepasang suami istri yang sudah menjadi trainer tentang keluarga sakinah dalam skala nasional maupun internasional.  Ya, kami berenam memang dari sebuah lembaga yang sama bernama Rumah Keluarga Indonesia, banyak menangani kasus-kasus di dalam rumah tangga pasangan yang konsul kepada kami.  Berguru dalam membentuk lembaga bantuan terhadap masalah kerumahtanggaan ini kepada ahlinya, itu tujuan lain kami.

Sudah lama tidak melakukan perjalanan dengan kereta api dalam waktu yang lumayan lama, 12 jam membuat perjalanan cukup melelahkan bagi saya.  Terlebih saya lupa tidak makan obat anti mabuk yang terkadang saya konsumsi agar tertidur lelap saat dalam kendaraan, bukan karena suka mabuk lho..hihi.. Saat terlupa seperti ini, jam tidur pun ternyata tidak membuat saya bisa tertidur, lebih banyak bangun daripada tidurnya.


Sesaat setelah tiba di Stasiun KA Yogyakarta, abaikan wajah lelah itu :)

Alhamdulillah menjelang shubuh akhirnya kami sampai juga di Stasiun Kereta Api Yogyakarta.  Di sambut hujan yang cukup besar.  Kami pun mencari mushola, duduk dekat mushola sambil melepas lelah setelah perjalanan cukup panjang.  

Setelah sholat dan bebenah, akhirnya kami bertemu dengan penjemput kami.  Sebuah Fortuner hitam lengkap dengan seorang supirnya siap mengantarkan kami.  Namun karena suasana hujan kami langsung menuju rumah suami istri trainer itu.

Sebuah rumah yang nyaman, dengan satu rumah induk, dan sebuah Guest House cukup besar di sebelahnya.  Begitu kami memasuki ruang tamu Guest House jejeran meja dan kursi terlihat memanjang.  Menurut mba yang mengantarkan kami ke kamar, rumah itu memang sering kedatangan tamu yang hendak belajar kepada suami istri trainer itu.

Oya saya belum menjelaskan siapa suami istri itu, sebetulnya di kalangan tertentu mereka sudah sangat terkenal. Pasangan Bapak Cahyadi Takariawan dan Ibu Ida Nur Laila pasangan penulis dan trainer, konsultan keluarga Rumah Keluarga Indonesia dan Jogja Family Center.  Pasangan serasi yang seiring sejalan di dunia yang sama.  Buku-buku mereka sudah banyak tersebar, yang terbaru adalah Seri Wonderful Family yang terdiri dari empat jilid buku.

Perjalanan di Kota Yogyakarta yang Mengasyikan

Kembali ke laptop yak, karena Mba Ida dan Pak Cakra sedang berada di Jakarta, kami tidak bisa langsung konsultasi kepada mereka,  Kesempatan itu kami gunakan untuk jalan-jalan di Kota Yogyakarta.  Sebetulnya saya sudah membuat itinerary untuk perjalanan kami di Yogyakarta tetapi begitu sampai di Yogya, itinerary itu tak berlaku, karena kami kalap di tempat belanja batik... hahaha... Ssst...tapi ada tapinya lho, kami emang orang baik semua (xixixi..boleh dong geer..), kami belanja lebih banyak untuk hadiahnya kok daripada untuk sendiri ..hihi..

Tempat pertama sebelum kami berbelanja yang kami kunjungi adalah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.  Keraton ini merupakan salah satu objek wisata di Kota Yogya, meski masih merupakan tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya, sebagian besar bangunannya digunakan sebagai museum.  Museum ini menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, gamelan dan replika pusaka keraton,

Difoto oleh bule di halaman dalam keraton

Penulis dan seorang teman berfoto di depan kursi kesultanan
Bangunannya sendiri merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki lapangan dan paviliun yang luas serta beberapa balairung mewah.  Di sini saya terpesona oleh kebaikan seorang bule, saat saya hendak menyimpan hand phone di tongsis untuk bernarsis ria dia mendatangi kami sambil tersenyum dan berkata "May I help you..."  Hmmm.. dari sekian banyak orang yang lalu lalang di depan kami yang kebanyakan pribumi hanya bule ini lah yang menawarkan diri membantu kami.  Jadi berpikir apakah kebanyakan bule proaktif seperti dia kah...? Hmmm...


Di keraton ini sebetulnya para pengunjung langsung didampingi oleh para guide yang proaktif mendatangi pengunjung lalu menjelaskan setiap jengkal di lingkungan istana itu dengan fasih,  Namun karena merasa kasihan harus mengikuti kami terus yang hiperaktif, bolak balik gak jelas, kami menolak bantuan mereka dengan halus.  Toh semua sudah ada keterangan-keterangan yang tertulis, kalaupun memerlukan kami bisa searching Google aja ..hihi..

Iseng candid teman2  yang asyik memilih barang di Pasar Beringharjo
asyik menikmati makanan khas Yogya di depan Pasar Batik Beringharjo
Setalah puas mengelilingi keraton, tujuan kami selanjutnya tiada lain tiada bukan adalah... belanjaaaa hahaha... Tempat pertama yang kami jambangi adalah Pasar Batik Beringharjo.  Konon pasar batik yang lokasinya tidak jauh dari Malioboro ini cukup murah.  Tentu saja diperlukan kepiawaian kita menawar barang.  Katanya sih tawar setengah dulu baru naik sedikit demi sedikit...

Berfoto di Butik Batik Pertiwi
Sebagian penampakan Batik Pertiwi

Beberapa tempat batik lain setelah itu kami kunjungi, salah satunya adalah Batik Pertiwi. Sempat pula mampir di tempat pengrajin tas dan sepatu kulit.  Harganya cukup lumayan, rata-rata Rp 600.000 ke atas tapi saya menemukan sebuah tas selempang kecil yang lucu seharga Rp 70.000 saja.  Akhirnya setelah berkeliling beramai-ramai kami kembali ke toko tas yang saya beli.  Tas kami jadi seragam, ada tiga orang yang membeli tas ini.  Sekarang tas kulit bewarna coklat itu sudah dibawa terbang si sulung yang kuliah di Turki..hehe...

Tumpukan tas kulit yang menggoda...

Setelah puas kami pulang menuju tempat kami menginap.  Kabarnya Mba Ida sudah tiba di Yogyakarta.  Betul saja saat malam tiba Mba Ida mengunjungi kami di kamar, senang sekali berbincang dengan beliau.  Banyak pelajaran yang kami dapat tentang tips-tips menjadi konsultan keluarga dan bagaimana menangani permasalahan mereka.

Rencananya sebelum besok pulang kami akan diterima secara resmi oleh Mba Ida, dan belajar secara lebih resmi lagi.  Mba Ida pun membawakan kami makan malam dengan menu Gudeg Yogya yang sangat khas itu.  Oh My God..enak sekali gudeg nya, rasanya baru sekali ini mencoba gudeg seenak ini,  mengingat makanan itu membuat saya lapar jadinya.  Kata Mba Ida, gudeg itu dibeli di tempat gudeg langganannya yang memang rasanya lebih enak dari tempat yang lain. Kami pun berencana besok sebelum pulang hendak berkuliner ria di kota Yogya.

Pagi sekali kami telah siap melakukan perjalanan mengelilingi Kota Yogya, tidak banyak tempat yang bisa kami singgahi, karena tinggal seharian ini, jadual keberangkatan pesawat pukul 18.00.  Mba Ida bersama suaminya sudah pergi lagi karena sedang mengisi training.  Begitulah..waktunya selalu penuh terisi.  Padat merayap dengan berbagai undangan seminar, training, maupun talkshow.

Kami pun mulai melakukan perjalanan diantar supir Mba Ida. Kali ini kami mengendarai Inova tidak menggunakan Fortuner karena sedang dipinjam untuk sebuah acara. Sementara Mba Ida dan suami cukup menggunakan Sedan Civic tuanya.
 
Mengunjungi seorang pengusaha bakpia

Ngobrol tentang Bisnis Katering

Singgah kembali di Batik Pertiwi karena ada beberapa barang yang lupa dibeli dilanjut bersilaturahmi kepada seorang teman yang lama tinggal di Jepang dan kini menjadi seorang pengusaha katering untuk belajar tentang usaha katering kemudian acara selanjutnya mengunjungi seorang pengusaha bakpia. Beres silaturahmi kami pun mulai berkuliner ria membeli gudeg yogya di dekat UGM.

Terakhir kembali berbelanja di sebuah tempat penjualan batik untuk membeli tas besar, karena ternyata barang bawaan kami membengkak dan beranak hingga perlu tas baru...hihi. Kemudian berkemas mempersiapkan kepulangan kembali ke kota kami. Sebelum pulang tentu saja kami mengikuti acara pelatihan bersama Mba Ida


Sosok "Malaikat" dari Kota Yogyakarta

Selama mengantarkan kami jalan-jalan sang supir kerap membicarakan kebaikan Pak Cahyadi dan Mba Ida tanpa kami minta.  Sedikit terpancing akhirnya kami pun banyak bertanya tentang keluarga beliau.  Menurut pak supir itu ia sudah delapan tahun bekerja bersama keluarga Pak Cahyadi, dan selama delapan tahun itu sama sekali belum pernah melihat pasangan suami istri itu marah.

Terjawab sudah rasa penasaran saya atas barisan motor yang ada di halaman rumahnya, ternyata itu adalah motor-motor yang disediakan keluarga Pak Cahyadi bagi siapa saja yang membutuhkannya.  Tidak hanya itu mobil Pak Cahyadi ada tiga, dan itu sering dipinjamkan untuk acara-acara tertentu atau untuk teman-teman yang membutuhkannya.  Mobil yang dipinjamkan yang bagus lagi, sementara Pak Cahyadi dan istri cukup memakai Honda Civic tuanya.  Sang supir pernah iseng bertanya mengapa tidak direntalkan saja mobilnya, jawaban Pak Cahyadi adalah "Kan sudah..direntalkan sama Allah.." Masya Allah....

Terkadang ada pemimjam yang tak tau berterima kasih, sudah dipinjamkan gratis, eh mengembalikan mobil dalam keadaan kotor atau tergores tanpa minta maaf.  Pasangan yang dikaruniai enam orang anak itu tidak pernah berkeluh kesah atau marah.  Begitulah kehidupan keluarga Pak Cahyadi banyak memberi tanpa pamrih hingga hidupnya begitu berkah.

Saat kami bertamu ternyata ada rombongan lain yang datang ingin konsultasi juga
Rumahnya jarang sekali sepi, tiap pekan pasti digelar pengajian umum yang dipadati orang-orang yang ingin belajar.  Saat kami konsultasi di sana pun ternyata ada rombongan lain dari Bandung yang ingin belajar kepada Mba Ida.  Selama kami tinggal di sana semua gratis, termasuk supir dan makan kami berenam.

Tak heran kalau Mba Ida sempat terpilih menjadi anggota dewan, begitu banyak masyarakat yang sudah mengenal kebaikannya. Namun hanya beberapa bulan saja Mba Ida menjadi anggota dewan, selanjutnya beliau mengundurkan diri karena harus menemani suami menjadi trainer tentang keluarga. Berkeliling ke hampir seluruh pelosok di Indonesia bahkan sampai ke luar negeri seperti Singapura, Malaysia dan Amerika Serikat.

Uniknya lagi setiap pasangan ini memasukan anak sekolah, tidak puas dengan sekolah yang ada akhirnya Mba Ida dibantu suami membuat sekolah baru.  Sekolah TK, SD, SMP sampai SMA pernah mereka buat dan berkembang dengan baik menjadi sekolah favorit.  Dan sekolah itu mereka infak kan tanpa bermaksud memilikinya. Dari cerita Mba Ida saya jadi tahu kalau keluarga Pak Cahyadi juga ternyata sangat demokratis, membebaskan anak memilih sekolah yang disukainya. Anak terbesarnya kini sudah menikah dan bekerja di Australia.

Berfoto bersama Mba Ida sesaat sebelum pulang
Itulah sosok sepasang 'malaikat' yang kami temui di Yogyakarta, kebaikannya begitu menginspirasi kami.  Sebuah perjalanan yang sangat bermanfaat sekali, beruntung bisa mengenal mereka lebih dekat hingga bisa berusaha mencontoh kebaikan pasangan ideal ini.

Sebelum masuk pesawat tak lupa narsis dulu

Dengan Skyscanner Menjadi Lebih Mudah

Masih ingin banyak belajar sesungguhnya tapi waktu memisahkan kami, kami harus segera menuju bandara karena pesawat akan segera terbang meninggalkan kota Yogyakarta yang penuh kenangan. Tiket pesawat sudah kami pesan, sekarang memesan tiket pesawat bisa lebih mudah dan murah melalui Skyscanner lho.  Melalui Skyscanner tidak ada biaya transaksi atau biaya tersembunyi, selain itu juga melalui Skyscanner ini kita bisa mendapatkan harga tiket pesawat, sewa mobil dan hotel dalam satu tempat. Di Skyscanner pun kita bisa menemukan harga termurah dari ratusan situs lokal and internasional terpercaya. Nah kita bisa memesan langsung di situs pilihan kita, penasaran tentang Skyscanner cek deh video ini... :)


Really.... This is My "Aha Moment"

Tentu saja Mba Ida dan Pak Cahyadi bukan pribadi tanpa cela, karena mereka bukanlah malaikat.  Tetapi pribadinya yang lembut, pemurah dan pemaaf, penuh perhatian dan senang berbagi membuatnya seolah menjadi jelmaan "malaikat".  Pertemuan dengan Mba Ida sungguh begitu menginspirasi, betul-betul mengajarkan saya untuk tidak hidup egois mementingkan diri sendiri, hidup hanya untuk diri dan keluarga sungguh terlalu sempit. Mengingatkan saya untuk tidak banyak protes atas aktivitas suami yang banyak menghabiskan waktu untuk kepentingan orang banyak, walau mengurangi waktu untuk keluarga. Karena tidak banyak orang yang bisa berkorban seperti itu....

Banyak hal yang bisa kita beri pada sesama, semakin kita banyak memberi akan semakin berkah hidup kita.   Dunia tidak perlu dikejar, ia akan datang sendiri kala kita sudah bisa menaklukan diri untuk tidak mencintainya... Really... this is my "Aha Moment" for me.  Hidup bukan tentang kita memiliki sesuatu  yang bersifat materi, tetapi tentang makna diri kita bagi sesama, bagi agama, dan bagi kehidupan kita nanti .....


64 komentar :

  1. Sangat langka ketemu orang seperti pasangan pak Cahyadi dan ibu Ida.., mereka kaya harta, my ilmu, dan kaya hati.. sehingga tidak pelit berbagi....

    Btw..anak mba id kulihat di Turki yah... Semoga sukses dan apa yg dicita2kan tercapai... Aamiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mereka makhluk yang cukup langka di zaman sekarang hehe. Alhamdulillah iya jadi mba... Aammin Allohumma Aamiin. Terima kasih :)

      Hapus
  2. Subhaanallaah terharu biru bacanya...
    Banyak kisah2 inspiratif mengenai sepasang "Malaikat" tak bersayap itu. Masyaa Allaah.
    Kalo ga salah agak mepet sampai Sta. K.A wkt itu bertepatan dg kehadiran rombongan Aksi 212 dari Ciamis.
    Skyscanner nya info baru itu buat sy, hatur nuhun...
    Ini dg Chandra di Cimahi ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kirain siapa tumben pake akun anonim. Iya Bu, ini yang pernah saya ceritain ke Bu Chandra :)

      Hapus
  3. Benar-benar perjalanan yang menginspirasi ya mbak... Selain bisa me time juga bisa belajar banyak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mba Wid..banyak oleh2 immaterialnya :)

      Hapus
  4. Asiknya kalau ada perjalanan yang sangat menyenangkan seperti itu ya mba Ida. Jogja memang nganggenin :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup...setuju Yogya ngangenin Mba hehe

      Hapus
  5. Wah senangnya bisa jalan-jalan sekaligus ketemu orang-orang baik dan menyenangkan. Jadi kangen ke Jogja lagi nih.

    BalasHapus
  6. Seru tapi penuh manfaat ya... L)

    BalasHapus
  7. Jogja ini selalu bikin kangen ya mbak.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul nulis ini jadi pengen main lagi ke sana saya juga :)

      Hapus
  8. Masya Allah, Tabarakallah.. Indah sekali jika kita dapat bermuamalah dengan Allah..tidak pernah berpikir untung rugi, hanya semata keberkahan yang di cari. Tak perlu khawatir, Allah yang mencukupkan. Barakallah pak cah dan bu ida, semoga berjodoh hingga Jannah. Aamiin

    Jazakillah info tentang skyscanner-nya, info baru nih. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Allohumma Aamiin...sama2 Mba.

      Hapus
  9. Masih banyak orang baik, percaya kalo harta cuma titipan. Cita-cita pengen jadi orang kayak gitu.

    Btw Yogyakartanya seru amat, Teh Ida. Looove!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa alhamdulillah bisa ketemu langsung orang sebaik blio.. :) Terima kasih ya Teh Ulu

      Hapus
  10. Baca cerita perjalanan Mbak Ida ke Yogyakarta jadi bikin saya kangen Yogya. Terakhir saya ke sana 6 tahun lalu dan itu pun cuma sebentar, nemenin suami ambil data aja dan nggak sempat jalan-jalan. Semoga dalam waktu dekat saya bisa ke Yogya lagi deh dan makan gudeg + beli kain batik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo Mba...sengajain ke sana, Gudegnya ngangenin :)

      Hapus
  11. Aha moment banget, bertemu keluarga Cahyadi yang baik hati.

    BalasHapus
  12. Aaaaah udah lama banget ga menJogja. Masih banyak orang yang baik dan tulus di dunia ini, semoga kita selalu berkesempatan dipertemukan orang-orang yang baik hatinya ya teh.

    Terima kasih sudah menginsiprasi, teh. :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuo....Aamiin Allohumma aamiin :)

      Hapus
  13. Aaaaah udah lama banget ga menJogja. Masih banyak orang yang baik dan tulus di dunia ini, semoga kita selalu berkesempatan dipertemukan orang-orang yang baik hatinya ya teh.

    Terima kasih sudah menginsiprasi, teh. :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Teh... Iya semoga selalu dikumpulkan selalu dengan orang2 yang sholeh ya :)

      Hapus
  14. Asiknya yang ke Jogya, emang ya selalu ngangenin kota gudeg ini. Btw aku gagal pokus, ituh batik pertiwi mauuu teteh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya teh Nchie Batik Pertiwi apik tenan...hehe.. Ayoh jalan2 lagi ke Yogya mampir ke sana :D

      Hapus
  15. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  16. Hm...walau tulisan ini panjang bet, tapi fokus saya satu: tas kulitnya tampak oke. hehehe..itu merk ab*kani ya mbak? #maapkan salfok #salam kenal ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali... baru denger merk itu saya mah Mba... Tas kulit taunya merk P sama B doang. Kalau di pengrajin kulit ga bermerk sepertinya kalau ada merek juga nama toko mereka :)

      Hapus
  17. Ah, bikin saya kangen Jogja aja nih Teh Ida. Saya juga di Jogja selalu ketemu malaikat. Gak pernah bayar penginapan. Selalu dikasih tumpangan gratis. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bah jadi penasaran siapakah malaikatnya teh Nia di Yogya hehe

      Hapus
  18. Alhamdulillah teh, bisa ketemu pasangan yg luar biasa itu. Aku jg penggemar mereka. Oya Jogja memang warbyasah teh ^^ Ayo jalan2 lagih

    BalasHapus
  19. Ke Jogja kalo belanja pasti kalap ya teh. Ga cuma batik, kulinernya jg bikin kalap.

    Wah, jadi pengen jumpa keluarga Cahyadi jg nih. Keren kisah perjalanannya teh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa teh pengalaman berkesan banget bisa ketemu beliau :)

      Hapus
  20. Senaaaangnya bisa ketemu "malaikat" di Jogja yaa mbak, pasti jadi kenangan tak terlupakan bangett.
    Jadi kangen Jogja nih baca postingan mba Ida :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa Mba..tak terlupakan hehe... Nulis ini juga bikin saya kangen Jogja deh :)

      Hapus
  21. Saya pernah ketemu mbak Ida dan putrinya di Jakarta. Sosoknya memang sangat humble. Kagum dengan beliau dan keluarga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah pernah juga ya mba :) Iyaa beliau memang humble ..

      Hapus
  22. Hayooo belanjanya abis berapa hahaha. Tasnya beranak gak mba ??

    BalasHapus
  23. Hayooo belanjanya abis berapa hahaha. Tasnya beranak gak mba ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi... iya di atas yang sudah dibudget kan pokoknya hahaha..kepaksa beli tas besar mba, bawaan jadi beranak pinak :)

      Hapus
  24. Pasangan yang luar biasa ya, Teh

    BalasHapus
  25. Wah "malaikat" ternyata nyata ya mba, ngga perlu jauh-jauh. Sekitar kita ternyata juga ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya Mba Shinta..Malaikat tak bersayap :D

      Hapus
  26. Mbak Ida ini ternyata yg istrinya ustad Cahyadi ya mbak?
    Aku dulu suka baca postingannya yg ttg rumah tanpa pagar itu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya hehe blio istrinya Ustad Cahyadi... Iya tulisan di blognya bagus2 ya mba..:)

      Hapus
  27. Ke Jogja, aku leboh suka ke tempat-tempat 'tua' mba, hehehe. Kaya Kauman, alun-alun, Kota gede, dan lainnya. Selalu kangen sama Jogja

    BalasHapus
  28. Terima kasih ya sudah ikutan Blog Competition "Aha Moments" Skyscanner Indonesia. Good luck :)

    BalasHapus
  29. wah, bisa belajar banyak tuh sama beliau.. nice sharing mbak

    BalasHapus
  30. Subhanallah, menginspirasi sekali pasangan itu. Harus banyak belajar nih sama beliau

    BalasHapus
  31. Panjangnyaaa... teh Ida. Alhamdulillah, tuntas.
    Pak Tjah dan mbak Ida memang sosok2 yg inspiratif. Pasti senang sekali bisa bertemu beliau2 di Jogya.

    BalasHapus
  32. Barakallahu fiik...Panjaaang banget teteh 😘😀
    Masyaa Allah...Pak Cahyadi dan Bu Ida contoh dari orang-orang berilmu yang ilmu nya bermanfaat...mudah2an ilmu yang ana miliki walaupun hanya secuil tapi bisa menjadi manfaat bagi banyak orang...

    BalasHapus
  33. apakah masih banyak orang seperti ini ysh teh, sangat inspiratif

    BalasHapus
  34. Waah tulisan yang sarat makna dan penuh inspirasi 😍

    BalasHapus
  35. Saya cmn tahu sekilas tentang mereka, ternyata berhati malaikat bgt ya...

    BalasHapus
  36. Woow.. Rajin banget Ida nulisnya.. Produktif

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^