blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

12 Nov 2012

Tak Seindah Harapan


“Ida, kenapa pipimu terluka?”  Tanya ibuku dengan nada khawatir.  Aku terkejut karena tidak merasa sakit sedikit pun. Segera aku bercermin, olala.. pantas saja ibuku bertanya seperti itu.  Di dekat daguku ada garis merah memanjang.  Ingatanku langsung tertuju pada pengalaman tadi pagi di sekolah, saat guruku memeriksa tulisanku.  Begitu melihat tulisanku langsung saja umpatan panjang lebar keluar dari mulutnya, terlihat kesal, kemudian bu guru mencoretkan pena  bertinta merah  yang sedang dipegangnya di pipi bawahku.  Aku tahu tulisanku memang kotor bekas menghapus tulisanku yang salah, tapi aku sudah berusaha semampuku.

Itulah pengalaman hari-hari pertama aku duduk di kelas satu sekolah  dasar.  Pengalaman yang terekam terus hingga aku dewasa hingga memiliki anak lima sekarang ini.  Ah bu guru itu tentu bermaksud baik, ia ingin tulisanku rapi dan bersih.Tapi aku kecil tidak memahami itu, yang aku kecil pahami ibu guru marah, dan menorehkan tinta merah di pipiku sekaligus menorehkan kenangan tak manis tentang sekolah dalam ingatanku.

Dan kini, ketika aku ingin membuat tulisan bertema guruku pahlawanku,aku merasa agak kesulitan.  Saat-saat sekolahku dulu memang tidak terlalu menyenangkan. Tidak ada jejak yang terpatri sosok guru yang menjadi pahlawanku.  Hanya saat SMA aku memang tergila-gila kepada seorang guru tapi bukan karena ia menjadi pahlawanku dan memberi inspirasi  dalam kehidupanku, tapi lebih karena ia tampan dan penuh perhatian, hingga aku pun jatuh hati padanya… hahaha… atau mungkin saat taman kanak-kanak, kenanganku selalu manis tentang kebaikan dan kepedulian guru-guru TK ku.

Bukan berarti aku tidak mensyukuri jasa guru-guruku dari semenjak SD sampai kuliah, pasti banyak dan tak terbayarkan dengan pembayaran SPP tiap bulan orang tuaku. Hingga aku bisa lulus kuliah, disana banyak peran guru-guruku, tapi kenangan negatif yang menyertainya seolah menghapus segala jasanya, seperti kata pepatah nila setitik rusak susu sebelanga. 

Pengabdian yang tidak sepenuh hati mungkin itu salah satu sebabnya.  Aku kecil, yang sekolah di sebuah sekolah dasar favorit merasakan sedikit ketidak adilan dan kecemburuan sosial yang berdampak hingga aku dewasa. 

Teman-temanku hampir semua berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Hampir setiap usai liburan teman-temanku bercerita tentang pengalamannya jalan-jalan ke luar negeri, ada yang ke Belanda, Hongkong , Singapura dan sebagainya. Sedangkan aku bisa masuk ke sekolah mahal itu karena kebetulan ibuku bekerja disana sebagai tenaga administrasi.

Ketika kenaikan kelas teman-temanku beramai-ramai memberikan kado yang bagus untuk guru-guru di sekolah.  Guru – guru memang tidak meminta tetapi pemberian itu berdampak pada rangking di sekolah. Aku yang tidak pernah memberi sesuatu akhirnya terkena imbasnya. Aku pun tidak pernah merasakan masuk rangking tiga besar di sekolah dasar.  Aku merasakan ketidak adilan karena nilai-nilaiku selalu besar-besar dan tidak kalah dengan teman-temanku yang juara.  Kepala Sekolahku pernah berucap pada ibuku yang juga temannya “Coba kalau Ida di SD II (sekolah Siang), pasti juara”….

Lain dulu lain sekarang,  saat ini aku menemukan sosok – sosok guru ideal di sekolah anak-anakku.  Tidak semua memang.  Tapi aku melihat perhatian yang besar akan tumbuh kembang anak-anak didiknya di setiap laporan perkembangan anak didik dan di setiap pertemuan forum kelas  yang diadakan sebulan sekali. 

Sekolah itu memberikan waktu setengah jam untuk setiap orang tua di setiap konsultasi pemberian laporan anak didiknya. Terlihat mereka mengetahui betul detail perkembangan anak-anak kita. Aku pun tidak pernah mendengar keluhan dari mulut anak-anakku tentang ‘kenakalan’ guru-gurunya. Yang ada cerita menarik dan gaya bercerita guru yang mereka tiru ketika di rumah. Merekalah guru-guru yang selalu ada di hati anak-anakku, mungkin kelak bila mereka telah paham, mereka akan menjadikan sosok gurunya sebagai pahlawan dalam hidupnya.


Guru-guru, orang tua dan siswa yang selalu akrab. Sebuah hubungan yang harmonis dan menyenangkan
Namun anak sulungku  yang duduk di sebuah sekolah menengah RSBI masih mengalami saat-saat yang tidak menyenangkan di sekolah. Mulai dari perbedaan dari anak yang les dengan tidak les sampai menemukan guru yang streng, yang setiap jawaban soal harus sesuai  dengan versi dia yang memang sudah sangat senior di bidangnya. Hingga anakku yang sebetulnya dulu menyukai pelajaran tersebut menjadi agak kesulitan dengan mata pelajaran tersebut.  Dari mulutnya sering keluar ungkapan “enak ya yang duduk di kelas a,b,c,d guru pelajaran anunya bu ini… jadi nyenengin banget…”

Ah memang guru juga hanya manusia biasa, yang bisa saja salah dalam melangkah.  Namun untuk menjadi guru yang memanusiakan manusia memang diperlukan kesungguhan dan usaha sepenuh hati untuk mendidik anak-anak didiknya.  Sesuatu yang berasal dari hati akan masuk ke dalam hati.  Menjadi guru yang menjadi pahlawan bagi anak didiknya memerlukan keterikatan yang utuh, yang tidak hanya sebatas gugur kewajiban mengajar mereka karena tuntutan sebuah profesi bernama guru. 

Mendidik dengan hati, dengan tanggung jawab besar mengemban amanah menyiapkan generasi peneruslah yang akan menghadirkan sosok-sosok guru yang tidak hanya menjadi pahlawan karena jasanya, tetapi menjadikan mereka sebagai pahlawan di hati anak-anak didiknya karena keberadaannya yang dekat dan mengayomi.

Metode mendidik pun perlu diperhatikan, jangan sampai ketika guru tidak hadir atau ketika liburan tiba anak-anak bersorak riang gembira. Guru yang baik, yang menyenangkan akan membuat anak didiknya senang belajar dan haus akan ilmu. Mereka akan selalu dirindukan kehadirannya.

Sebuah PR untuk negeri ini menghadirkan sosok-sosok guru yang dirindukan anak didiknya, yang menjadi pahlawan di hati-hati mereka.  Barang siapa menanam dia akan menuai.  Percayalah menjadi guru dengan sepenuh hati akan berimbas pada guru tersebut, Sang Maha Pencipta yang Maha Adil tak akan membiarkan makhluk yang sangat berjasa menciptakan manusia-manusia yang akan membangun bangsa yang tengah terpuruk ini. Paling tidak atau minimalnya hati damai karena telah menanam sebuah kebaikan dengan penuh keikhlasan.  Pahala yang berlipat ganda pun menantinya untuk bekal perjalannya di akhirat nanti.


Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes “Guruku, Pahlawanku” yang diadakan oleh Gerakan Indonesia Berkibar.  Gerakan Indonesia Berkibar adalah sebuah gerakan nasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui perbaikan kualitas guru dan sekolah.



14 Okt 2012

"Iiih... ayang oon deeeh"


Cimahi, 14 Oktober 2012

Bismillah,

Tinggal di lingkungan kost-kost an mahasiswa selama belasan tahun tidak membuat mataku terbuka melihat kenyataan di lingkungan sekitar.  Baru tiga tahun terakhir ini, setelah membuka usaha laundry barulah mataku terbuka lebar melihat kenyataan miris di pelupuk mata. 

Sore itu, sepulang mengantar anak les, seorang perempuan muda yang cantik tampak menuju pintu laundry, seorang mahasiswi. Khawatir pegawai sedang sibuk di dalam, segera aku menyusulnya.

"Mau ambil cucian Mba" Pandangan mataku tertuju pada faktur di tangannya.
"Punya Mas S ya.." susulku
"Iih, Ibu kok tahu padahal belum lihat fakturnya" tanya nya heran.
"Ayaaaang... si Ibu tahu eun lho nama Ayang, padahal belum lihat namanya" teriaknya pada "Si Ayang" yang lagi duduk manis di atas motor di tempat parkir. 
Aku hanya tersenyum dan meraih faktur yang ia berikan.
"Ini Mba.... tuuh ada jam tangannya" kataku. Di atas cucian yang sudah terpacking rapi, tampak sebuah jam tangan laki-laki berwarna hitam.
"Haa... Ayaaaaaaaaaang lihat ini ada jam tangan Ayang..., kecuci enga Bu ? Kecuci engga?" tanyanya ribut bernada manja.
"Masa sih... aduh pantes, kemarin bingung kemana jam tangan teh" jawab si Ayang sambil turun dari motor, ia segera menemui kami di dalam.
"Engga kayaknya" jawabku asal, memang aku nggak tahu, bukan aku yang mencucinya.
"Iiiiiiih... Ayang oon dweeh... " serunya sambil menepuk jidat Si ayang.
Yang ditepuk jidatnya cengengesan, merasa bersalah. Segera aku ke dalam, malas menghadapi dua makhluk ini yang kalau sudah deketan sering mempertontonkan kemesraan yang berlebihan. Kalau sudah muhrim sih tak terlalu masalah walau kurang pantas juga, tapi ini.. aku yakin mereka memang belum menikah.  Posisiku melayaninya digantikan bu Nani pegawaiku.
"Iih padahal ini hadiah ulang tahun dari aku lho, Bu... sejutaan... dasar si Ayang oon.." kudengar sayup suaranya.
Pembicaraan mereka pun tak kudengar lagi.

Bukan satu dua orang mahasiswa yang ku kenal baik berprilaku seperti si ayang dan pacarnya tadi. Berhubungan sudah sangat dekat, terlihat dari perilaku mereka dan cucian yang mereka satukan. Terkadang pegawaiku melaporkan ada alat kontrasepsi yang tertinggal di saku celana cucian. Pernah juga pil KB. Suatu saat pernah di celana dalam sang pria ada bercak darah bekas haid. Bahkan untuk celana dalam pun mereka sudah satu pakai !!

Lebih miris lagi, aku menemukan mereka sudah tidak bersama lagi setelah mereka berdua  lulus kuliah. 

"Teh L nya kemana Mas? " tanyaku pada seorang pelanggan yang kukenal dekat. Lama tak bersua, ternyata dia sudah lulus dan bekerja di kota lain. Memang awal-awal berdiri laundryku ini, aku banyak turun tangan. Hingga aku dekat dengan mereka, terutama pelanggan awal.

"Sudah tidak bareng lagi Umi" jawabnya malu.

"Haa ? Sudah bosan?" tanyaku terkejut campur  heran. Mengingat kebersamaan mereka dulu. Aku yakin mereka sudah hidup bersama layaknya suami istri. Banyak hal memperlihatkannya. Misalnya baju yang sudah tercampur, dan celana dalam pria bekas haidh. Belum lagi kebersamaan mereka yang luar biasa lengket.

"Sudah ngga cocok lagi, Mi" katanya menjawab pertanyaanku sambil senyum-senyum.

Masya Alloh... rugi banget tuh perempuan, lama sudah dipakai... eh setelah lulus ga jadi nikah....

Lain waktu, datang seorang pelanggan lamaku bersama seorang perempuan yang tak ku kenal. Ketika sang perempuan tidak bersamanya aku menanyakan pasangan lamanya.
"Kamana wae Mas, Ari si Eneng L na mana, kok ganti baru ?" tanyaku heran melihat dia berganti pasangan.
"Dah lulus bu, sekarang lagi maen kesini. Si Eneng mah sudah engga bareng lagi Bu" jawabnya enteng.

Itulah fragmen kehidupan yang sering kulihat saat ini. Miris memang. Muda belia jauh dari orang tua tanpa dibekali dasar agama yang cukup beginilah jadinya. Limpahan uang kiriman orang tua membuat mereka semakin bebas berbuat semaunya, tanpa aturan yang mengikatnya. Tempo hari, sebuah dompet kulit cantik sekali tertinggal di laundryku. Ketika kuperiksa di dalamnya ada sebuah kartu identitas berfoto perempuan berjilbab. Yang menarik selain ratusan ribu uang di dalamnya, adalah sertifikat keaslian dompet itu dari sebuah merk yang terkenal, tertera harga Rp 980.000 di atasnya. Yang muncul kemudian untuk mengambilnya, seorang mahasiswi sangat cantik bercelana pendek, padahal di kartu identitasnya jelas-jelas dia menggunakan jilbab rapi. 

Untuk sebuah dompet mereka membeli yang mahal, untuk kado ulang tahun pacarnya mereka mampu memberikan hadiah yang bagus. Sejuta bagiku, cukup untuk membayar lebih dari setengah SPP anak-anakku satu bulan. Berlimpah sekali mereka. Aku pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, ketika seorang mahasiswa hendak membayar laundrynya. Setumpuk uang berwarna biru padat di dalamnya. Entah untuk apa uang sebanyak itu, mungkin untuk bayar kost an atau mungkin untuk membayar uang kuliah.

Beberapa bulan lalu, saat orang khusuk dengan syahdunya bulan Ramadhan. Di tempatku dikejutkan dengan ramainya polisi dan ambulans yang menuju ke sebuah tempat kost. Ternyata telah terjadi sebuah pembunuhan oleh seorang mahasiswa tingkat akhir terhadap pacarnya. Koran dan televisi pun ramai menberitakannya. Aku tahu perempuan  yang dibunuh itu, walau tidak kenal dekat tapi beberapa kali aku bertemu dengannya di tempat laundryku. Seorang perempuan cantik yang selalu berbaju super seksi. Celana pendek, dengan atasan pendek yang selalu memperlihatkan belahan dadanya. Namun beberapa bulan terakhir aku melihatnya selalu mengenakan jilbab rapi. Di tengah keributan mereka berdua pada dini hari, tak sengaja sang pacar membunuh sang perempuan dengan membenturkan kepalanya ke dinging kamar kost.

Beberapa kali di sini, ditemukan mayat bayi tak berdosa terbungkus plastik di buang di sebuah kebun.

Apa yang tampak di depan mata cukup membuatku miris. Sebuah potret kehidupan generasi muda penerus bangsa begitu jelas di pelupuk mata. Atsmosfir disini memang berbeda dengan kampus yang di jalan Ganesa sana misalnya. Kontras. Tetapi kuliah bukan di perguruan tinggi pilihan, seharusnya tidak membuat mereka lebih santai dalam meraih cita-citanya. Walau tidak semua tetapi lingkungan di sekitarku sedikit banyak mencerminkannya.

Masih banyak yang masih lurus-lurus saja dan belajar dengan baik memang. Ada juga beberapa yang membuat saya kagum. Seorang mahasiswa mampu kuliah sambil membuat usaha sendiri, walau mereka berasal dari keluarga berkecukupan. Selidik punya selidik ternyat dasar agama yang diberikan orang tua kepadanya memang cukup kuat.

Sebuah PR bagi orang tua. Kita semua. Untuk selalu membekali mereka, anak-anak kita dengan keimanan dan ketakwaan semenjak dini, agar dimana pun mereka berada, ada tidaknya kita orang tuanya, mereka tetap berada di atas relnya. Karena mereka memahami ada zat yang maha melihat yang selalu mengawasinya.

14 Sep 2012

Single Parent


Cimahi, 26 Januari 2012

Bismillah,

"Pernah membayangkan menjadi single parent? Belum? Hmm.... saya beri bocoran ya: Repot!" Demikian ungkapan seorang single parent di bukunya yang berjudul "Jumpalitan Menjadi Ibu". Saya membaca buku ini beberapa bulan yang lalu, tapi kenapa saya jadi teringat tentang ini ya? 

Tadi sore, seperti biasa saya mengikuti pengajian rutin mingguan. Sebetulnya, biasanya jadual hari rabu sore adalah antar jemput anak-anak les piano dan keyboard, tapi karena sesuatu hal jadual pengajian pindah ke hari rabu, tugas mengantar jemput anak-anak saya delegasikan. Nah saat pengajian itu, tiba-tiba saja diberi kuisioner tentang hubungan kita dengan pasangan. Intinya surveyor ingin mengetahui  keharmonisan kita dalam berumah tangga.

Salah satu dari pertanyaan kuis adalah "Seberapa sering anda dan pasangan anda membicarakan masalah perceraian atau perpisahan?" Jawabannya Sering sekali, sering, jarang, jarang sekali dan tidak pernah. 

Hmm... sewaktu membaca bagian ini saya terhenti beberapa jenak. Bukan karena jawabannya sering atau sering sekali, jawaban saya alhamdulillah (?) tidak pernah. Tapi batin saya jadi bertanya "Amankah saya dan suami saya dari kata 'perceraian' atau 'perpisahan' ?" 
Dini hari ini saya jadi merenungi tentang ini. Siapakah sih yang menginginkan menjadi seorang single parent? Bahkan yang mengalaminya pun tentu tak pernah berharap hal itu terjadi pada dirinya.

Takdir ! Semua tidak terlepas dari yang namanya takdir. Tapi bukan berarti takdir itu kejam seperti kata lagunya Desi Ratna Sari "Tenda Biru" itu lho!. Semua yang terjadi atas kehendakNya. Manusia hanya berharap dan berencana, Alloh lah yang Maha Berkehendak dan Maha Menentukan. 

Yang perlu kita ingat sepahit apa pun yang terjadi pada diri kita, pasti ada ibroh di dalamnya, ada kebaikan yang tersembunyi dibaliknya. Alloh selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya. Hanya tinggal bagaimana kita menyikapi cobaan yang Allah berikan pada kita.

Kembali ke masalah single parent. Siapa sangka coba pasangan yang begitu serasi, bahkan sering mengisi acara tentang keluarga sakinah berdua di sebuah televisi swasta, tiba-tiba bercerai? Setelah belasan tahun menikah bahkan mungkin lebih dari dua puluh tahun, tiba-tiba saja jodoh terhenti sampai disitu saja. Banyak yang tidak menyangka. Bahkan mungkin dirinya pun tidak menyangka ia akan menjadi seorang single parent dan rumah tangganya akan berakhir seperti itu. 

Orang tua dulu bilang "pondok jodo" katanya. Pendek jodoh bisa terjadi karena perceraian, bisa juga karena meninggalnya pasangan kita. Perceraian, banyak hal yang melatar belakanginya. Faktor utama dari penyebab perceraian adalah ketidakharmonisan. Tidak harmonis biasanya disebabkan krisis keuangan, krisis akhlak, adanya pihak ketiga, konflik peran, perbedaan prinsip, kurang komunikasi, seks dan sebagainya.

Merenungi itu semua, saya jadi berpikir, perlunya seorang perempuan bisa mandiri. Bukan berarti harus menjadi wanita karir lho!  Tidak tergantung secara finansial kepada suami tidak harus selalu bekerja di luar rumah. 
 
Beruntung sekali perempuan single parent di buku Jumpalitan Menjadi Ibu itu jago menulis, bahkan seorang yang sudah terkenal di dunia kepenulisan, sehingga bisa mandiri secara finansial walaupun menjadi single parent. 

Memang seyogyanya seorang istri mampu berkarya dan mengembangkan dirinya walaupun ia sudah menjadi ibu rumah tangga dan memiliki suami yang mampu menghidupinya, sehingga kalau sesuatu terjadi pada kehidupannya ia masih tetap bisa berdiri dengan tegak membesarkan dan mendidik putra-putrinya.

Harapan kita semua, rumah tangga kita bisa selalu harmonis, seiring sejalan sampai menjadi nenek, kakek dan maut memisahkan kita. Sukses membesarkan anak-anak kita kegerbang kebahagiaannya masing-masing. Tapi Allah lah yang Maha Berkehendak, kita hanya berharap dan berusaha. Tidak adanya salah kita semua selalu mempersiapkan diri untuk sesuatu kemungkinan yang terburuk. 

Semoga kita bisa !!!

Eksistensi Diri


Cimahi, 23 Januari 2012

Bismillah,

Ini memang lagu lama, tapi curhatan seseorang membuka kembali ingatanku tentang masalah ini. Seseorang telah bercerita tentang permasalahan dirinya dengan -terutama- anaknya. Tentang kebutuhannya untuk bekerja, tentang akibatnya pada kedua anaknya yang masih balita.

Kalau untukku, sangatlah tidak sulit ketika aku harus melepas embel-embel wanita karir yang sedang asyik-asyiknya kujalani. Karena cita-citaku sudah sangat jelas, menjadi ibu rumah tangga!  Sebuah keputusan yang selalu kusyukuri hingga kini.

Lain diriku lain pula sahabat mudaku. Ia masih ingin mengabdikan dirinya untuk sesuatu. Atas nama eksistensi, atas nama ingin membantu keluarga besarnya, jadilah dirinya dihadapkan pada satu dilema. Kerisauannya melihat dua balita lucunya, membuat ia dihadapkan pada dua pilihan yang sama beratnya.

Sahabat mudaku bekerja dari pagi sampai sore. Anak terkecil ia titipkan pada seorang pengasuh, sementara anak yang besar, sudah mulai sekolah pergi bersamanya. Anak yang besar ini lebih dekat pada neneknya. Sementara sang nenek sangat memanjakannya. Ia merasa tidak bisa mendidik anaknya sesuai dengan keinginannya karena pengaruh pendidikan mertuanya kepada anaknya cukup besar.  

Ia memahami waktu yang dimilikinya memang sedikit. Sementara untuk berhenti bekerja, ia melihat semua kakak wanitanya yang semuanya 'hanya seorang ibu rumah tangga' mengalami kejumudan. Stagnan! Bahkan mungkin bisa dibilang 'kemunduran intelektual'. Ia juga masih ingin membantu ibunya untuk turut membiayai seorang adiknya yang masih kuliah.

Dilematis memang....

Untuk alasan kejumudan, stagnasi atau bahkan 'kemunduran intelektual' aku mengamininya. Walau tidak semua. Menurutku itu tergantung individu masing-masing dalam menyikapinya. Aku memang melihat banyak ibu rumah tangga yang seperti itu. Berhenti belajar, tenggelam dalam lingkungan 'sumur, dapur dan kasur'. Terpuruk dan tertinggal oleh teman-temanya yang berkarir diluar. Rentang waktu yang sangat panjang dalam sebuah lingkup terbatas, sedikit banyak memang dapat mengubah pribadi seseorang.

Tapi aku juga melihat banyak yang tidak seperti itu. Banyak sekali kulihat teman-temanku yang penuh semangat dalam menghadapi kesehariannya sebagai ibu rumah tangga saja. Ibu rumah tangga yang penuh kreatifitas dan tak pernah berhenti belajar, pandai mengatur waktu, bahkan akhirnya bisa banyak berkiprah untuk agama dan umat.

Pilihan menjadi seorang 'ibu rumah tangga' saja, memang pilihan yang tidak terlalu menarik. Pilihan yang 'kalau tidak pintar-pintarnya' kita melakoninya merupakan pilihan yang akan menjerumuskan pada kejumudan dan kejenuhan. 

Namun dibalik semua itu ada berkah yang luar biasa untuk anak dan keluarganya. Karena memang sejatinya tugas seorang ibu yang utama adalah mendidik anak-anaknya dan memenej urusan domestik dalam negerinya. Ketika urusan di dalam sudah beres barulah seorang ibu  bisa berkiprah dengan leluasa diluar.

Sementara pilihan untuk berkarir untuk sebagian orang merupakan pilihan yang lebih menarik, lebih menantang dan lebih 'menjanjikan' secara materi dan kemajuan intelektualnya. Berinteraksi dengan dunia luar memaksanya untuk selalu belajar dan memacu diri. Penuh warna dan kompetisi. Walau mungkin harus mengorbankan buah hatinya 'dipegang' orang lain yang nota bene dalam pemahaman serta pendidikan jauh di bawah standar seorang pendidik.

Tidak ingin menghakimi sebenarnya. Karena kedua pilihan itu memang ada konsekuensinya masing-masing. 

Idealnya  seorang ibu yang berpendidikan tinggi, mempunyai wawasan yang cukup mendalam dalam mendidik anak memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mencurahkan waktu dan ilmunya untuk tumbuh kembang anak-anaknya tanpa meninggalkan eksistensinya untuk berkiprah bagi sesama. Sebuah kondisi ideal!!

Tapi tidak semua bisa memilih itu. Ada hal-hal tertentu yang membuat kondisi ideal tidak dapat dipenuhi. Semua berpulang pada diri masing-masing. Selama tidak ada hak yang terdzolimi, selama semua kewajiban tertunaikan, ada hak bagi kita untuk bisa memilih.  

Diri kitalah yang lebih memahami internal rumah tangga kita, serta konsekuensi sebuah pilihan yang kita ambil.  Buatlah list sisi positif dan negatifnya pilihan kita, kemudian setelah itu,  jujur saja pada nurani. Itulah pilihan yang terbaik untuk kita. 

Untukku... mendampingi anak-anak disetiap tumbuh kembangnya... bersama keceriaan dan kemanjaannya...  adalah sebuah moment yang tak tergantikan dan tak mungkin terulang...... 

Menjadi 100%


Cimahi,  7 Januari 2012

Bismillah,

Jadi teringat sebuah pelatihan yang kuikuti hampir setengah tahun yang lalu. Sambil mengingatkan diri dan memotivasi diri, menulis apa yang masih terekam di benak.  Karena sudah menjadi sifatku semangat di awal saja.  Seiring berlalunya sang waktu pelatihan apa pun itu, sedahsyat apa pun itu hanya mampu memberiku energi satu bulan saja !! Ya itu rekor terlamaku....  

Ketika kita bertekad kuat untuk maju, energi yang harus kita berikan untuk itu keseriusan dan kesungguhan yang 100%.  Ketika kita tidak 100% berarti kita telah memberikan celah kepada syaitan untuk mengganggu diri kita.  Bila tidk 100% berarti kita telah menggadaikan mimpi-mimpi kita.

Sebagai contoh 
Bila kita berwudlu tidak 100%, misalnya membasuh tangan tidak sampai ke siku maka wudu kita tidak syah.
Sebuah AC  misalnya ketika pertama kali dinyalakan memerlukan 700 watt untuk setiap pk nya, ketika kita memberi energi 699 watt saja, AC itu tidak akan bisa menyala.
Sholat kita, kita kurangi tidak pakai ruku misalnya maka sholat kita tidak akan syah.

Tidak 100% = 0%

Orang sukses adalah orang yang menuntaskan 100% semua hal yang sudah dimulainya. Sedangkan orang gagal adalah orang yang hanya mulai, mulai, dan mulai saja.

Cara meraih mimpi:
1.  Ditulis
2.  Menggunakan kalimat positif
3.  Dibuat detail
4.  Divisualisasikan (dibayangkan)
5.  Dorongan yang kuat
6.  Mimpi boleh rasional ataupun tidak rasional
7.  Bermakna dan menantang untuk diraih
8.  Dibaca berulang-ulang
9.  Diceritakan dan di deklarisasikan.

Mimpi terbesarku :
Hapal Al Qur'an  (Aamiin, Aamiin Allohumma Aamiin)
Menjadi konglomerat SUKSES  (Aamiin Allohumma Aamiin)

Hayoooooooo SEMANGAT !!!

Go Extra Miles


Cimahi, 19 Februari 2012

Bismillah,

Tahun baru  baik Hijriah maupun Masehi, baru beberapa bulan kita lewati,  tetapi  semangat tahun baru dengan resolusi-resolusinya sudah mulai menurun dengan teratur tampaknya.  Menjaga semangat dan menjadi tekun memang tidak mudah, banyak hal yang akan terus menggodanya.

Resolusi saya tahun ini memang tidak terlalu jauh berbeda dengan tahun yang lalu. Tapi tak ingin berakhir  tragis seperti resolusi 2011. Melihat begitu banyaknya orang yang gagal melaksanakan resolusi, konon kabarnya sampai 88%, apakah berarti Resolusi  = Kebodohan awal tahun? Tentu saja tidak. Dengan memiliki resolusi kita memiliki motivasi untuk bergerak kearah yang lebih baik. Bukankah seorang muslim memang harus seperti itu? Jika hari ini  masih sama dengan hari yang lalu maka kita termasuk orang yang merugi. Jika hari ini lebih buruk dari hari yang lalu maka kita termasuk orang yang celaka.

Secara umum resolusi tahun ini saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik di semua peran yang saya miliki.  Terdengar tidak fokus dan absurd ya? Bagi saya tidak! Resolusi yang absurd itu tidak jelas langkah dan batas waktunya.  Saya masih bisa merunut apa yang sang harus saya lakukan. Yang menjadi kendala adalah menjaga semangat selama 356 hari dan menjadi tekun dalam melakukannya.  Butuh sebuah energi yang ekstra karena disiplin bagi saya memang masih sebuah angan yang ingin kubuat menjadi sebuah azam.

Mengingat begitu banyak waktu yang telah saya buang dengan sia-sia.  Mau tidak mau saya memang harus “Go extra miles” berbuat dan berusaha melebihi standar untuk mengejar seluruh ketinggalan saya.

Seorang muslim seyogyanya selalu memiliki lompatan kualitas, meng up grade diri nya terus - menerus. Modal yang Allah berikan kepada kita berupa waktu dalam kehidupan kita, harus selalu kita optimalkan, hingga kita menjadi pribadi yang terus lebih baik. Sehingga kita memiliki ‘sesuatu’ yang bisa kita persembahkan sebagai bukti pertanggung jawaban kita di akhirat nanti.

Memperbaiki kualitas diri dan terus berbagi kesadaran dan motivasi kepada sesama harus berawal dengan niat yang ikhlas mencari ridla Nya. Niat kita pun harus selalu kita evaluasi apakah berubah atau tidak dari niat awalnya. Semua itu agar ‘perjuangan’ kita tidak menjadi sia-sia dimata Nya, Allah SWT.

Bagi yang merasa stagnan, untuk menjadi pemenang memang harus berlari kencang melebihi yang lainnya.   Yuk… bersama-sama kita....Go Extra Miles…..

8 Sep 2012

Lama Sudah....

Cimahi, 8 September 2012

Bismillah,

Berapa lama ya....? Hmmm hampir dua bulan !!  Ya virus malas menulis menyerangku... hikss.... Terakhir menulis 1 September 2012  itu pun sangat 'maksakeun'. Mudah-mudahan tulisan tentang kebaikan seseorang dan bernilai dakwah memberikan keberkahan untukku dalam urusan tulis menulis.

Terus terang saja ada rasa kangen untuk menulis. Tapi mungkin aku terlalu lelah hingga enggan untuk berpikir. Tapi itu bukan sebuah alasan tentu saja. Aku harus lebih mampu memenej diri dan waktuku lagi. Mungkin olah raga harus kutingkatkan agar aku tidak mudah lelah dan selalu fresh.

Masih punya hutang satu tulisan untuk melengkapi sebuah buku antalogi, masih harus mindahin tulisan-tulisan di multiply yang akan segera ditutup akhir tahun ini. Bener-bener multiply mau kiamat sepertinya. Blogspot sebenarnya okey juga... tapi aku nggak tahu cara berteman dengan blog yang lainnya... jadi serasa kesepian disini jauh dari tetangga..

O ya bulan Syawal ini aku banyak berkeliaran di Gedung Pakuan, rumah dinasnya pak gubernur.  Mendampingi tokoh-tokoh dari Cimahi yang ingin bersilaturahmi dengan istri gubernur. Asyik juga siih. Walau harus ngorbanin Maghfi untuk tidak bersekolah bahkan si Kaka pun sempat aku minta untuk tidak sekolah  hihi... (ibu macam apa pulak aku ini...).

Ada pengalaman yang berkesan, saat harus memberi sambutan panitia di awal acara pertemuan kedua, aku ngedadak lupa kepanjangan ibu Netty hingga aku sebut Ibu Netty Herawati.....hingga dalam ceramah beliau sedikit beliau bahas perihal nama ini... hihi... Biarlah malu sedikit engga apa-apa.....

Nyempetin mejeng dulu sama si Ibu ^_^

Tulisan ku garing ya.... yaiyalah aku betul-betul lagi malas menulis... semoga 'badai' ini cepat berlalu dan aku semangat menullis lagi. Menciptakan buku-buku best seller tentu saja.  Aamiin Allohumma Aamiin... Kabulkan ya Rabb... mudahkan perjalananku ini......