blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

28 Jan 2026

Sudahkah Kita Mencintai Al Qur'an?


Alhamdulillah, di tengah-tengah berbagai aktivitas yang cukup padat akhirnya bisa kembali menulis:D   Tulisan kedua di tahun 2026 yang berjudul Sudahkah Kita Mencintai Al Qur'an ini semoga bisa menjadi inspirasi memberi semangat kepada kita semua terutama penulis untuk terus berusaha menjadi pecinta Al Qur'an :D 

"Bacalah Al Qur'an disebabkan engkau mencintainya.  Jangan membaca Al Qur'an disebabkan engkau merasa "dituntut" untuk membacanya".  

Ceramah Syaikh Prof Dr. Yasser Al Dasary, yang merupakan imam dan khatib Masjidil Haram itu muncul saat saya sedang asyik scrolling di instagram.  Ceramah yang kemudian cukup membuat saya tersentak.  Ceramah beliau selanjutnya mengutip ungkapan Abu Musa Al Asy Ariy yang mengatakan:

"Sungguh aku merasa malu kepada Allah SWT, jika melewati satu hari, tanpa melihat (membaca) firman-Nya."

Dalam ceramah tersebut, lebih lanjut Syeikh Yasser pun mengingatkan bahwa Al Qur'an inilah yang akan membela kita di hari kiamat.  Hal ini berdasarkan sebuah hadist yang sudah sering kita dengar yaitu bahwasanya Al Qur'an akan menjadi syafaat bagi pembacanya di hari kiamat.

Sudahkah Kita Mencintai Al Qur'an

Masya Allah, saya jadi teringat sebuah kajian yang menghadirkan seorang akhwat yang selalu bisa menamatkan Al Qur'an dalam lima hari.  Terlebih saat di bulan Ramadan beliau bisa tamat 15 kali.  Lidahnya sudah sedemikian fasih sehingga dengan mudah bisa membacanya dengan kecepatan yang di atas rata-rata tanpa meninggalkan ketartilan dari bacaannya.  

Sungguh menulis ini ingin mengingatkan diri sendiri yang bercita-cita menjadi ahli al Qur'an tetapi masih sulit untuk bisa berlama-lama dengan Al Qur'an.  Ternyata memang untuk bisa berlama-lama itu butuh yang namanya rasa cinta.  Karena dengan cinta membuat kita bisa asyik berlama-lama dengan yang kita cintai.

Jadi mudah sebenarnya untuk mendeteksi kecintaaan kita kepada Al Qur'an ini, yaitu dengan menghitung seberapa lama kita bisa berdekatan dengan Al Qur'an. Baik itu untuk membacanya, mentadaburinya, menghafalnya, mempelajarinya untuk kemudian mengamalkanya.

Sebetulnya hadist Rasulullah SAW tentang Al Qur'an akan menjadi syafaat bagi  pembacanya semestinya sudah menjadi motivasi yang besar untuk berlama-lama dengan Al Qur'an.  

Bayangkan di suatu hari yang teramat penting dan menentukan kebahagiaan atau penderitaan kita, dimana semua amalan dalam kehidupan kita akan dihisab ternyata ada satu hal yang bisa menolong kita yaitu Al Qur'an. Sudah tentu ini seharusnya menjadi motivasi kuat untuk kita yang mempercayai adanya penghisaban setiap amal perbuatan kita.

Mempelajari ilmu yang berkaitan dengan Al Qur'an

Mengapa Kita Tidak Bisa Bersahabat dengan Al Qur'an?

Sayangnya kenyataan Al Qur'an akan menjadi syafaat bagi kita di yaumul akhir nanti tidak lantas otomatis membuat kita menjadi dekat dan menjadikan Al Qur'an menjadi sahabat dalam kehidupan kita.  Mengapa ini bisa terjadi....?  Motivasi sebesar itu tetap membuat kita bergeming dan tidak bisa bersahabat dengan al Qur'an.  

Imam Syafi'i dalam syair terkenalnya mengeluhkan buruknya hafalannya kepada gurunya, Waki',yang kemudian menasihatinya: "Ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat". 

Penuturan Imam Waki kepada Imam Syafe'i ini bisa menjelaskan kepada kita semua betapa maksiat kita lah yang membuat kita tidak bisa berdekatan dengan Al Qur'an. Semakin besar dosa kita maka akan semakin jauh kita dengan Al Qur'an.  Semakin sedikit dosa kita insya Allah akan mempermudah kita untuk bisa berinteraksi dengan Al Qur'an secara intens.

Al Qur'an Harus Selalu Ada di Hati

Mengapa Al Qur'an itu harus ada di hati kita?  Perhatikanlah saat Al Qur'an dibawa oleh Malaikat Jibril maka Malaikat Jibril menjadi pemimpin para malaikat atau Sayyidul Malaikah.  Saat al Qur'an turun di kota Mekah dan Madinah maka jadilah kedua tempat itu sebagai tempat suci bagi umat Islam.  Masya Allah.

Kemudian ketika Al Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW jadilah beliau Sayyidul Anbiya atau pemimpi para nabi.  Lalu saat Al Qur'an diturunkan di bulan Ramadan maka bulan Ramadan pun menjadi bulan yang utama (Sayyidul Asyhur ).  

Dan saat Al Qur'an diturunkan di malam Lailatul Qadar maka malam itu menjadi malam yang lebih baik dari seribu bulan.  Bayangkan apabila Al Qur'an ada di hati kita teman-teman, apa yang akan terjadi ? 

Menjadikan rumah kita selalu ramai dengan lantunan al qur'an
Perbanyak ktivitas berkaitan dengan Qur'an di rumah kita 


Bagaimana Al-Qur'an Mengubah Hidup Kita?

Seseorang yang berinteraksi dengan Al Qur'an secara intens baik itu dengan membacanya, memahaminya, atau menghafalkannya, mempelajari ilmunya dan kemudian berusaha mengamalkannya, maka yang pertama Allah deklarasikan adalah ia akan mampu mengubah kehidupan orang tersebut.  Apa saja yang membuat perubahan itu terjadi? 

Ketenangan Hati & Pikiran: Membaca dan meresapi ayat-ayat Al-Qur'an memberikan obat hati dan ketenangan jiwa, membantu mengatasi stres dan kegelisahan.

Perubahan Perilaku (Akhlak): Semakin dekat dengan Al-Qur'an, seseorang akan lebih lembut pribadinya dan lisannya terjaga.

Pedoman Hidup: Mengamalkan nilai-nilai etis dan moral dalam Al-Qur'an mengubah pola pikir dan kebiasaan menjadi lebih positif.

Solusi & Keberkahan: Ayat-ayatnya memberikan motivasi dalam menghadapi ujian hidup, meningkatkan keimanan, dan mendatangkan keberkahan.

Transformasi Diri: Al-Qur'an memotivasi manusia untuk memperbaiki diri sendiri agar nasibnya diubah oleh Allah SWT seperti yang termaktub di Qur'an surat Ar Ra'd ayat 11.


Berkumpul dengan para pecinta Al Qur'an

Langkah Nyata Mendekatkan Diri dengan Al-Qur'an  


Ada beberapa langkah nyata yang bisa kita lakukan agar bisa menjadi sahabat Al Qur'an dan kemudian bisa mencintainya.  Selain itu juga tentu kita semua berharap dengan bersahabat dengan Al Qur'an kemudian bisa menjadi ahli Al Qur'an yang mana keistimewaannya adalah kita menjadi keluarga Allah SWT di muka bumi.  Masya Allah.... :D

Beberapa langkah nyata itu  antara lain adalah,

Menjauhkan diri dari maksiat:  Luruskan niat, banyak memohon ampun dan beristigfar.

Membaca rutin: Mulai  memaksakan diri membaca setiap hari secara rutin.  Bermujahadah melawan rasa enggan yang pasti muncul di awal-awal berinteraksi.

Mempelajari makna (Tadabbur): Memahami arti untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.  Alangkah lebih baik lagi kalau kita mempelajari ilmu alat untuk memahaminya.  Karena dengan memahaminya kita juga akan merasakan ketinggian bahasanya yang tidak bisa dimiliki bahasa lain.

Murojaah/Menghafal: Menjaga interaksi intensif, seperti yang dilakukan para penghafal Al-Qur'an untuk mendapatkan keberkahan,

Mengajarkan Al Qur'an dan turut menyebarkannya :  Bila kita memiliki kemampuan ikut menyebarkan dan mengajarkan Al Qur'an akan memperbanyak aktivitas kita berkaitan dengan Al Qur'an.

Sering berinteraksi dan berkumpul dengan para pecinta Al Qur'an:  Dengan sering berinteraksi dengan para pecinta Al Qur'an maka akan saling menularkan semangat dan vibes pecinta Al Qur'an.

Berdoa: Memohon kemudahan untuk berinteraksi dengan Al-Qur'an. 


Bulan Al Qur'an yaitu Bulan Ramadan akan segera hadir.  Sudah seharusnya kita mempersiapkan diri dengan seoptimal mungkin agar target Ramadan menjadi pribadi yang bertaqwa bisa kita raih.  Salah satunya adalah menjadikan Al Qur'an menjadi sahabat terbaik kita.

Semoga tulisan Sudahkah Kita Mencintai Al Qur'an ini memberi motivasi bagi kita semua untuk bisa mencintai Al Qur'an.  Agar kita semua bisa menjadi ahli Al Qur'an menjadi keluarga Allah SWT di muka bumi.  Masya Allah siapa yang tidak mau menjadi keluarganya Allah?

Dekat dengan orang penting saja sudah banyak memberi keberuntungan.  Dekat dengan penguasa saja kita terciprat kebermanfaatannya., apatah lagi menjadi saudara penguasa..... Apatah lagi menjadi keluarga penguasa alam semesta . ....Masya Allah....


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^