**/ Cerita Ida : "Bunda.., Jangan Lukai Aku..."

blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

9 Feb 2018

"Bunda.., Jangan Lukai Aku..."


Mendapat undangan untuk menjadi pembicara di acara parenting dengan tema "Jangan Mencederai Fitrah Anak" membuat saya banyak merenung.   Terus terang, diantara undangan menjadi pembicara yang paling saya sukai adalah berbicara tentang materi parenting.  Dibanding materi lain seperti berceramah atau tentang manajemen keuangan keluarga atau kepenulisan, parenting lebih nyaman menyampaikannya.  Tetapi dengan tema di atas terus terang terasa berat sekali.

Menyenangkan sebetulnya bisa berbagi dengan para ibu lainnya, bukan berarti saya mengetahui banyak dan lebih dari mereka.  Tetapi kebetulan saja kesempatan itu diberikan kepada saya.  Khusus materi parenting saya lebih suka berbagi pengalaman.  Bukan, bukan semata tentang keberhasilan mendidik anak, karena terus terang saya pun pernah dan banyak salahnya.  Saya hanya ingin teman-teman lain belajar dari kesalahan yang pernah saya lakukan. Hingga ia tidak mengulang kesalahan yang saya lakukan kepada anak-anaknya.

Hari itu Kamis, 8 Februari 2017 saya harus membawakan materi "Jangan Mencederai Fitrah Anak".   Dan itu rasanya seperti ada sesuatu yang menampar saya, karena selama proses mendidik anak, justru itulah yang sering saya lakukan, juga banyak orang tua lain lakukan.  Karena sebetulnya bila fitrah anak terjaga dengan baik maka ia akan menjadi pribadi yang luar biasa.

Fitrah Sebuah Potensi

Fitrah anak adalah sebuah potensi yang sudah terinstal sedemikian rupa di dalam diri manusia saat ia hadir di muka bumi ini.  Sebuah potensi yang dengannya seorang manusia siap menerima tugasnya hidup di dunia ini sebagai khalifah dan sebagai hamba.  Bila potensinya terjaga dengan baik maka ia akan siap menerima segala perintah yang Allah berikan.

Seorang ibu adalah arsitek peradaban, di tangannyalah masa depan generasi yang akan datang terbentuk.  Keberhasilan seorang ibu mendidik anak-anaknya, merupakan sebuah keberhasilan membentuk sebuah peradaban.  Orang tua terutama seorang ibu bertugas menumbuhkan fitrah anak agar bisa mengoptimalkan peran-peran terbaiknya untuk peradaban.

Sekurangnya ada empat potensi fitrah manusia yang harus selalu dijaga, apa saja kah itu?  Mari kita simak...

Fitrah Keimanan

Seorang anak terlahir di dunia bersama fitrahnya untuk beriman kepada Allah SWT.  Di alam ruh dulu yang seorang pun tidak pernah mengingatnya, tetapi hal ini diingatkan di dalam al qur'an bahwa kita telah bersaksi menjadikan Allah SWT menjadi Rabb, Tuhan yang harus disembah.  Hal ini terdapat di QS: Al Araf ayat 172 yaitu  "...Alastu birobbikum,...Bukankah Aku ini Tuhanmu?"  dan kita menjawab "Qolu, Bala syahidna....Betul, Engkau adalah Tuhanku.."

Saat anak lahir ke bumi, ia sudah terbiasa terbangun di dini hari, kesalahan kita sebagai ibu sering menyuruhnya untuk tidur kembali.  Padahal ibu yang paham akan membiarkan anak terbiasa terbangun saat dini hari, karena itu pembiasaan agar anak terbiasa terbangun di saat terbaik untuk bermunazat kepada Rabb nya.

Tugas  seorang ibu, menumbuhkan fitrah keimanan yang sudah terinstal dengan baik di dalam diri sang anak,agar tetap tejaga. 0-2 tahun ia harus selalu dekat dengan ibunya, karena dua tahun pertama dalam kehidupannya ia sangat tergantung pada asi.  Jauh dari ibu di periode ini, artinya kita telah merenggut kenyamanannya.

Fitrah Bakat

Anak terlahir dalam kondisi yang unik, berbeda-beda satu sama lainnya.  Tugas kita sebagai orang tua adalah mengobservasi sifat unik tersebut sejak lahir.  Ciri khasnya adalah anak suka atau senang melakukan hal tersebut.  Kalau kita fokus terhadap tumbuh kembang anak, bakatnya akan bisa dipupuk dari sedini mungkin.

Fitrah Belajar

Anak terlahir senang belajar, fitrah yang ada dalam setiap anak memang senang belajar, tengok saja saat ia belajar berjalan walau jatuh berkali-kali tetap saja ia tidak patah semangat.  Sayangnya kita orang tua sering merusak fitrah ini hingga fitrah senang belajar lambat laun hilang dari diri sang anak.  Belajar menjadi sesuatu beban yang tidak menyenangkan dalam hidupnya.  Jadi ingat lagu anak-anak "Libur telah tiba..libur telah tiba...horee.."  Libur disikapi dengan kegembiraan yang luar biasa..hehe..

Seyogyanya orang tua menjaga fitrah ini agar tetap ada dalam diri anak.  Bagaimana caranya?  Tentu saja dengan membuat kegiatan belajar ini selalu menyenangkan.  Langkah terbaik adalah orang tua memahami tipe belajar anak, jadi bila proses belajar mengajar sesuai dengan tipe belajar anak, tentu anak akan lebih mudah menerima pelajaran dan tidak merasa terbebani.

Fitrah Seksualitas

Sejak usia 0-2 tahun anak harus dekat dengan ibunya, 2-6 tahun harus dekat dengan ayah dan ibunya, 7-10 tahun ia harus dekat dengan orang tua yang sejenis.  Di sinilah ia belajar bagaimana seorang ayah bekerja, rapat aktif di kemasyarakatan dan lain sebagainya. Atau bagi anak perempuan ia akan tahu bahwa kegiatan seorang ibu itu memasak, menjahit dan lain sebagainya.  Dengan cara seperti ini insya Allah tidak akan terinfeksi virus LGBT.

Itulah empat fitrah yang ada dalam diri manusia, yang dibawanya sejak lahir, yang sudah terinstal sedemikian rupa sebagai sebuah potensi yang Alloh berikan.  Sebagai bekalan bagi manusia di dalam tugasnya sebagai khalifah dan sebagai hamba yang harus selalu taat kepada Tuhan nya,

Semoga tulisan "Bunda.. Jangan Lukai Aku.." ini bermanfaat ya.  Secara umum memang diantara kita banyak yang telah mencederai empat potensi fitrah ini.  Terutama untuk para orang tua muda, dengan memahami ini  sejak awal, akan lebih fokus di dalam menjaga fitrah yang Allah SWT berikan kepada anak-anaknya.  Terus terang mengisi materi tentang ini membuat bayangan kesalahan-kesalahan saya dalam mendidik anak muncul di dalam benak saya.

19 komentar :

  1. Temanya berat ya. Sebagai emak, kadang juga suka khawatir kelepasan. Kalau ingat pesan ibu, jangan sampai melukai fisik, dan kalau kita kesal jangan kelewatan. Semoga kita bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak.

    BalasHapus
  2. Kalau abis ngomelin anak anak aku sering merasa menyesal banget mbak... meski aku juga ga pernah lah sampai main fisik... Makasih sharingnya mbak...

    BalasHapus
  3. Wah pengetahuan baru yang belum pernah saya dapatkan 😍👍

    BalasHapus
  4. Sungguh memberikan pencerahan teh Ida, nuhun pisan sharingnya

    BalasHapus
  5. Trims sharingnya, manfaat banget

    BalasHapus
  6. buat ibu baru kayak aku ini noted bgt mbakk. Biasanya sharing dan berjibaku dgn anak2 di kegiatan kerelawanan, dan rasanyamemang beda saat diberi amanah ank yg hrs kita jaga 24 jam. TFS mbk :*

    BalasHapus
  7. Jadi orang tua khususnya ibu ini dikasih kelebihannya banyak sama Allah. Tapi juga tanggung jawabnya sama beratnya yak heuheuheu

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah bisa memantau tumbuh kembang secara langsung sampai saat ini, tapi masih sering melakukan kesalahan dan melukai fitrah anak.

    Terima kasih sudah diingatkan melalui tulisan ini.

    BalasHapus
  9. Tanya bolehkah teh?
    Adakah kecenderungan anak pada satu fitrah tertentu?

    Kalau iya, apakah itu terus yang harus kita asah?

    Jazzakillahu khoiron katsiron ilmunya teteh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau fitrah itu melekat ke semua orang yang terlahir di dunia ini... yang unik itu ada di fitrah bakat teh.. ini yang harus fokus kitanya biar ketemu dan bisa dipupuk sejak dini :) Maaf kalau tidak memuaskan :)

      Hapus
  10. Betul banget, bila anak sudah bangun sebelum shubuh, jangan malah disuruh tidur lagi...

    BalasHapus
  11. Saya masih belajar banget jd ibu. Suka galak ke anak2. Maafkan ya anak2. Semoga selalu amanah dan bisa menjaga fitrah kalian

    BalasHapus
  12. Mendidik anak seperti becermin pada diri sendiri. Luar biasa perjalanannya...

    BalasHapus
  13. Terimakasih telah diingatkan kembali melalui tulisan ini. Jadi ingat kesalahan-kesalahan dalam mengasuh anak pertama

    BalasHapus
  14. Kalau menyakiti fisik mungkin lebih mudah untuk kita tidak lakukan. Cuma menyakiti atau menciderai yang lain ini yang berat ya Teh. Kadangkala bicara ketus sama anak, atau menyindir, atau malah mendiamkan. Huhuu, jadi baper.
    Makasih sharing dan remindernya, Teh :)

    BalasHapus
  15. Mba aku sedih bacanya. Kadang tanpa sadar membentak anak walau pelan mungkin juga melukai. Jadi ada reminder lagu, untuk berlaku lemah lembut pada anak, sekalipun kadang sedang emosi .

    BalasHapus
  16. Artikelnya bagus, kunjungan dari softkini.blogspot.co.id

    BalasHapus
  17. Anak kecil itu adalah amanat bagi kedua orangtuanya. Hati anak yang suci itu seperti mutiara yang indah, halus, dan bersih dari setiap lukisan yang menggoresnya...slm cantik say

    BalasHapus
  18. Karena, jadi ibu itu BERAT!
    Semoga kita bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita :)

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^