blog perempuan|blog kuliner|blog review|blog fashion|blogger bandung|blogger indonesia

3 Nov 2019

Uniknya Kampung Ragam Warna Bukan Semata karena Warna-Warni

Kampung Ragam Warna

Uniknya Kampung Ragam Warna Bukan Semata karena Warna-Warni   Waktu menunjukkan pukul 05.15, saat saya tiba di Stasiun Kereta Api Bandung.  Menerobos dinginnya pagi yang beku mengejar Kereta Api Ciremai yang akan berangkat pada pukul 06.15.  Saya memang terbiasa menyiapkan waktu sejam lebih awal dari waktu keberangkatan.  Supaya lebih leluasa dan tidak terburu-buru.  Tidak masalah bila harus menanti lama, bisa digunakan untuk tilawah atau aktivitas bermanfaat lainnya.

Festival Drumblek Pacifik Paint Cup 1 Memanggilku....


Seperti biasa selalu excited bila menuju suatu tempat baru.  Kali ini pun begitu, Festival Drumblek Pacific Paint Cup 1 di Kampung Ragam Warna Kutoharjo Kaliwungu Kendal memanggilku.  Sebuah acara yang membuat rasa keingintahuanku membuncah kuat, hingga  walau beratus kilometer jarak yang membentang, tak membuatku surut melangkah.  

Di setiap perjalanan, aku seperti selalu  menemukan mata baru.  Mengambil hikmah yang terserak, di setiap langkah kakiku.. Itulah mengapa selalu kunikmati setiap perjalanan yang tergores menjadi takdirku.     

Sebetulnya acara di Kampung Ragam Warna ini hari Sabtu 26 Oktober 2019 sampai hari Minggu 27 Oktober 2019. Tapi saya berangkat hari Jum'at pagi karena berencana mampir di Semarang, bertemu Andri sahabatku yang kini tinggal di sana.  Oya di perjalanan kali ini saya tidak sendiri, tetapi bertiga dengan teman sesama Blogger Bandung,

Kampung Ragam Warna
Bertiga di Kereta Api Ciremai
Saya berjanji bertemu dengan dua nenek manis nan lincah ..ups..hahaha...- Ambu Maria dan Bunda Intan-  di Kereta Ciremai tujuan Semarang. Alhamdulillah akhirnya kami pun bisa berkumpul di kereta.  Bersyukur juga karena untuk kesekian kalinya saya bisa melakukan perjalanan dengan dua emak yang penuh semangat ini.  

Menikmati Malam di Kota Semarang


Alhamdulillah perjalanan lancar sekali, bertiga kami sampai di Semarang pukul  13.45.  Begitu keluar dari  Stasiun Tawang Andri sahabatku sudah terlihat menjemput di tempat parkir mobil.  Kami pun menuju rumah Andri,  rencananya di sanalah kami bertiga akan menginap semalam.  Setelah istirahat, mandi dan bebenah kami berempat memanfaatkan waktu senja di Semarang dengan menyelusuri lorong demi lorong di  Lawang Sewu yang  temaram tapi  cukup ramai.  Dilanjutkan dengan berkuliner ria di kota yang dikenal memiliki semboyan Kota ATLAS akronim dari Aman, Tertib, Lancar, Asri dan Sehat ini.  Sungguh... jalan-jalan malam yang menyenangkan sekali, alhamdulillah.

Esoknya, tepat pukul 08.00  kami berempat sudah siap berangkat menuju Kampung Ragam Warna tempat tujuan utama kami.  Perjalanan hampir satu jam tidak begitu terasa karena selama perjalanan penuh dengan canda.  Di sepanjang jalan  Bunda Intan live di facebook dengan kocaknya.  Sempat tersesat sebentar karena sebelumnya kami ragu untuk berbelok ke kiri sesuai arahan Mbah Google.  Ragu karena jalan yang akan kami masuki agak kecil,  Alhamdulillah  walau agak sedikit memutar dengan bantuan Google Map akhirnya ketemu juga.

Kampung Ragam Warna
Selamat Datang di Kampung Ragam Warna  (dok.pri)

Tiba di Kampung Ragam Warna


Google Map membawa kami ke sebuah kampung warna-warni yang tidak hanya warnanya yang kontras dengan tempat di sekitarnya tapi juga suasananya.  Yup, suasana Kampung Ragam Warna berbeda dengan gang di sekitarnya, Kampung Ragam Warna tampak lebih ramai dan lebih hidup.

Credit: Andri


Di gerbang gang menuju Kampung Ragam Warna ini ada beberapa meja tempat registrasi.  Tampak panitia yang ternyata semuanya penduduk asli setempat sibuk  melayani.  Di sebelahnya ada meja tempat pendaftaran lomba melukis payung. Di dekat meja pendaftaran lomba ada  boots yang diisi payung dan cat untuk lomba  serta beberapa panitia yang sedang asyik ngobrol.  Di sela semua kesibukan itu, anak-anak berlari-lari riang ke sana ke mari , mereka terlihat begitu menikmati keramaian di Kampung Ragam Warna.


Homestay tempat kami menginap (dok.pri)

Setelah melakukan registrasi ulang saya  dengan no peserta 310 dan Ambu Maria 297 sementara Andri dan Bunda Intan daftar on the spot kami diantar menuju homestay yang sudah disediakan untuk kami.  Sementara mobil harus parkir di atas karena Kampung Ragam Warna ini gang nya kecil tidak bisa masuk mobil.  Kakak panitia yang mengantarkan kami ke homestay memberikan beberapa penjelasan.  Alhamdulillah kami berempat berada dalam satu homestay.

Sebuah rumah sederhana terdiri dari ruang tamu, ruang tengah, dua kamar tidur, dapur dan sebuah kamar mandi.  Karena udara panas kami memilih tidur beralas kasur tipis di ruang tengah, sementara dua kamar yang kosong rencananya akan ada dua tamu lain yang akan menginap di sini.  Belakangan saya tahu ternyata dua tamu itu adalah dua teman blogger dari Jepara dan Pekalongan yaitu Mba Jiah dan Mba Tanti.


Bandung yang cukup sejuk, tiba di Kendal yang panas, membuat kami  merasa kepanasan

Cuaca memang sedang cukup ekstrim, beberapa waktu lalu sempat ada broadcast di grup whatsapp yang mengabarkan suhu di beberapa daerah yang mengalami peningkatan.  Semarang salah satunya, ternyata memang iya, di Kendal ini suhu memang sedang lebih panas dari biasanya sampai mencapai 41 derajat celsius.  Duh.. dari pada menantang panas yang menyengat akhirnya kemana-mana saya dan Bunda Intan  memanfaatkan topi caping yang teronggok di homestay.

Tapi cuaca tentu saja tidak mengganggu, saya menikmati sekali suasana di Kampung Ragam Warna ini.  Tips saja mungkin nih buat teman-teman yang datang ke sini saat cuaca sedang panas bawalah kacamata hitam dan topi lebar serta jangan lupa gunakan sunblock agar kulit terlindungi dari sengatan sinar matahari.


Mengenal Lebih Dekat Kampung Ragam Warna


Sang Inspirator Kampung Ragam Warna


Saat waktu makan siang tiba, kami diminta untuk berkumpul di tempat yang sudah ditentukan, yaitu di Galeri Mranggen dan satu rumah di depannya.  Jaraknya hanya terhalang beberapa rumah dari homestay kami.  Kami pun menikmati jamuan makan siang yang cukup sederhana tapi lezat  yang disiapkan penduduk setempat.  Di sinilah secara tak sengaja kami bertemu dengan Bu Wiwik W Wijaya dan Pak Bambang Yogi, suami istri pemrakarsa atau inspirator Kampung Ragam Warna ini.


Terjawablah pertanyaan saya sedari tadi saat sampai di Kampung Ragam Warna ini.  Ide siapakah Kampung Ragam Warna ini? Hingga bisa menyulap sebuah perkampungan menjadi  ramai dan hidup, kontras dengan kampung di sekitarnya.  Bayangkan saja tercatat lebih dari tiga ratus lima puluh orang yang terdaftar akan hadir di acara Festival Drumblek ini.  Kok bisa tertarik ya? :)  Hihi.. memang luar biasa.  Mesti kenyataannya yang hadir tidak sebanyak yang daftar.  Kurang lebih 200 blogger, vlogger dan fotografer dari berbagai daerah  hadir di sini. Tercatat yang datang dari jauh adalah peserta dari Sumatera, Jakarta dan Bandung.

Beruntung saat makan siang ini bisa duduk dekat suami istri yang ramah ini.  Kami jadi tahu banyak tentang Kampung Ragam Warna.  Bersahutan suami istri ini bercerita panjang lebar tentang Kampung Ragam Warna ini.  Sepasang inspirator yang  telah memberi  secercah warna-warni harapan dan keceriaan untuk kehidupan di Kampung Ragam Warna.  Menggandeng Pacific Paint untuk mensponsori pengecatan kampung ini kemudian menggali potensi yang bisa diangkat.  Benar-benar sebuah perjuangan yang tak mengenal putus asa.  Butuh waktu enam bulan lebih untuk bisa meyakinkan masyarakat merealisasikan idenya ini.

Perubahan kampung yang diresmikan bulan Mei tahun 2018 ini selain meningkatkan nilai seni dan budaya masyarakat, juga sedikit banyak meningkatkan ekoromi kreatif warga kampung ini.  Sungguh jadi iri, betapa mereka berdua begitu banyak memberi manfaat kepada masyarakat di pemukiman yang dulu katanya terlihat kumuh ini.

Bu Wiwik dan Pak Yogi pasangan suami istri pemrakarsa Kampung Ragam Warna

Lokasi Kampung Ragam Warna 


Kampung Ragam Warna ini terletak di Desa Mranggen Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal Jawa Tengah.  Menuju tempat ini tentu saja paling nyaman naik kendaraan pribadi atau bisa juga naik travel yang memiliki fasilitas antar sampai lokasi.  Menggunakan kendaraan umum pun bisa, naik dari Semarang menggunakan bis  dengan tujuan ke Pasar Sore Kaliwungu. Dari Pasar Sore Kaliwungu menuju Mranggen kita bisa menggunakan jasa ojek dengan biaya sekitar Rp10.000,00


Mengapa harus payung? Tanya Pak Yogi retoris, karena akhirnya dijawab sendiri :)


Apa yang Bisa Dilakukan di Kampung Ragam Warna ?


Banyak hal yang bisa dilakukan di Kampung Ragam Warna ini selain berfoto di berbagai spot yang menarik dan cantik.  Keunikan kampung yang terdiri dari dua RT (sekitar 200 KK) ini tidak hanya karena dicat warna-warni hingga menjadi kawasan yang menarik.  Di sini juga kita bisa menyaksikan berbagai konten edukasi berupa workshop.


Di Kampung Ragam Warna terdapat sebuah tempat bernama Galeri Mranggen.  Di sini biasa diadakan berbagai workshop seni khas Kaliwungu Kendal yaitu seperti Melukis Payung, Smock  seni lukis Ampas Kopi, Kartunis, drumblek dan workshop sumpil.

Payung kertas dengan lukisan beraneka warna memang pernah menjadi ciri khas Desa Mranggen Kaliwungu Kendal.  Sayangnya keberadaan payung kertas dengan lukisan beraneka warna ini sudah jarang ditemukan. Untuk membangkitkan kembali ciri khasnya inilah akhirnya Kampung Ragam Warna mengadakan lomba melukis payung.

Lomba lukis payung  di Kampung Ragam Warna ini sudah dua kali diadakan.  Lomba lukis payung yang pertama diadakan tahun lalu dengan peserta sebanyak 50 orang.   Tahun ini lomba lukis payung yang kedua kalinya, tercatat ada 150 peserta lomba.  Oya workshop melukis payung Mranggen Kaliwungu  ini sempat juga terbang ke luar negeri lho yaitu di acara Festival Indoesia Moscow 2018.  Keren ya.. ?


Seperti siang itu usai makan siang kami disuguhi pemandangan suasana lomba melukis payung.  Hampir di seluruh rumah sepanjang gang di Kampung Ragam Warna ini  terlihat aktivitas penduduk yang sedang melukis payung. Luar biasa kreativitasnya, payung putih polos itu berubah menjadi payung berwarna-warni yang indah.

Andri, melukis payung tanpa kuas (dok.pri)

Dari mulai anak kecil sampai ibu-ibu dan bapak-bapak berpartisipasi mengikuti lomba ini.  Saya pun iseng mendaftarkan sahabat saya Andri ikut lomba ini, Andri pun setuju.  Ternyata hasilnya lumayan bagus meski tidak menggunakan kuas karena memang tidak ada persiapan sebelumnya.

Lukisan Smock, terbuat dari kain perca (dok.pri)

Selain melukis payung, siang itu saya juga menyaksikan workshop smock,  smock merupakan seni kriya yang sudah hampir punah.  SMOCK di Kampung Ragam Warga ini merupakan kepanjangan dari Seni Model Orang Cah Kaliwungu ..hihi.. lucu ya. Di workshop ini saya melihat bagaimana tangan terampil Pak Mukjizat dan Mas Saeful mengubah limbah percak kain menjadi lukisan yang sangat indah yang bernilai seni tinggi.  Luar biasa, butuh ketelatenan dan jiwa seni yang tinggi untuk membuat lukisan dari smock ini.

Workshop smock merupakan upaya melestarikan kembali kesenian ini, sayangnya pelaku seni smock ini tinggal beberapa orang saja.  Lukisan smock yang dibuat dua seniman ini kebanyakan bergambar pewayangan.  Ini membuktikan kecintaan kedua seniman ini terhadap seni dan budaya serta upayanya untuk melestarikan budaya memang  tinggi.

Jiwa seni yang tertancap di penduduk Kendal memang luar biasa, selain melukis payung, smock, ada lagi workshop lainnya yaitu drumblek.  Drumblek ini merupakan plesetan dari drum band karena alat musik yang digunakan berasal dari peralatan  sederhana dan perabotan keluarga yang terbuat dari berbagai jenis barang seperti seng, plastik ataupun bambu.

Sedikit menyesal karena untuk workshop kartunis, seni lukis ampas kopi dan sumpil, saya tidak sempat melihat langsung.   Hal ini disebabkan karena memang tempatnya yang tersebar, sementara saya keasyikan meliput penampilan drumblek.  Alhamdulillah untuk sumpil yang merupakan makanan khas Kendal, saya sempat melihat penampakannya secara langsung.

credit: pinterest.co.uk


Sumpil merupakan makanan sejenis ketupat tetapi berbentuk limas segitiga berukuran imut,  Dibungkus dengan menggunakan daun bambu dan disajikan dengan taburan parut kelapa.  Sumpil menjadi makanan yang disajikan saat tradisi weh wehan di Kampung Ragam Warna.


dok.pri


Weh wehan berasal dari kata weweh yang di dalam bahasa jawa memiliki arti memberi.  Weh wehan dapat diartikan saling memberi.  Weh wehan adalah tradisi yang berkembang pada masyarakat Kaliwungu untuk memperingati Hari Maulid Nabi Muhammad SAW.

Selain konten edukasi, di Kampung Ragam Warna ini kita juga bisa menikmati suasana rukun, guyub dan ramah.  Senyum dan sapa atau anggukan akan sering kita temui di sini.  Di sini juga kita bisa menikmati makanan rumahan yang lezat serta jajanan yang murah meriah.  Menikmati suasana khas di Kampung Ragam Warna cukup akan memberikan sensasi yang berbeda yang membuat kita bisa terlepas sejenak melupakan rutinitas sehari-hari.

Pagi di Mranggen  (credit:Andri)

Di pagi hari, berjalan sedikit naik ke atas ke tempat parkir mobil,  kita juga bisa menikmati keindahan sunrise yang memesona.  Tempat ini juga dikenal sebagai tempat wisata religi, di sini ada Makam Waliku. Di pemakaman ini banyak dimakamkan para tokoh Islam dan penyebar agama Islam.  Diantaranya yang paling terkenal dan sering dipanggil Kyai Guru adalah Kyai Asyari seorang penyebar agama Islam di Kaliwungu.  Selain itu ada tokoh penyebar agama Islam lainnya seperti KH Abu Chaer, KH Mustofa dan KH Musyafak.

Pembukaan Festival Drumblek Pacific Paint Cup 1  Kampung Ragam Warna 


Usai menyaksikan lomba lukis payung dan workshop smock kami beristirahat di homestay, setelah sholat ashar para tamu pun disuguhi pentas seni.  Penampilan Rebana Al Badar Kaliwungu mengawali acara pentas seni sampai menjelang adzan maghrib.  Selain lantunan nasyid yang banyak mengalunkan shalawat kepada Rasulullah SAW tampil juga Tarian Sufi yang melengkapi alunan nasyid dan shalawatan.

Tarian Sufi (dok.pri)

Acara pentas seni ini dihentikan sejenak sebelum adzan maghrib tiba.  Setelah sholat dan makan malam acara pun dilanjutkan kembali.  Kali ini pentas seni dibuka dengan berbagai sambutan diantaranya dari Pak Camat, dari Pak Yogi sebagai pemrakarsa Kampung Ragam Warna, juga ada sambutan dari perwakilan Pacific Paint.

Acara pun dilanjutkan dengan pemukulan gong oleh sesepuh Kampung Ragam Warna yang diiringi dengan menyalakan kembang api.  Rentetan letusan kembang api memeriahkan langit kampung penuh warna ini. Maka resmilah acara Festival Drumblek Pacific Paint Cup 1 Kampung Ragam Warna ini dibuka.

Penampilan peserta lomba Festival Drumblek (dok.pri)

Kemeriahan Festival Drumblek Pacific Paint I Kampung Ragam Warna 


Keesokan harinya setelah melakukan konvoi dari Alun-Alun menuju Kampung Ragam Warna para peserta lomba Festival Drumblek ini menampilkan kebolehannya di tempat pentas Kampung Ragam Warna.  Para peserta Festival Drumblek ini berasal dari Kendal, Semarang dan Salatiga.

Kesibukan para peserta festival yang akan tampil


Dengan peralatan musik dari perabotan rumah tangga sederhana, bahkan barang-barang bekas, dengan jiwa seni yang terus diasah terciptalah alunan nada harmoni yang asyik untuk dinikmati. Satu demi satu peserta unjuk kebolehannya, dengan ciri khas yang berbeda-beda.

Kampung Ragam Warna benar-benar sedang berbahagia, karena di siang yang cerah itu, disela-sela keramaian Festival Drumblek hadir Bapak Suryanto Tjokrosantoso Direktur Pacific Paint Indonesia dan  Bupati Kendal dr.Mirna Annisa yang dari hari sebelumnya mewanti-wanti agar kehadirannya jangan disambut secara resmi.

Di akhir acara di sore hari akan diumumkan para pemenang lomba drumblek ini,  juga para pemenang lomba melukis payung.  Untuk para peserta lomba drumblek sepertinya semuanya akan menjadi juara dan mendapat hadiah.  Peserta yang tampil sebanyak 10 grup sementara hadiah yang disediakan tidak hanya untuk juara 1 sampai 3 saja tapi sampai juara ke 10.  Selain uang tunai semua pemenang akan mendapatkan trofi dan piagam penghargaan.  Wah selamat ya....

Suasana Kampung Ragam Warna dan keseruan rangkaian acara-acara di hari Sabtu dan hari Minggu ini, bisa teman-teman saksikan di video di bawah ini :)





Sayang sekali kami harus segera pulang karena kereta api Ciremai jurusan Bandung menanti kami.  Jadinya kami tidak bisa mengikuti acara sampai usai..  huhu.. Tapi tak mengapa, keseruan selama dua hari ini sudah cukup mengasyikan dan  yang paling penting memberi sebuah kenangan yang bermakna.  Sebuah  pengalaman yang sangat berharga, bisa menyaksikan suatu tempat unik dan sebuah semangat untuk selalu berbagi dan  menebar kebaikan kepada sesama.  Terima kasih kepada semuanya yang telah membuat acara ini menjadi ada.

Teman-teman semoga tulisan Uniknya Kampung Ragam Warga Bukan Semata karena Warna Warni ini bermanfaat ya.  Sampai jumpa lagi di tulisan Cerita Ida yang lain :)

44 komentar :

  1. Di malang juga ada kampung warna warni

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya.. saya belum ke sana pengen lihat keunikannya selain tentang warna warninya :)

      Hapus
  2. Acaranya memang seruuuu ya Teh.. Oya payung lukis Teh Andri baguuus..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya dia memang jiwa seninya lumayan tuh :)

      Hapus
  3. Semoga dengan diresmikannya kampung warna ini, masalah mendasar yang ada di masyarakat juga ikut membaik ya teh. Seperti tingkat pendidikan rendah, ekonomi bawah, minat baca, kurangnya pengetahuan tentang kerusakan lingkungan, dll, sedikit demi sedikit teratasi.

    BalasHapus
  4. Nah, ini. Kalau sekadar spot selfie sih banyak yang punya ya. Tapi mempelajari budaya lokal ini yang asyik

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mba kalau hanya warna warni sudah ada beberapa tetapi ragam warna punya kelebihan konten yang bisa dioptimalkan :)

      Hapus
  5. Teh Ida mantul jalan-jalan terus barengan Neli Bloher ya teh hahaha..suka nih acaranya dan beruntung yah ada direktur Pacific Paint bisa hadir dalam acara ini jadi bikin tambah mantab acaranya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya nih Neli keren .... hahaha... alhamdulillah bisa berkesempatan ke sini :D

      Hapus
  6. Saya malah tertarik dengan smock. Saya baru tau ada kerajinan seperti ini. Berarti kita bis aikut belajar kalau ke sana ya, Mbak?

    BalasHapus
  7. Ternyata ada nilai pkus ya selain kampung nya yang punya nama warna-warni tapi memang beneran hidup disini bukan cuma view aja

    BalasHapus
  8. Aku kayaknya kalau ke sana, bakalan puas-puasin buat foto fotoan deh mba. Hehhe. Tempatnya emang nyaman banget ini mba dan bisa belajar workshop pula

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba bisa belajar sesuatu jadinya tidak hanya foto2 aja hehe...

      Hapus
  9. wah bisa melakukan byk hal rupanya ya mbak di kampung warna warni. kirain foto2 aja hihi

    BalasHapus
  10. Keren ya festivalnya ini. Pastinya seru sekali bisa liat festival tersebut langsung di Kampung Ragam Warna. Btw kampungnya memang unik ya Mbak. Tidak hanya dari pemandangan kampung yang warna - warni tapi dari aktivitas/kegiatan penduduk yang tinggal di kampung tsb. Benar-benar menginspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba.. aku kagum sama penggagasnya juga ... punya kepedulian tinggi banget mau cape2 ngurusin kampung ragam warna ini hehe..

      Hapus
  11. Mbak Ida ikutan juga ke kampung ragam warna-warni ternyata ya> seru ya mbak bisa melihat beragam warna di sana dengan aneka aktivitas bermanfaat yang dilakukan masyarakatnya

    BalasHapus
  12. Banyak keunikan dan keseruan di kampung warna warni ini ya mba.. aku jadi pengen mampir

    BalasHapus
  13. Huaa seru banget ya banyak kegiatan juga disana, salfok sama menghias payung euy , jadi inget dulu waktu kecil pernah beli payung kaya gini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya seneng banget bisa berkreasi di atas payung, sedikit nyesel ga ikutan juga tapi aku emang kurang nyeni juga sih hahaha...

      Hapus
  14. Keren nih teh Ida bisa ikutan event ini. Kakakku tinggal nya di Kendal. Tapi daerah kakaku yang adem banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah kebetulan emang dimana-mana lagi tinggi suhunya, bandung aja lagi panas kemarin itu.. aku bisa mandi malam biasanya boro2...hehe

      Hapus
  15. Baca postingan mba tentang kampung ragam warna, asli deh aku jadi pengen ke sana. Indah banget ya mba

    BalasHapus
  16. wah seru ya, aku baru tau ada kampung seunik ini di jawa tengah, jadi pengen kesana belajar melukis payung hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. HAyuk MBa ke sini bisa ikutan workshop juga :D

      Hapus
  17. Dari kemarin lihat ragam warna-warni yang disajikan kampung ini jadi pengen menjejakkan kaki kemari mbak. Acaranya seru apalagi kreativitas warga luar biasa mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba mereka punya jiwa seni yang tinggi :D

      Hapus
  18. Kreatif banget ya penduduk kampung ini. Salut. Tapi lebih salut lagi kepada Pak Yogi dan istri sebagai penggagas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. NAh itu aku pengen bisa kayak gitu tapi apalah aku ini huhu...

      Hapus
  19. Bener-bener unik yaa, teh..
    Kampung Ragam Warna beragam jenis sajian seni budayanya.
    Semua menunjukkan bahwa Indonesia menerima sekali akulturasi budaya sekaligus melestarikan budayanya sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya teh seneng bisa berkesempatan ke sini :D

      Hapus
  20. Duh, sebenarnya pengin ketemu dengan Mba Ida nih ya. sayangnya nggak tau sih kalau Mb Ida mampir dan menikmati malam di Lawang Sewu. Tau gitu kan kita bisa kopdaran mba. Dekat Lawang Sewu ada angkringan kekinian yang menunya oke.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whuaa sayang..aku enggak tau Mba Uniek dekat daerah Lawang Sewu :D

      Hapus
  21. Saluut sekali untuk bu Wiwik dan suami yang sudah mencetuskan ide kampung ragam warna ini. Kampungnya jadi cakeep gitu, Mbak.

    BalasHapus
  22. Mba Ida terima kasih sudah mampir ke Kendal
    kampung ragam warna memang kampung yang penuh pesona ya Mba.
    kapan2 kemari lagi ya mba tahun depan.

    BalasHapus

Terima kasih telah mampir dan silakan tinggalkan jejak ^_^