**/ Cerita Ida : Bukan Pendidikan Budi Pekerti yang Penting

blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

1 Sep 2016

Bukan Pendidikan Budi Pekerti yang Penting


Bukan Pendidikan Budi Pekerti yang Penting. ODOP hari keempat dengan tema tentang pentingnya budi pekerti di sekolah.  Sebetulnya saya sudah lama ingin menulis tentang kondisi pendidikan di negara kita ini.  Terutama berkaitan dengan banyaknya kasus yang berkaitan dengan budi pekerti atau mungkin saya lebih senang menyebutnya akhlak murid, akhlak remaja akhlak generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa.

Sepertinya sulit mengungkapkan apa yang ada dalam pemikiran ini, mungkin secara garis besarnya saja, saya hanya ingin mengatakan bahwa ada yang salah dalam sistem pendidikan ini.  Kesalahan yang sistematik dan mengakar.  Hingga akhirnya orang yang pemikiran berbeda dan ingin keluar dari sistem ini dikatakan aneh.

Titik tekannya bukan pada penting atau tidak pentingnya pelajaran budi pekerti di sekolah.  Kalau kondisinya masih seperti ini pelajaran budi pekerti beberapa jam sehari pun tidak akan terlalu berarti.  Hanya akan jadi teori yang menjadi sesuatu hal yang harus dihapal untuk mendapatkan nilai yang baik.  Kemudian lulus dari sekolah dan mendapatkan ijazah agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Bila telah selesai atau lulus jenjang terakhir menjadi sarjana kemudian ijazah itu menjadi bekal untuk mencari kerja. Proses belajar pun selesai...


Tidak ingin nyinyir, tetapi kenyataannya memang seperti ini, anak-anak akan berteriak horee saat libur atau guru tidak datang.  Sampai ada lagu yang sempat ngehits "...Libur telah tiba... libur telah tiba..horee.." Yang divisualkan dengan begitu bahagianya anak-anak ketika libur tiba.  Masih segar dalam ingatan saat masa sekolah dan kuliah dulu, betapa bahagianya saya dan teman-teman saat guru atau dosen tidak hadir.  Senang mendengar orang sakit ? Itu terjadi saat masa-masa sekolah dulu.  Kelihatannya seperti sebuah keterpaksaan ya...?

Makanya bukan hal yang aneh ketika mendengar ada anak yang 'mabal' kabur dari sekolah ramai-ramai, dan memilih mejeng di mall daripada harus bersusah-susah berpikir di dalam kelas yang monoton.  Duduk mendengarkan 'ocehan' guru yang terkadang membosankan bagi murid-murid tertentu.

Ada yang salahkah hingga anak-anak kita tidak betah berlama-lama belajar ? Mereka mungkin juga kita lebih senang dan bahagia saat guru tidak datang padahal guru itu sedang sakit.  Sekolah terkadang hanya mengejar nilai tanpa peduli apakah itu hasil mencontek atau tidak. Kalau seperti ini sih pasti ada yang salah.

Hal-hal yang harus diperhatikan dan diubah dalam pendidikan kita adalah :

Menyamaratakan bahwa setiap anak itu sama
Pendidikan kita selama ini bermain pukul rata, semua anak sama jadi diberi pelajaran yang sama dengan metode yang sama. Metode pendidikan di Jerman bisa dijadikan contoh bagaimana sebelum mengambil jalur sekolah yang diambil, anak-anak ditest minat dan bakat mereka.  Ini penting karena biasanya hal-hal yang berhubungan dengan minat dan bakat akan membangkitkan semangat. Ia akan betah berlama-lama mempelajari apa yang dia suka.

Kemudian juga terkait dengan gaya belajar anak yang berbeda-beda, tetapi cara yang dilakukan pun disamakan juga. Padahal ada anak yang memiliki gaya belajar auditori, visual adapula yang kinestetik.  Untuk hasil yang optimal dan tentu saja membuat anak senang dan nyaman belajar sistem pembelajaran pun harus berbeda.  Mengenali gaya belajar setiap anak menjadi hal yang penting bagi para pengajar. 

Pembelajaran diterapkan sebagian besar dengan metode ceramah
Ini tentu saja membosankan, siapa sih yang tahan dari pagi sampai siang mendengarkan ceramah terus menerus ?  Berkaitan dengan ini pula, seorang guru seyogyanya mendapatkan pelajaran tentang public speaking. Sehingga walaupun ada metode ceramahnya hal ini tidak membosankan karena guru membawakannya dengan menarik.

Pelajaran Bersifat Teksbook Bukan Terapan
Semua pelajaran saat ini bersifat teksbook, hal ini membuat pelajaran menjadi monoton dan membuat anak hanya menghapal tanpa memahami.  Seharusnya hal yang paling mendasar atau konsep dari materi yang diberikan dipahami anak.  Termasuk di sini pembelajaran agama, bukan sekedar hapalan saja, tapi anak harus memahami materi yang diberikan sebagai sebuah pedoman hidup baginya yang harus dilaksanakan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.  Sehingga sejak awal anak-anak sudah dikenalkan pada Tuhannya hingga mereka takut melakukan hal yang berdosa.  Bahwa kebaikan-kebaikan yang diajarkan adalah hal yang harus diterapkan bukan suatu hal untuk hapalan semata.

Kerjasama Guru dan Orang Tua
Pendidikan di rumah dan di sekolah harus selaras, beriringan seiring dan sejalan hingga bisa saling mendukung.  Untuk itu diperlukan komunikasi yang intens antara orang tua dan pihak sekolah.  Adanya forum kelas sebulan sekali yang mempertemukan orang tua murid dengan pihak sekolah dalam hal ini wali kelasnya akan membuat komunikasi lancar, akhirnya bisa selaras dan saling mendukung. Ini penting, karena sekolah hanya tempat menitipkan anak untuk belajar tetapi tanggung jawab tetap ada pada orang tua.

Masih banyak lagi sebetulnya, tetapi  menurut saya empat hal ini menjadi hal yang paling penting.  Dengan keempat hal ini, tanpa ada pelajaran budi pekerti pun, anak-anak akan memiliki akhlak yang baik karena ada pembelajaran agama yang bukan sekedar hapalan atau teori, Mereka pun akan semangat mencari ilmu karena mempelajari sesuatu yang memang sesuai minat dan bakat mereka.  Ibaratnya tidak seperti kucing yang diajarkan terbang dan burung yang diajarkan berenang.

Semoga di masa yang akan datang sistem pendidikan Indonesia lebih baik lagi. 



5 komentar :

  1. masalahnya guru itu kejar target harus selesai sesuai kurikulum. Itulah yg bikin akhirnya anak belum paham terus lanjut . Lalu jarang praktek. pelajaran agamapun kebanyakan teori yg bikin anak bosen. Guu memang harus kreatif , tp masalahnya tadi waktu dan target membatasi guru. Dulu waktu jadi guru mengalami itu, sekarang setelah punya komunitas anak sendiri, bebas dengan waktud an hasilnya luar biasa

    BalasHapus
  2. Terus terang saya prihatin dengan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini, kurikulum yang berjalan tidak serta merta membuat anak senang bersekolah apalagi ditambah guru yang kadang kurang menguasai materi. Harusnya saat murid bertanya guru bisa menjawab, namun dengan ringannya murid disuruh cari jawabannya sendiri. Yang lebih menyedihkan saat ada PR orang tua ikut membantu mencari jawaban dan begitu dicocokkan di sekolah jawabannya salah, namun ketika ditanya mengapa salah, gurupun tak bisa menjelaskan dengan benar....

    BalasHapus
  3. Terus terang saya prihatin dengan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini, kurikulum yang berjalan tidak serta merta membuat anak senang bersekolah apalagi ditambah guru yang kadang kurang menguasai materi. Harusnya saat murid bertanya guru bisa menjawab, namun dengan ringannya murid disuruh cari jawabannya sendiri. Yang lebih menyedihkan saat ada PR orang tua ikut membantu mencari jawaban dan begitu dicocokkan di sekolah jawabannya salah, namun ketika ditanya mengapa salah, gurupun tak bisa menjelaskan dengan benar....

    BalasHapus
  4. Memang dunia pendidikan di Indonesia bisa dibilang masih banyak permasalahan, baik di tingkat elit politiknya maupun di tingkat bawah dlm hal ini guru sbg pelaksana pembelajaran di lapangan, dan lagi2 tenyu korbannya adalah anak didik

    BalasHapus
  5. Ah iyaaa, aku juga paling sebal sama metode ceramah. Kalau anak diceramahi yang ada malah tidak masuk ke otaknya :(

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^