**/ Cerita Ida : Diperjalanan

blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

10 Jul 2015

Diperjalanan

Cimahi,  31 Januari 2012

Bismillah,

"Dari Bandung ke Jakarta Naik Ojeg Lewat Gang, kayaknya kalau saya jago nulis saya bikin cerpen seperti itu deh" pa Ari melanjutkan ceritanya. Kami pun tertawa. Mobil berlari cukup kencang. Di luar matahari masih malu menampakan dirinya. Sepertinya dingin pun masih menyergap. Tapi hujan sudah lama mereda.


pendoasion.wordpress.com

"Yang lebih parah lagi, peserta lain yang sama-sama dari Bandung, dia tiba lebih dulu, tapi perjalanannya harus lewat sungai segala" kembali lelaki berumur lima puluhan itu melanjutkan ceritanya. 

Dengan lancar dan semangat Pa Ari menceritakan perjuangan untuk sampai ke Jakarta, karena jalan tol terpaksa harus ditutup polisi di kilo meter tiga puluh enam, saat demo buruh membuncah. Bandung Jakarta biasanya hanya ditempuh dalam waktu 2,5 jam - 3 jam, saat itu ditempuh lebih dari 10 jam! Pergi jam delapan tiba hampir pukul 19. 

Karena ditelepon panitia lomba, harus tiba di Hotel tepat pukul 19.00, sementara jalan tol di blokade polisi, akhirnya pa Ari dan anaknya memutuskan turun dan meloncati pagar pinggir jalan tol. Naik Ojeg sampai Cikarang 40 ribu dua motor jadi 80 ribu. Dilanjutkan ke bekasi barat naik ojeg juga 70 ribu per satu motor. Tiba di Jakarta naik taksi ke Tamrin 100 ribu. Total jendral Bandung Jakarta berdua lebih dari 500 ribu. "Mungkin kami diingatkan, karena kurang bersedekah" imbuhnya.

Tapi perjuangannya Alhamdulillah tidak sia-sia. Anaknya meraih juara satu se Indonesia dan berhak mewakili Indonesia lomba drum tingkat dunia di Jerman bulan Maret nanti. Selanjutnya bea siswa selama enam bulan di Amerika Serikat pun telah menanti.

Tak terasa mobil pun berhenti, ternyata kami sudah sampai di kilo meter 32, pa Ari dan yang lainnya melanjutkan perjalanannya sementara saya dan kaka, harus transit. Mobil tujuan rawamangun ternyata baru beberapa saat berangkat dari pool Dipatiukur. Kami harus menanti sekitar satu jam.

Karena merasa lapar, kami mencari tempat untuk sarapan terlebih dahulu. Pilihan jatuh pada sebuah rumah makan padang. Usai sarapan ternyata waktu masih menunjukkan pukul tujuh tiga puluh. Masih sekitar tiga puluh menitan menunggu....

Membunuh waktu saya berbincang dengan seorang ibu setengah baya. Seorang ibu dari tiga putri, nenek dari tiga cucu. Tampak masih sangat cantik, dengan dandanan yang apik. Si Ibu sedang transit menanti tujuan Bintaro. Baru pulang dari Jalan Kopo menjenguk ibunya yang berusia delapan puluh tahun. 

Selang beberapa saat, tujuan rawamangun pun tiba, sementara si Ibu harus menanti beberapa saat lagi, saya pun beranjak pamit. Masuk mobil jurusan Rawamangun. Tampak di dalam mobil seorang gadis berjilbab biru. Hanya dia sendiri. Tak ada penumpang yang lain.  Saya dan kaka memililh duduk di depannya. Aku berbalik. Melempar senyum padanya sembari bertanya 

"Dari tadi sendirian mba ?"  

"Iya" jawabnya singkat sambil membalas senyumku.

"Mau ke Rawamangun?" Tanyaku

"Iya.... Cipinang sih, tapi deket-deket Rawamangun" Jawabnya

"Ooh.." Singkat aku menjawab

Mobil pun berlari kencang, Karena hari Minggu, jalanan amat lancar. Udara pagi mulai cerah, matahari mulai menampakkan dirinya. 

Tiba di Rawamangun, "Ibu turun disini saja, paling jalan sedikit. Kalau ikut sampai pool nanti malah harus nyebrang, jauh lagi..." driver memberitahuku, memang sebelum naik tadi saya sudah berpesan padanya untuk memberitahuku dimana saya harus turun. 

"Oh iya terima kasih ya Pak" jawabku 

 Celingukan !!  Asli bingung harus kemana. Gadis berjilbab biru yang sama-sama turun segera kuhampiri. 

"Ibu naik bajaj aja, ngga jauh kok..." jawabnya ketika kutanya dimana Gedung Robbani.

"Atau bareng saya aja..." katanya lagi

"Terima kasih" jawabku senang

Tak berapa lama bajaj pun datang, kami bertiga segera menaikinya. Di bajaj saya kembali berbincang dengan gadis manis berkacamata minus itu. Ternyata ia seorang mahasiswi UPI semester empat jurusan Pendidikan Ilmu Komputer. Asli orang Jakarta, sedang mudik rupanya. Hanya sekitar sepuluh menitan kebersaan kami di bajaj. Saya dan Kaka harus segera turun. Gedung Robbani yang mentereng sudah terlihat jelas. "Tak usah bayar Bu..., biar saya aja sekalian..." kata si mahasiswi.
Ia ingin tetap membayarkan akhirnya saya menyerah. Setelah mengucapkan banyak terima kasih, saya dan kaka pun turun.

Alhamdulillah kami pun tiba di tempat Workshop dengan selamat.

Waktu menunjukkan pukul  09.15  
Terlambat 15 menit deh  ...!!! 
  

1 komentar :

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^