blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

10 Apr 2020

Marah pada Anak, Akibatnya pada Diri Orangtua dan Anak


Marah pada Anak, Akibatnya pada Diri Orangtua dan Anak   Beberapa meme tentang kisah orang tua yang tiba-tiba harus menjadi guru kini banyak beredar  tidak hanya itu, bahkan  Screen Shoot percakapan antara guru dan orangtua tersebar di beberapa WAG khusus parenting atau bahkan WAG keluarga.  Intinya menunjukkan berbagai ekspresi kemarahan orangtua yang dibuat ribet oleh pr sekolah anak.


Anak Menjadi Pembunuh karena Disuruh Sholat ?


Karena saya sedang berada dalam sebuah grup menulis parenting maka lahirlah tulisan Ketika Emak Bertanduk.  Tulisan flashback mengenang kebaikan2 dari anak sehingga mindset saya terhadap anak-anak berubah. 

Terus terang saya tergugah dengan awal tulisan buku Anak dari Surga Menuju Surga yang saya bicarakan di tulisan Ketika Emak Bertanduk.  Di  sana ada cerita yang menyebutkan bagaimana seorang anak tumbuh jadi anak pendendam.

"Saya menjadi seorang pendendam, saya bisa mematikan karier orang lain bahkan bisa menshut down hidup seseorang dengan pikiran saya.  Ibu boleh percaya atau tidak, ketika pikiran saya mengatakan shut down! pada seseorang, maka malam itu juga orang tersebut ditemukan meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas".

Anak tersebut tumbuh menjadi pendendam karena sikap ibunya yang kasar.  Di shubuh yang dingin karena takut anaknya tidak melakukan shalat, anak yang belum baligh itu dibangunkan dengan kasar.  Dalam iringan adzan anak itu diteriaki dan mukanya dilempari dengan lap kotor.




Sebuah kisah ekstrim memang, menyadarkan bahwa kadang niat baik bila tidak dilakukan dengan baik berakibat fatal.  Dalam tingkat berbeda mungkin kita sebagai orang tua sering melakukan itu.  Bentakan-bentakan, atau tatap mata yang tajam, atau kata-kata menyakitkan, mungkin itu bisa jadi menggoreskan luka yang dalam untuk anak dan berdampak pada kehidupannya di kemudian hari.


Anak Amanah dari Allah SWT


Anak adalah amanah Allah yang dulu sangat kita dambakan.  Saya ingat betapa dulu saya sedikit risau saat usia pernikahan 3 bulan belum ada tanda-tanda kehamilan.  Sampai saat atasan suami akan berangkat ibadah haji bertanya minta didoakan apa, saya minta suami menjawabnya minta dido'akan segera mempunyai anak.  Alhamdulillah bulan depannya saya pun hamil.

Ketahuilah bahwa seorang anak adalah amanah yang harus diemban orangtua.  Hati sucinya adalah permata murni yang diukir.  Apabila kita membiasakannya untuk berbuat kebaikan maka di kala besar nanti dia akan berbuat kebaikan, dan sang ayah atau sang pembimbing akan memperoleh pahala (Imam al-Ghazali)

Saat kelahirannya semua menyambut bahagia tak terkira, kecupan dan belaian diberikan ayah bundanya dengan penuh kasih sayang.  Namun seiring dengan waktu saat anak mulai besar, mulai menguras emosi kita.  Tidak melakukan apa yang kita inginkan justru melakukan apa yang kita larang tentu saja membuat orang tua kesal dan berujung dengan kemarahan.

Terlebih lagi kalau kondisi orang tua sedang tidak kondusif, berakibat luapan marah kurang terkendali.  Permasalahan hidup yang sedang dialami, kondisi keuangan yang sedang tidak sehat, rasa lelah fisik dan pikiran kadang semua emosi itu diluapkan pada anak karena posisinya lemah dan tidak bisa melawan.


They Do What They See...


Lalu saat semua sudah tersalurkan, emosi kita pun mereda.  Kita pun menyesal, dan kembali bersikap lembut  pada anak-anak.  Tanpa perlu meminta maaf anak pun akan merasa senang saat kita kembali menyapanya dengan penuh kelembutan. 





Tapi jauh di bawah alam sadarnya kemarahan kita mungkin akan dicatatnya.  Menjadi luka batin baginya atau mungkin pembelajaran baginya..Oh begini ya cara marah itu.... Sebab prinsipnya anak belajar dari melihat.  They do what they see...

Mendidik anak dengan kekerasan hanya akan membuatnya memberontak dan mendidiknya dengan cara memanjakan hanya akan membuatnya tidak beretika.  Dari kedua metode pendidikan tersebut lahirlah sebuah kejahatan (DR. Musthafa as-Siba'i)


Suasana Menyenangkan Membuat Mereka Tumbuh Optimal


Menjadi orangtua memang tidak ada sekolah khusus, kita belajar learning by doing.  Tapi kita bisa belajar dari agama kita.  Dalam Islam bagaimana kita diajarkan untuk selalu bersikap lemah lembut oleh Rasulullah SAW. 

Diriwayatkan oleh Muslim bahwa Al Suliami telah berkata:

Maka demi bapa dan ibuku, sesungguhnya aku tidak pernah melihat guru yang terbaik cara pengajrannya sebelum dan selepasnya (Rasulullah SAW).  Maka demi Allah, baginda SAW tidak pernah memarahiku, memukulku dan mencelaku".

Rasulullah mencontohkan dengan akhlak dan perilakunya.  Beberapa riwayat menyebutkan Rasulullah memulai pengajaran dengan cerita, karena cerita sangat disukai oleh siapa pun.



Penelitian otak secara konsisten menunjukkan bahwa mekanisme kerja otak bisa maksimal saat berada dalam zona nyaman. Sebelum teori otak ini ditemukan Rasulullah sudah mencontohkannya. Ini pun menunjukkan kepada kita bahwa anak akan tumbuh optimal saat berada dalam suasana yang nyaman.


Dampak Kemarahan pada Anak


Satu hal lagi yang perlu selalu kita ingat, melampiaskan perasaan marah yang tanpa kendali kepada anak selain berdampak tidak baik kepada anak juga akan berdampak tidak baik kepada kita sendiri sebagai orangtua.

Banyak hal yang bisa terjadi akibat kemarahan kita kepada anak yang merugikan anak-anak kita.  Beberapa hal yang bisa terjadi pada anak antara lain adalah:


Kerusakan atau Bahkan Kematian Sel-sel Otak Anak.


Satu bentakan kasar atau suara marah orangtua dapat membunuh lebih dari 1 milyar sel otak anak saat itu juga.  Sebaliknya saat anak mendapatkan kasih sayang melalui pujian, pelukan maka saat itu juga terbentuk rangkaian otak yang indah.  Itulah sebabnya mengapa anak yang dibesarkan dengan kasih sayang memiliki ukuran otak yang lebih besar dibanding anak yang diabaikan.





Dampak kepada Fisik dan Psikis


Dampak secara fisik kemarahan orangtua akan mengakibatkan jantung anak lelah karena jantung berdetak lebih kencang. Selain itu juga akan berakibat sakit pada ulu hati karena anak sering stress dan menyebabkan lambungnya sensitif terhadap asam lambung. 

Sementara itu kemarahan orangtua akan berdampak kepada psikis anak juga. Dampak itu antara lain adalah anak yang menjadi penakut dan kepercayaan diri yang menurun.  Kepribadian anak menjadi tertutup cenderung menjadi pendiam dan menarik diri dari lingkungan. 

Anak yang sering dimarahi orangtuanya akan sering mengalami stress yang tinggi, rasa takut dan kecemasan.  Tidak mau bertemu banyak orang. penyedih. dan sering menjadi panik yang berlebihan. Mulai sering menyalahkan diri sendiri dan taraf yang lebih akut maka ia akan menyakiti dirinya sendiri. 

Selain itu juga akan berdampak pada prestasi belajar yang menurun karena tekanan psikis yang dialaminya membuat sulit untuk konsentrasi.  Terlalu sering mendengar kata-kata kasar dengan nada bentakan juga akan membuat anak menjadi pendengar yang buruk. 

Dan yang pasti kemarahan tidak akan mengajarkan apa-apa kepada anak selain hal-hal negatif di atas. Kemarahan pada anak juga akan membuat renggang ikatan batin orangtua dengan anak.  Anak menjadi tidak nyaman dan takut pada orangtua, ia akan mencari pelampiasan di luar, alhamdulilah kalau positif nah kalau sampai negatif na'udzubillah masa depan buruk akan menanti.




Dampak Kemarahan pada Diri Orangtua


Selain berdampak pada anak kemarahan orangtua berdampak juga pada dirinya sendiri. Pada fisik akan berdampak terkena penyakit darah tinggi, serangan jantung, konon orang memiliki durasi marah lebih dari 2 jam beresiko 8.5 kali lebih tinggi mengalami serangan jantung.

Masih banyak lagi dampak penyakit yang diakibatkan oleh pelampiasan kemarahan ini diantaranya antara lain penurunan fungsi paru, stroke (resiko stoke meningkat tiga kali lipat setelah marah meluap-luap selama lebih dari dua jam).

Saat marah pasokan oksigen ke otak berkurang hingga mengakibatkan sakit kepala, marah juga dapat mengakibatkan dispepsia (maag), sulit tidur, stress. gangguan kecemasan, depresi serta penuaan dini. Kemarahan juga akan menurunkan imunitas tubuh selama satu jam.

Sementara dampak kepada psikis adalah marah itu merugikan diri sendiri, kehilangan kendali diri, bertentangan dengan anak, tidak bahagia, rasa menyesal, bonding anak dengan orang tua menjadi tidak kuat serta tentu saja kemarahan yang dilampiaskan tanpa kendali bertentangan dengan agama mana pun.

Cerita Ida menulis tentang Marah pada Anak, Akibatnya pada Diri Orangtua dan Anak tujuannya mengingatkan diri sendiri, karena disadari atau tidak rasa marah memang sering muncul dalam diri. Semoga menulis tentang ini bisa terus mengingatkan diri untuk tidak marah-marah... :D

19 komentar :

  1. Melampiaskan kemarahan ini banyak sekali caranya yaa, teh..
    Hanya saat ujiannya datang, seringkali teori tersebut mendadak hilang bagaikan asap.
    Huuhuu~

    Semoga Allah selalu lindungi dari godaan syaitan yang terkutuk.

    BalasHapus
  2. Terima kasih sudah berbagi hal ini, Teh. Insya Allah ini akan bermanfaat bagi para orang tua yang membaca tulisan ini..

    BalasHapus
  3. huhuhu...ga sanggup baca bag dampak ke anak, mbak.

    Kl baca beginian adanya rasa bersalah pol karena saya juga yg bikin anak-anak jd kurang nurut.

    Harus berusaha lebih baik lagi dan sering introspeksi. mulai dari cara bicara sampai bahasa tubuh.

    BalasHapus
  4. Emang kalau dimarahin itu membekas banget apalagi dibentak-bentak sampai sakit banget hati hahah. Meskipun udh minta maaf pun tapi tetap sakit hati selalu membekas.apalagi saat masih kecil.

    BalasHapus
  5. Ya Allah.... merinding bgt bacanya.
    Semoga ALLAH melindungi kita semua.
    memberikan petunjuk, jalan yg lurus agar kita menjadi ortu yg lebiiiih baik lagi yhaaa

    BalasHapus
  6. Ya Allah ininsangat bermanfaat kak. izin saya share ke keluarga yah kak. dan grup bunda2 gitu biar sebagai bahan pembelajaran. Semiga semua menjadj keluarga yang baik dan bahagia

    BalasHapus
  7. Ya memang sebaiknya marah disalurkan dengan cara yang baik. Tetapi, saya juga mengakui kadang-kadang kelepasan juga emosinya. Biasanya kalau udah begitu, saya menenangkan diri sejenak. Setelah itu, baru saya ajak anak-anak untuk bicara. Tentunya diawali dengan permintaan maaf dulu karena sudah khilaf saat marah

    BalasHapus
  8. Saat di rumah terus wah sering saya marahin anak. Suka sedih kalau menyadari ini tuh ga baik. Suka nyesel sendiri deh jadinya

    BalasHapus
  9. Anakku sudah besar2, ada ketakutan tersendiri kalau scroll medsos. Kan banyak tuh netijen yang buka2an ortunya dibilang toxic parent. Nggak kebayang kalau misalnya udah hati2 banget mendidik anak, eh udah besar ternyata nggak sesuai dengan keinginan anak tersebut. Apalagi kalau udah besar kan bukan pengaruh ortu saja, melainkan teman2nya juga. Trus udah deh kita diumbar-umbar di medsos sebagai ortu toxic. Followers pada belain dia. Kan sedih banget. Udah gitu ortu nggak diberi ruang buat membela diri karena nggak aktif di medsos. Naudzubillahi min dzalik. Jangan sampai kejadian.

    BalasHapus
  10. aku selaluuu berusaha menjaga emosi mba. It is not always that easy to be parents in this millennials era..We have more and more issues and challenges compared to previous era but for sure, the same wisdom and kindness should be extended

    BalasHapus
  11. Pelajaran penting buat saya mendidik anak dengan baik dan tidak mengedepankan emosi, memang dimarahi apalagi main tangan memberikan ingatan yang buruk pada anak

    BalasHapus
  12. Jujur aku selalu senang dengan bacaan seperti ini mbak karena selalu mengingatkanku untuk tidak marah dan berkata kasar pada anak-anak karena dampaknya sangat buruk.

    BalasHapus
  13. Kemarahan memang sepatutnya tak dibiarkan menguasai pikiran dan tindakan, karenanya kita mesti berjuang melawan hal itu. Makasih sharingnya mbak

    BalasHapus
  14. makasi banget mba reminder nya, kadang suka keceplosan ngomelin anak padahal ngga bermaksud. Dan, karakter mudah memarahi/ngomelin anak kalau ngga dilatih bisa jadi kebiasaan buruk utk orangtua ya mba.

    BalasHapus
  15. Karena aku belum ada anak, tapi kadang kan sempat berantem gitu sama ibuk wakaka
    tapi setelah marahan gitu akhirnya akunya nyesel juga. Sama aja ya Mba.
    Semoga kita smeua selalu dimudahkan dalam mengemban aamanah

    BalasHapus
  16. Tahu ilmunya ini, kalau sekali marah maka sel sel di otak anak akan hancur. Tapi, Ya Allah, praktiknya sering kelepasan. Kalau sudah mereda baru deh datang nyeselnya. Astagfirullah. Terima kasih diingatkan kembali lewat tulisan Mbak ini.

    BalasHapus
  17. Astaghfirullah, ngeri ya ada anak yang pendendam gara-gara kemarahan ibu padanya sejak kecil. Saat anak-anakku masih kecil dulu, alhamdulillah selalu bisa nahan emosi. Mungkin karena aku beruntung diberikan anak-anak yang menurut ketika meminta mereka melakukan sesuatu. Dan ketika tidak setuju pun, aku ajak bicara dengan lembut karena aku nggak ingin mengulang pengalamanku masa kecil yang kena marah ibuku. Aku nggak mau anak-anakku mengalami hal serupa, jadi aku memutus pengalamanku dulu dengan banyakin istighfar ketika mulai ingin marah.

    BalasHapus
  18. Astaghfirullah. Ternyata banyak sekali ya efek negatif dari kebiasaan marah-marah pada anak. Harus mulai introspeksi diri nih, semoga saja aku tidak tergolong yang menyakiti hati anak meskipun harus sering menegur anak untuk melakukan ini itu.

    BalasHapus
  19. Belum punya anak saja kadang saya juga bisa marah ke keponakan mbak
    Nggak jarang2 pas abis marahin dia jadi nyesel banget.

    Ilmnunya ini sangat berguna buat aku mbk
    Makasih sharing nya ya nbak

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^